Ini Alasan Bangsa Eropa Mencari Rempah-rempah di Indonesia

Ilustrasi Bangsa Eropa (Istimewa)

Penulis: Triana, Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 6 Mei 2022 | 06:30 WIB

Sariagri - Salah satu hal yang melatarbelakangi bangsa Eropa ramai-ramai datang ke Indonesia adalah rempah-rempah. Pada waktu itu bangsa Eropa datang ke Nusantara dalam misi penjelajahan untuk menemukan dunia baru.

Adapun bangsa Barat atau Eropa yang datang ke Indonesia yaitu Portugis, Spanyol, dan Belanda. Saat itu, rempah-rempah menjadi komoditas yang berharga dan paling dicari oleh bangsa Eropa. Bahkan, seperti yang sudah sejarah katakan, jika harga rempah-rempah bisa melebihi harga logam mulia.

Bangsa-bangsa ini datang dengan latar belakang tertentu, hingga dapat menyebabkan penjajahan. Awalnya mereka datang dengan membawa misi yang disebut 3G yaitu Gold, Glory, Gospel.

Lantas, apa yang membuat bangsa Eropa mencari rempah-rempah di wilayah Nusantara?

Kondisi alam yang beriklim tropis di Indonesia membuat hampir semua tanaman dapat tumbuh subur, termasuk juga tumbuhan rempah. Sedangkan alam yang berada di wilayah Eropa cenderung dingin yang membuat beberapa tanaman tidak dapat tumbuh.

Hal itulah yang membuat bangsa barat berdatangan setelah mengetahui di Indonesia kaya akan rempah. Padahal saat itu kebutuhan akan rempah terus bertambah, sementara persedian rempah di negara-negara Eropa terbatas.

Dengan mengetahui kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, hasrat mereka untuk memiliki lebih jadi muncul, sehingga ada keinginan bangsa Eropa menguasai wilayah Nusantara. Maka dari itu, terjadilah penjajahan yang merugikan bangsa Indonesia selama ratusan tahun.

Selain bertujuan untuk menguasai kekayaan alam Indonesia, bangsa-bangsa Eropa datang dengan motivasi Imperialisme Kuno. Imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan lebih besar.

Imperialisme dilakukan bangsa Barat terhadap bangsa lain untuk mendapatkan keuntungan berupa rempah dan wilayah, pada masa penjajahan.

Imperialisme ini mempunyai dua bentuk yang berbeda, yaitu secara kuno dan modern. Imperialisme kuno (ancient imperialism) adalah imperialisme yang berkembang pada masa sebelum Revolusi Industri dengan semboyan 3G.

3G yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold berarti kekayaan, glory berarti kejayaan, dan gospel berarti penyebaran agama.

Semboyan Gold mendorong mereka memburu kekayaan berupa emas, perak, dan bahan tambang lain yang berharga. Sebab, menurut paham ini, suatu negara dikatakan makmur apabila mempunyai emas yang melimpah.

Semboyan Glory berarti kejayaan, yang meyakini kejayaan sebuah bangsa dilihat dari banyaknya wilayah koloni yang dimiliki. Kondisi ini mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk memiliki daerah kekuasaan yang luas.

Penjelajahan bangsa Eropa ke Timur juga membawa misi suci dari gereja, yaitu Gospel. Semangat gospel, semangat bangsa barat menduduki indonesia adalah untuk menyebarkan ajaran injil.

Setiap kapal yang melakukan penjelajahan samudra selalu diikuti kelompok misionaris, yang menganggap menyebarkan ajaran injil merupakan panggilan hidup dan tugas mulia.

Mereka kemudian memanfaatkan daerah koloni sebagai tempat menjalankan misi tersebut.

Contoh imperialisme kuno di Indonesia yaitu ketika kedatangan bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda untuk mendapatkan rempah-rempah di Indonesia. Indonesia pada masa itu dianggap sebagai tanah jajahan, yang fungsinya untuk dikeruk keuntungannya.

Baca Juga: Ini Alasan Bangsa Eropa Mencari Rempah-rempah di Indonesia
Jokowi Hentikan Ekspor Minyak Goreng, Negeri Bollywood 'Bergoyang'

Sedangkan, imperialisme modern (modern imperialism) adalah imperialisme yang berkembang pada masa setelah Revolusi Industri. Tujuan dari imperialisme modern yaitu memperoleh kemajuan ekonomi setelah berlangsungnya Revolusi Industri.

Contoh imperialisme modern di Indonesia yaitu setelah tahun 1870, pasca kebijakan Politik Pintu Terbuka. Politik Pintu Terbuka memberikan hak kepada kaum pribumi untuk memiliki dan menyewakan tanah kepada pengusaha swasta.

Video Terkait