Strategi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian

Puluhan hektar sawah di Ngawi terendam banjir (Sariagri/ Arief L)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Redaksi Sariagri - Kamis, 17 Desember 2020 | 09:00 WIB

SariAgri - Perubahan iklim dan emisi karbon terus menjadi perhatian dunia karena dampaknya pada berbagai sektor, salah satunya pertanian. Untuk meminimalisir dampak perubahan iklim, inovasi teknologi di bidang pertanian sangat diperlukan.

Sekretaris Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Haris Syahbudin menjelaskan tiga posisi sektor pertanian dalam perubahan iklim.

Pertama, sektor pertanian sebagai korban perubahan iklim. Kedua, sektor pertanian memiliki peluang dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Ketiga, sektor pertanian sebagai salah satu sumber emisi GRK seperti pemanfaatan pupuk, pengelolaan air, aktivitas peternakan dan lain-lain.

“Peluang pertanian dalam penurunan emisi gas rumah kaca masih tidak terlalu besar dilihat orang. Kita lebih fokus bagaimana menghindari pertanian dari korban perubahan iklim itu sendiri,” ujarnya saat dalam diskusi dengan tema Kementerian Pertanian Mendukung Pembangunan Rendah Karbon, Rabu (16/12/2020).

Berita Pertanian - Baca Juga: Teknologi Pertanian Pintar Dikembangkan untuk Tekan Biaya Produksi
Tren Tanaman Hias Janda Bolong Diprediksi Tak Akan Lama

Dampak perubahan iklim bersifat kontinyu, diskontinyu dan permanen. Dampak kontinyu antara lain kenaikan suhu udara, perubahan hujan, kenaikan salinitas air tanah, menurunkan produktivitas, mengubah pola tanam, dan indeks pertanaman.

Dampak diskontinyu antara lain meningkatnya gagal panen karena meningkatnya frekuensi dan intensitas iklim ekstrem serta ledakan hama/penyakit. Sedangkan dampak permanen di antaranya berkurangnya luas lahan pertanian di pesisir pantai akibat meningkatnya muka air laut.

“Dampak perubahan iklim terhadap tanaman sangat multiplier effect. Peningkatan suhu bisa mengakibatkan penurunan produktivitas, peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan sebagainya. Ini berdampak pada seluruh tanaman pangan, sayuran dan hortikultura serta peternakan,” terangnya.

Menurut Haris, strategi antisipasi dan teknologi adaptasi serta penyebarluasan informasi dan implementasi merupakan aspek kunci untuk meningkatkan produktivitas ramah lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim.

Dia mencontohkan pemetaan wilayah rawan, penggunaan varietas unggul tanah kekeringan, rendaman dan salinitas, penyesuaian waktu dan pola tanam, teknologi panen hujan, teknologi irigasi, pengembangan sistem informasi dan smart farming dan lain-lain.

Beberapa varietas padi adaptif perubahan iklim telah dihasilkan balitbangtan di antaranya padi toleran rendaman (Inpara 3, Inpara 4, Inpara 29 Rendaman, dan Inpara 30-Ciherang Sub1), padi toleran kekeringan (Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 38 Agritan dan Inpago 39 Agritan), serta padi sawah umur genjah tanah OPT (Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20).

Selain padi, Balitbangtan juga menghasilkan varietas jagung, kedelai, kentang, sayuran dan buah adaptif perubahan iklim. Balitbangtan juga mengembangkan sistem integrasi ternak tanaman pangan yang ramah lingkungan, teknologi smart farming 4.0, teknologi panen air, teknologi irigasi, pompa radiasi surya dan lain-lain.

Haris menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mendiseminasikan dan meningkatkan adopsi dari teknologi ramah lingkungan tersebut. Sementara para peneliti berperan mengawal diseminasi untuk mengenalkan teknologi terbaru yang dimiliki Kementerian Pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan strategi sektor pertanian dalam menjaga isu lingkungan melalui pendekatan rendah emisi karbon adalah bagaimana cara meningkatkan sekuestrasi (penangkapan dan penyimpanan) karbon sebesar-sebesarnya.

"Di saat yang sama kita harus meminimalisir atau menekan serendah-rendahnya emisi karbon. Untuk itu diperlukan implementasi inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian yang rendah emisi karbon," jelasnya.

Menurut Dedi, kata kunci untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sektor pertanian adalah peningkatan efisiensi sarana input seperti pupuk, irigasi dan lain-lain. Pemupukan misalnya, ada kalanya menghasilkan emisi nitrous oxide.

“Penggunaan pupuk harus ditingkatkan efisiensinya. Pemanfaatan mikroorganisme lokal dan bio fertilizer bisa meningkatkan efisiensi pemupukan baik pupuk organik maupun pupuk kompos. Strategi peningkatan efisiensi ini harus menjadi perhatian kita,” katanya.

Irfan Darliazi Yananto dari Direktorat Lingkungan Hidup, Kementerian PPN/Bapennas mengatakan Indonesia telah mengintegrasikan pembangunan rendah karbon dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Pembangunan Rendah Karbon merupakan kebijakan, rencana, program dan pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi rendah emisi gas rumah kaca sebagai bentuk upaya penanggulangan dampak perubahan iklim, perbaikan kualitas lingkungan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Irfan menerangkan isu perubahan iklim merupakan bagian dari isu pembangunan karena tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga sosial dan ekonomi.

Baca Juga: Strategi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian
Patut Dicontoh, Begini Konsep Pertanian Berkelanjutan Ala Petani AS

“Karena itu, kebijakan dan upaya untuk melindungi terkait dampak perubahan iklim terhadap manusia dan ekosistem perlu diintegrasikan di dalam perencanaan pembangunan nasional,” kata Irfan.

Dia menambahkan pembangunan rendah karbon dapat meminimalisir trade-off antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Melalui pembangunan rendah karbon, Indonesia harus membangun lebih baik ke arah masa depan yang berketahanan iklim dan berkelanjutan.(Istihanah Soejoethi)

Berita Pertanian - Kunci Sukses Urban Farming

Video Terkait