Gandum Toleran Lahan Bergaram Harapan Masa Depan Pasokan Pangan Global

Ilustrasi - Biji gandum. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 24 Mei 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Perubahan iklim menyebabkan naiknya muka air laut sehingga terjadi banjir rob di sejumlah daerah di bumi. Sekitar 8 persen dari total lahan pertanian dunia tidak lagi dapat digunakan untuk bercocok tanam karena terkontaminasi garam. Tanaman yang dapat mentolerir lahan bergaram merjadi harapan populasi manusia dalam penyediaan makanan. 

Peneliti di University of Gothenburg berhasil mengembangkan beberapa varietas gandum baru yang tahan terhadap tanah dengan konsentrasi garam tinggi.

Dengan mutasi varietas gandum dari Bangladesh, para peneliti memiliki gandum dengan biji tiga kali lipat lebih berat dan berkecambah hampir dua kali lebih cepat dari varietas aslinya.

Dalam risetnya, para peneliti mengembangkan sekitar 2.000 baris tanaman gandum terdiri dari 35 galur di lahan dengan salinitas tinggi. Hasilnya para peneliti mengidentifikasi adanya gen toleransi garam ada gandum.

"Kami mengembagkan galur gandum di mana berat rata-rata benih tiga kali lebih berat dan yang berkecambah lebih sering daripada gandum asli dari Bangladesh," kata Johanna Lethin dikutip phys.org.

"Sangat penting untuk mencoba mengembangkan varietas yang tahan garam dengan hasil yang baik. Saat ini, kami kehilangan sekitar 2.000 hektar per hari karena naiknya air laut, dan metode irigasi yang tidak tepat meningkatkan salinisasi tanah," katanya.

Para peneliti menyebutkan bahwa saat ini,  Di Mesir, Kenya, dan Argentina gandum tidak dapat ditanam di daerah yang luas. Sebab itu, tanaman gandum tahan garam akan menjadi bagian penting dalam pasokan makanan di masa depan karena gandum lebih sedikit membutuhkan air daripada padi.

Baca Juga: Gandum Toleran Lahan Bergaram Harapan Masa Depan Pasokan Pangan Global
Ilmuwan Cina Temukan Gen Baru Tingkatkan Hasil Produksi Gandum



"Tahap selanjutnya adalah menanam varietas tahan garam di ladang di Bangladesh. Saya memperkirakan akan memakan waktu sekitar lima tahun sebelum kita dapat memiliki produksi komersial gandum yang tahan garam, tergantung pada bagaimana uji lapangan berjalan," tulis peneliti.

Penelitian itu tidak menggunakan metode modifikasi gen atau (GMO). Para peneliti telah membuat mutasi yang ditargetkan pada benih menggunakan bahan kimia. Dengan cara tersebut, para peneliti mengatakan semua mutasi yang terjadi pada tanaman gandum berpotensi terjadi secara alami. 

Video Terkait