Kisah Pemuda Sukabumi Usaha Melon Hidroponik Hingga Agroeduwisata

Petani hidroponik, Teguh Gumilang. ([email protected])

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 20 April 2022 | 17:10 WIB

Sariagri - Usaha Hidroponik memang menggiurkan, terlebih harga jual produk yang lebih tinggi di pasaran. Teguh Gumilang mulai tertarik mengembangkan usaha hidroponik pada tahun 2017. Dengan sistem drip irrigation (irigasi tetes), di dalam greenhouse, dia menanam sekitar 1.000 tanaman melon per musim tanam.

"Awalnya saya tertarik hidroponik dari senior saya seorang arsitektur, dari sana saya belajar dan tahun 2017 mulai coba buka usaha sendiri," kata Teguh kepada Sariagri.id.

Dia pernah menanam berbagai jenis melon, tetapi saat ini jenis rock melon yang siap dipanen di kebunnya di Sukabumi, Jawa Barat.

Satu kali musim tanam, kebun melon hidroponik milik Teguh bisa menghasilkan hingga 2 ton. Sebagian besar buah melon yang dipanen sudah dipesan melalui kontrak dengan offtaker.

"Saya sudah ada kontrak dengan offtaker terkait pemasaran buah melon ini," ungkapnya.

Bersama rekannya, Teguh berkolaborasi membuat bisnis sampingan berupa agroeduwisata melon hidroponik di kebunnya yang diberinama Hasil Tani Indonesia.

"Agroeduwisata ini jadi bisnis sampingan kami. Selama ini kan kebanyakan orang panen lalu selesai, saya manfaatkan untuk membuka edu wisata di hidroponik di sini," jelasnya.

Per kilogram melon dijual dengan harga Rp23.000 - Rp24.000 ke offtaker. Sementara untuk kebutuhan agroeduwisata, melon dijual dengan harga lebih tinggi.

Teguh mengaku dalam satu kali musim panen bisa mengantongi omzet Rp40 juta - Rp50 juta. Sementara dalam setahun dia bisa menanam hingga empat kali.

Tak cukup hanya budidaya dan agroeduwisata, pada tahun 2018 Teguh membuat jasa pelatihan hidroponik hingga sekarang yang dinamai Akademi Hidroponik serta jasa konsultan budidaya dan instalasi hidroponik dengan nama Teguh Gumilang Indonesian Farmer (TGIF).

Teguh mengaku, jasa pelatihan di kebunnya tidak hanya diminati peminat hidroponik dari dalam negeri, tetapi juga beberapa dari luar negeri. Mereka sengaja datang ke kebunnya untuk mengikuti pelatihan hidroponik.

"Sebelum pandemi ada yang dari luar negeri sengaja datang ke sini untuk ikut pelatihan," katanya.

Baca Juga: Kisah Pemuda Sukabumi Usaha Melon Hidroponik Hingga Agroeduwisata
Kisah Milenial Kelola Hidroponik Melon, Omset Sebulan Capai Rp100 Juta!



Teguh meyakinkan usaha sektor pertanian masih berpotensi besar selama manusia membutuhkan makanan.

"Selama manusia masih butuh makan, sektor pertanian itu nggak akan pernah mati. Itulah mengapa saya mau bertahan di usaha sektor ini. Jangan pernah takut untuk berkarya di pertanian. Dengan menanam kita sudah bisa bersedekah, jadi petani harus bangga," pungkasnya.

 

Video Terkait