Cegah Serangan Hama, Kementan Lakukan Gerdal Ramah Lingkungan

Ilustrasi penyemprotan pupuk kerap tidak efektif karena tidak menempel sempurna pada tanaman. (freepik.com)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 6 Juni 2022 | 17:35 WIB

Sariagri - Kementerian Pertanian (Kementan) tengah berupaya meningkatkan produksi pangan dengan berbagai program terobosan. Salah satunya dengan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) menggunakan agensia hayati ramah lingkungan.

Serangan OPT merupakan salah satu kendala yang secara langsung dapat mengancam produktivitas pertanaman. Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menjelaskan Kementan terus mendorong perkembangan pemanfaatan agensia hayati sebagai solusi pengendalian OPT yang ramah lingkungan yang juga bagian dari konsep pertanian secara berkelanjutan (sustainable agriculture).

Baca Juga: Cegah Serangan Hama, Kementan Lakukan Gerdal Ramah Lingkungan
Terapkan Pertanian Ramah Lingkungan, Indonesia dan Brunei Paparkan Strategi Pengendalian Hama Terpadu



Salah satu daerah yang sukses menerapkan konsep ini adalah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, telah mengembangan pertanian organik yang ramah lingkungan dengan inovasi dan petani dengan sendirinya telah mengembangkan agenda pengendali hayati.

“Saya mengapresiasi masyarakat Sragen. Sejak dahulu sekitar 15 tahun lalu sudah memulai pilot project pertanian organik dengan memanfaatkan kotoran hewan yang difermentasi menjadi pupuk kandang dan menyuburkan tanaman” demikian dikatakan Suwandi dalam Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani yang disiarkan live dari Sragen, bertajuk 'Menjaga Kesehatan Tanah dengan Agensia Hayati Sebagai Dukungan Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pertanian Berkelanjutan'", pada Senin (6/6/2022).

Suwandi menambahkan, Kementan secara masif mendorong penerapan konsep pertanian ramah lingkungan di seluruh Indonesia. Ia berharap, petugas pendamping (POPT dan penyuluh) bisa menerapkan hasil inovasi yakni agensia hayati ramah lingkungan dan berkelanjutan ke kelompok tani lainnya.

“Pertanian ke depan pada prinsipnya akan mengarah berbasis ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kurangi ketergantungan dengan bahan kimia. Alam sudah menyediakan bahan-bahannya, tinggal kita kelola, gunakan dan kembalikan lagi ke alam,” terang Suwandi.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi, menambahkan Agen Pengendali Hayati yang dihasilkan merupakan hasil dari eksplorasi di sekitar lahan pertaniannya. Sampel tanaman yang diambil dari akar tentunya yang sehat dan tidak adanya serangan OPT.

“Sampel ini kemudian dibawa ke laboratorium hama dan penyakit tumbuhan untuk dilakukan identifikasi mikroba yang ada pada tanaman tersebut. Setelah didapatkan mikrobanya, lalu diperbanyak sendiri oleh petani,” kata Takdir.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah sekaligus Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Tatag Prabawanto mengapresiasi dukungan penuh Kementan dalam upaya mengamankan dan meningkatkan produksi tanaman pangan. Ia berharap dengan adanya BTS Propaktani ini dapat menjadikan para petani di Sragen lebih aware terhadap lingkungan dengan menggunakan agen hayati sebagai pengendali hama.

“Pengendalian OPT bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat petani. Penggunaan pestisida sintetik dalam pengendalian OPT mempunyai risiko yang besar karena dapat menyebabkan resistensi, resurgensi, pencemaran lingkungan, musnahnya musuh alami, timbulnya residu pestisida dalam tanaman dan sebagainya. Penerapan agens hayati termasuk salah satu strategi pengendalian OPT ramah lingkungan yang potensial karena manfaatnya telah banyak dirasakan petani,” ungkapnya.

“Karena itu, kami pun berharap adanya pengendalian OPT secara ramah lingkungan ini dapat mendukung program IP 400 di tahun 2022 ini seluas 10.000 ha dan dapat dikembangkan tidak hanya untuk komoditas padi organik namun komoditas lain seperti jagung dan kedelai yang bisa memanfaatkan agensia hayati,” pinta Tatag

Guru Besar Unsoed, Loekas Soesanto, mengatakan keuntungan yang diperoleh jika melakukan pengendalian OPT dengan menggunakan agens hayati, antara lain tingkat keberhasilan tinggi, sedikit sekali yang diketahui berbahaya terhadap manusia dan lingkungan dan beberapa musuh alami bereproduksi dengan cepat. Keuntungan lainnya yakni beberapa musuh alami mempunyai daya cari yang tinggi serta belum ada data yang menunjukkan ada resistensi inang terhadap musuh alami.

“Pelepasan musuh alami akan efektif apabila ada ketepatan dalam identifikasi hama dan musuh alaminya, memahami biologi hama dan musuh alaminya, stadia dan spesies musuh alami yang dilepas sesuai serta tersedianya stadia OPT yang rentan dan populasi yang dapat dikendalikan oleh musuh alami,” paparnya Loekas.

Untuk diketahui, Kabupaten Sragen kurang lebih 15 tahun yang lalu melakukan proses penerapan bersifat organik yang dimulai pilot project seluas 2 ha sawah di Sumberejo dan hingga saat ini sudah berkembang hampir 235 ha dikembangkan padi organik.

Pada tahun 2022, Kabupaten Sragen mendapat program IP 400 10.000 ha. Dalam rangka mendukung program IP 400 ini Kementan bersama Dinas pertanian Kabupaten Sragen menyelenggarakan Bimtek Menjaga Kesehatan Tanah denga Agensia Hayati dengan memanfaatkan limbah urin sapi di Kelompok Tani Sumber Rejeki Desa Karanganyar, Kecamatan Pupuh.

Video Terkait