Perubahan Iklim Jadi Momok Pengembangan Pertanian di Kalbar

Panen padi di Kalimantan Barat (Kalbar). (Antara/Dedi)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 16 Mei 2022 | 19:30 WIB

Sariagri - Perubahan iklim jadi tantangan pengembangan pertanian di Kalimantan Barat (Kalbar). Tidak hanya Indonesia, perubahan iklim memang tengah menjadi tantangan serius bagi banyak negara di seluruh dunia.

"Tantangan terberat yang diperkirakan akan dihadapi dalam pengembangan pertanian terutama sub sektor tanaman pangan dan hortikultura di Kalbar 2022 adalah adaptasi terhadap perubahan iklim dan tantangan-tantangan cuaca ekstrim secara global," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Flotentinus Anum di Pontianak, Senin (16/5/2022).

Dia mengungkapkan masalah perubahan iklim juga menjadi alasan untuk menambah anggaran di Kementeriannya.

"Cuaca diperkirakan akan menjadi hambatan luar biasa pada produktivitas pertanian di Kalbar," katanya.

Dia menambahkan ketahanan pangan daerah berpeluang terpengaruh jika sistem pertanian di Kalbar tidak disiapkan dengan baik. Beberapa dampak perubahan iklim antara lain adalah cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kekeringan, gelombang panas, dan badai tropis.

"Kondisi di atas dapat mempengaruhi proses tanam dan hasil pertanian di Kalbar," katanya.

Menurut dia, kekeringan ekstrem dan curah hujan tinggi dapat berdampak buruk pada hilangnya produktivitas tanaman. Dampaknya mengganggu ketersediaan pangan dan mengancam ketahanan pangan.

"Secara sederhana, berkurangnya produksi akan mengakibatkan harga pangan menjadi lebih mahal. Kenaikan harga dapat berdampak pada akses, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan," jelasnya.

Dia mengatakan masa depan sistem pangan di Kallbar bergantung pada kemampuan daerah untuk beradaptasi dan menciptakan sistem pangan yang tangguh.

"Menciptakan sistem pangan yang tangguh untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim harus menjadi prioritas utama. Perdagangan terbuka atau open trade dapat menjadi solusi untuk beradaptasi dengan ancaman perubahan iklim yang sangat mungkin meningkat di masa depan," katanya.

Pihaknya telah membuat Frame Work (strategi kebijakan) melalui penerapan pembangunan pertanian dengan strategi intensifikasi terhadap tahapan proses produksi pertanian dari hulu sampai hilir berbasis klaster (kawasan sentra produksi) dengan penguatan kelembagaan tani serta melalui kemitraan yang mengawal peningkatan kualitas, kuantitas dan jenis komoditi berorientasi ekspor.

"Sasaran Prime Work ini adalah meningkatkan produksi padi dengan mendorong setiap kabupaten/kota di Kalbar untuk menerapkan tanam padi IP 400 atau empat kali tanam dalam setahyb terutama pada wilayah sentra produksi," jelasnya.

Baca Juga: Perubahan Iklim Jadi Momok Pengembangan Pertanian di Kalbar
Gawat! Produksi Pertanian Akan Tinggal Sepertiga Akibat Perubahan Iklim



Saat ini padi merupakan komoditas pangan utama di Kalbar. Padi di Kalbar ditanam di lahan sawah (Padi Sawah) dan di ladang/huma (Padi Gogo). Berdasarkan ATR/BPN No. 686/2019 Provinsi Kalbar memiliki luas baku sawah 242.972 hektare. Sawah tersebut berupa dari sawah irigasi, sawah tadah hujan, sawah pasang surut, sawah lebak, dan lainnya. Potensi sawah tersebut sudah dimanfaatkan seluruhnya untuk tanaman padi.

"Kalbar juga memiliki potensi lahan ladan seluas 298.495 hektare dan telah dimanfaatkan seluas 114.781 hektare atau 38,45 persen untuk tanaman padi. Sedangkan potensi lahan kering berupa Tegalan seluas 693.997 hektare dan sudah dimanfaatkan untuk tanaman jagung, serta aneka kacang dan umbi seluas 126.856 hektare atau 18,28 persen," pungkasnya.

Video Terkait