Sejarah dan Alasan Petani Indonesia Pilih Sistem Tabela untuk Menanam Padi

Ilustrasi menanam padi. (Foto: Wikimedia Commons)

Editor: Putri - Jumat, 13 Mei 2022 | 16:40 WIB

Sariagri - Di antara kita mungkin begitu mudah mendapatkan nasi. Nasi bisa ditemukan di mana-mana, baik sudah matang atau belum dimasak yaitu beras.

Banyak yang tidak tahu bahwa terdapat perjalanan panjang untuk menghasilkan beras atau lebih awalnya lagi, padi. Untuk mendapatkan padi, para petani menggunakan berbagai cara dalam menanam benih agar menghasilkan panen yang melimpah.

Salah satu cara yang digunakan petani Indonesia untuk menanam benih padi adalah dengan sistem tanah benih langsung (tabela). Tabela adalah sistem penanaman tanaman padi tanpa melalui persemaian dan pemindahan bibit.

Mengutip situs resmi Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Buleleng, sistem tabela pada dasarnya dibedakan atas dua cara, yaitu tanam benih langsung dalam larikan atau tanam benih langsung secara merata (broad cast) pada areal pertanaman.

Sejarah Sistem Tabela di Indonesia

Mengutip jurnal berjudul Determinan Adopsi Sistem Tanam Benih Langsung (Tabela) dalam Pengkajian SUTPA oleh Rachmat Hendayana dan Handewi P. Saliem, sistem tabela mulai diuji penerapannya di Indonesia pada 1984-1985 di beberapa provinsi seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Jawa Barat.

Sistem tabela dilakukan dalam skala percobaan dan dalam skala pengembangan diteliti di Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada musim hujan 1992-1993 dan musim kemarau 1993. Masing-masing seluas 11 hektare dan 16 hektare.

Menurut penelitian yang dilakukan peneliti di Norwegian Institute of Bioeconomy Research, sistem budidaya padi secara tabela mampu meningkatkan populasi tanaman padi di lahan dan optimalisasi penggunaan air serta lebih praktis dan efisien.

Penggunaan sistem tabela di daerah tadah hujan dapat mengurangi risiko iklim. Gas metana yang dihasilkan dari sistem tabela lebih rendah 16-33 persen dibandingkan praktik penanaman padi dengan bibit secara konvensional.

Selain itu, petani beralih ke sistem tabela karena dapat menghemat biaya tenaga kerja penanaman (transplanting bibit), biaya pengolahan lahan dan pengelolaan irigasi.

Sistem tanam tabela dapat menghasilkan beras lebih banyak. Penelitian mengungkapkan, di musim hujan, benih padi basah (sudah direndam) yang ditanam secara tabela menunjukkan peningkatan hasil beras sekitar 6,7-13,3 persen dibanding praktik penanaman padi secara tradisional menggunakan bibit.

Baca Juga: Sejarah dan Alasan Petani Indonesia Pilih Sistem Tabela untuk Menanam Padi
Lampung Ditargetkan Produksi Padi 3 Juta Ton

Sedangkan di musim kemarau, tabela menghasilkan beras lebih banyak 6,5–11,5 persen dibandingkan sistem tanam padi tradisional dengan bibit.

Akan tetapi sistem tabela juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu membutuhkan benih dalam jumlah yang lebih banyak
dibandingkan dengan sistem tanam pindah. Selain itu membutuhkan pengolahan tanah yang lebih sempurna serta membutuhkan pengelolaan gulma yang lebih baik.

Video Terkait