Melihat Bagaimana Pertanian Konservasi di Kenya Tingkatkan Produksi

Tanaman Jagung. (Foto: Unsplash)

Editor: Putri - Kamis, 30 Juni 2022 | 17:35 WIB

Sariagri - Mungkin masih banyak petani tradisional yang menanam tanaman pangan setiap musim tanpa memperhatikan keadaan tanah. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya produktivitas karena petani harus bergulat dengan dampak buruk dari perubahan iklim ditambah dengan tingginya biaya perawatan.

Namun para ahli pertanian di Kenya memperjuangkan pertanian konservasi untuk meningkatkan produksi dan memangkas biaya perawatan. Pertanian konservasi adalah aktivitas pertanian yang memperhatikan manfaat ekonomi, manfaat konservasi tanah dan air, serta pelestarian secara umum.

Praktek ini membantu untuk mempertahankan kelembaban di tanah serta memastikan hanya ada sedikit gangguan dan meningkatkan kesuburan.

Mengutip Business Daily, Kamis (30/6/2022), total luas lahan produksi jagung di Kenya sekitar 1,5 juta hektare, dengan produksi rata-rata tahunan diperkirakan mencapai tiga juta metrik ton, menurut data dari Kementerian Pertanian Kenya.

Namun karena masih menggunakan cara konvensional, produksi jagung terus menurun. Kenya terpaksa mengimpor jagung untuk menutup defisit guna memenuhi konsumsi lokal.

Hingga akhirnya seorang petani jagung dan gandum bernama Timothy Buisenei, melakukan pertanian konservasi. Hal tersebut ia lakukan setelah mengalami penurunan hasil panen.

“Sebelumnya, produksi mulai turun, tetapi ketika kami memulai pertanian konservasi, hasilnya meningkat,” kata Buisenei.

“Hasil jagung telah meningkat menjadi tiga ton per hektare atau setara dengan sekitar 30 karung jagung. Sebelumnya kami hanya mendapatkan 18 karung. Bahkan untuk gandum kami hampir tidak memanen 10 karung," tambahnya.

Saat ini, produksi gandum Buisenei antara 18 dan 20 karung per hektare. Pertanian konservasi pun perlahan mengubah nasib petani.

Metode konvensional biasanya menggunakan bajak tanah dan beberapa operasi saat bertani. Namun petani yang melakukan pertanian konservasi menggunakan mesin pengolah tanah khusus yang hanya melakukan operasi pada waktu tertentu.

“Selain itu, gangguan tanah atau pembakaran batang sangat minim. Hal ini meningkatkan aktivitas mikro-organisme di dalam tanah dan penumpukan bahan organik di dalam tanah yang menghasilkan penyerapan nutrisi yang lebih baik oleh tanaman,” kata seorang petani pertanian konservasi.

Di pertanian Komool di Kota Soy, Kenya, petani bernama Uasin Gishu mendapatkan hasil yang lebih baik setelah melakukan pertanian konservasi pada 2012. Pertanian tersebut menghasilkan rata-rata 40 kantong jagung per hektare dibandingkan sebelumnya yaitu hanya 20 kantong.

Dengan keadaan cuaca yang tidak menentu, tanaman yang dibudidayakan dengan pertanian konservasi dapat bertahan dari waktu yang panjang tanpa hujan.

Pakar buah Daniel Chebet, yang berbasis di Department of Seeds, Crops and Horticultural Science, University of Eldoret, mengatakan sudah waktunya untuk mengaplikasikan pertanian konservasi.

Baca Juga: Melihat Bagaimana Pertanian Konservasi di Kenya Tingkatkan Produksi
Pemuda Ini Ubah Gurun Jadi Area Pertanian Berkelanjutan Ramah Lingkungan

Selain meningkatkan hasil pertanian, efek buruk dari perubahan iklim dan meningkatnya biaya perawatan pertanian dapat diminimalisasi.

Pakar mencatat bahwa hasil panen telah menurun karena hilangnya nutrisi tanah dan pengerasan tanah yang disebabkan oleh praktik pertanian yang buruk karena mesin pembajak.

Video Terkait