Kementan Kukuhkan Empat Profesor Riset Baru

Dok. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Kementan)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Redaksi Sariagri - Senin, 21 Desember 2020 | 18:15 WIB

SariAgri - Kementerian pertanian (Kementan) kembali menambah jumlah profesor riset setelah dikukuhkannya empat profesor riset baru. Pengukuhan ini dilaksanakan secara virtual di Auditorium Puslitbang Perkebunan, Bogor Senin (21/12) dan dihadiri Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Keempat profesor riset kementan tersebut adalah Prof. (Riset). Dr. Ir. Erwidodo, Prof. (Riset) Dr. Ir. Sabran, Prof. (Riset) Dr. Ir. Mukhlis dan Prof. (Riset). Dr. Ir. Djayadi. Mereka merupakan profesor riset Kementan ke-147, 148, 149 dan 150.

Mentan mengatakan meski terkendala COVID-19, sektor pertanian masih bisa tumbuh 2,15 % pada triwulan III 2020, di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang mengalami kontraksi 3,49% pada periode yang sama.

“Namun demikian, sektor pertanian tetap dituntut untuk terus meningkatkan kinerjanya, terutama dalam menyediakan bahan pangan pokok.” ujarnya.

Untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan dan kesejahteraan petani, pemerintah sedang mengembangkan food estate di Kalimantan Tengah seluas 30 ribu hektare. Dengan skala yang berbeda program ini dikembangkan pula di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.

“Peneliti Badan Litbang Pertanian, termasuk profesor riset telah menunjukkan karya terbaiknya dalam mensukseskan program tersebut melalui dukungan inovasi teknologi, rancangan kelembagaan dan kebijakan yang tepat," lanjut Mentan.

Berita Pertanian - Baca Juga: Teknologi Pertanian Pintar Dikembangkan untuk Tekan Biaya Produksi
Teh Tambi dan Pagilaran, Varietas Unggul dari Balittri

Prof. Erwidodo dalam orasi berjudul "Reorfoentasi Arah dan strategi Menuju ketahanan pangan Berkemandirian dan Berdaya Saing di era pasar Global" mengatakan Indonesia kedepan akan menghadapi permintaan komoditas dan produk pangan berkualitas yang terus meningkat.

“Hal ini seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya pendapatan masyarakat, tumbuhnya industri pengolahan, serta industri perhotelan dan restoran," katanya.

Erwidodo menyimpulkan ketahanan pangan yang berkemandirian dan berdaya saing merupakan suatu keniscayaan bagi Indonesia. Agar tidak mengarah kepada kemandirian pangan ‘at all cost’, program peningkatan produksi pangan harus tetap mengacu pada prinsip keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif serta efiensi alokasi sumberdaya.

“Artinya Indonesia tidak perlu berkemandirian untuk semua komoditas pangan. Kemandirian menjadi keniscayaan untuk komoditas pangan pokok dan strategis yang mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif,” jelasnya.

Prof. Sabran menyampaikan orasi “Digitalisasi untuk Meningkatkan efisiensi dan efektivitas Pengelolaan Sumberdaya Genetik Tanaman” memformulasikan cara-cara untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumberdaya genetik tanaman.

“Digitalisasi dengan memberi pengidentifikasi pada aksesi sumberdaya genetik tanaman selain memadukan upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan juga memudahkan penelusuran aksesi yang sudah diakses pihak luar negeri dan dapat diterapkan pada varietas tanaman, sehingga asal-usul suatu varietas dapat ditelusuri dan pergerakan varietas tersebut dapat dipantau," jelasnya.

Sabran menambahkan keberhasilan digitalisasi untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas pengelolaan sumberdaya genetik tanaman memerlukan sinergi antar-pemangku kepentingan. Digitalisasi pengelolaan sumberdaya genetik tanaman juga berimplikasi pada keterbukaan akses terhadap sumberdaya genetik Indonesia oleh pihak luar negeri dan kemudahan akses peneliti dan organisasi di Indonesia terhadap sumberdaya genetik tanaman global.

“Karena itu diperlukan kebijakan terkait digitalisasi sistem pengelolaan sumberdaya genetik tanaman, seperti penyelesaian RUU Pengelolaan SDG, penetapan sumberdaya genetik atau spesies tanaman yang tersedia untuk diakses dan yang harus dilindungi untuk kepentingan nasional oleh Pemerintah sebagai dasar dalam perjanjian internasional. Serta dukungan pembiayaan yang proporsional untuk kegiatan konservasi dan perawatan bank sumberdaya genetik tanaman," kata Sabran.

Sementara Prof. Mukhlis dalam orasinya mengangkat tema “Inovasi teknologi pupuk Hayati Mendukung Pengembangan lahan rawa Sebagai Lumbung Pangan”. Mukhlis telah berhasil mengembangkan teknologi pupuk hayati adaptif tanah masam di lahan rawa.

“Selama ini, penggunaan pupuk di lahan rawa masih bertumpu pada pupuk anorganik. Kondisi lahan rawa yang masam menyebabkan efektivitas pupuk ini berkurang, sehingga penggunaannya cenderung boros," jelasnya.

Menurut dia, penggunaan pupuk hayati merupakan solusi bijak menuju pertanian berkelanjutan dan meminimalkan pencemaran lingkungan.

"Titik tumpu pengembangan formulasi pupuk hayati secara teknis adalah memanfaatkan mikroba potensial hasil eksplorasi dan seleksi di lahan rawa,” tambahnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan program food estate lahan rawa sebagai kawasan lumbung pangan yang sedang dikembangkan di Kalteng.

Prof. Djajadi menyampaikan orasi berjudul “Inovasi Teknologi budidaya Terpadu untuk Peningkatan Daya Saing dan Keberlanjutan Udaha Tani Tembakau”.

Dalam orasinya, Djajadi berhasil merumuskan gagasan baru untuk mengurangi impor tembakau dan meningkatkan daya saing tembakau dalam negeri.

“Dengan implementasi inovasi teknologi budidaya tembakau terpadu, maka daya saing, produktivitas dan mutu tembakau dalam negeri dapat ditingkatkan sehingga impor tembakau dapat diminimalkan dan usahatani tembakau dapat dijamin keberlanjutannya," ungkap Profesor Riset Kementan ke-150 ini.

Mentan SYL mengapresiasi gagasan keempat profesor baru ini. Menurut dia, konsep pemikiran yang dirumuskan selaras dengan upaya mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan modern.

“Saya mengharapkan kepada keempat profesor ini dan juga para peneliti lainnya untuk memberikan karya terbaiknya dan turut aktif berkontribusi pada perencanaan program dan kebijakan serta implementasi pembangunan pertanian di Indonesia,” lanjut Mentan.

Kepala balitbangtan Dr. Fadjry Djufry menjelaskan rasi profesor riset juga menjadi sarana mendorong para peneliti muda terus berkarya untuk mencapai jenjang fungsional peneliti tertinggi dan mendorong peneliti ahli utama untuk melakukan orasi sebagai profesor riset.

Baca Juga: Kementan Kukuhkan Empat Profesor Riset Baru
Strategi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian

“Orasi hari ini merupakan orasi yang kelima sesuai dengan petunjuk Peraturan lipi No. 15 Tahun 2018 dan merupakan orasi ke 44 diadakan Badan Litbang Pertanian sejak tahun 2006," jelas Fadjry.

Fadjry menambahkan dalam penyelenggaraan orasi ini Balitbangtan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.(Istihanah Soejoethi)

Berita Pertanian - Gadis Cantik Yang Bikin Haru

Video Terkait