Gulma Menjadi Faktor Terbesar Atas Kehilangan Hasil Panen Kedelai

Ilustrasi - Komiditas kedelai. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 13 April 2022 | 13:20 WIB

Sariagri - Penelitian terbaru mengungkapkan gulma menjadi faktor terbesar atas kehilangan hasil panen kedelai sehingga petani perlu melakukan pengendalian gulma secara sempurna di tengah perubahan iklim. Riset dilakukan ilmuwan University of Illinois dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). 

Dalam risetnya, para ilmuwan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya hasil kedelai. Penelitian ini menggunakan data evaluasi herbisida selama 26 tahun terakhir yang mencakup ratusan lingkungan cuaca di Illinois.

Hasil analisis menemukan pengendalian gulma yang tidak memadai (kurang dari 75 persen) di akhir musim menyebabkan kehilangan hasil kedelai hingga 41 persen. Selain itu, ketika kondisi tanah kekeringan dan cuaca panas melanda akibat perubahan iklim, pengendalian gulma tingkat tinggi hingga 93 persen tidak dapat mencegah kehilangan hasil kedelai secara signifikan.

"Anda memerlukan pengendalian gulma yang hampir sempurna untuk menghindari kehilangan hasil dalam kondisi panas dan kering. Tapi sayangnya, kami menemukan banyak gulma yang lolos pengendalian di pertanaman kedelai," ujar Ahli Ekologi USDA, Marty Williams.

Pengendalian gulma 100 persen secara kimia dinilai sulit ditingkatkan frekuensinya. Perubahan iklim menyebabkan ancaman resistensi herbisida pada spesies gulma utama kedelai seperti rumput air, gulma bayam palmer dan lainnya semakin menjadi-jadi.

"Kita harus membawa populasi gulma menuju angka nol, tetapi kita harus berpikir untuk tidak melakukannya hanya secara kimia. Kita tidak akan dibanjiri pasar herbisida dengan bahan aktif baru sebab masalah resistensi akan terus meningkat dan itu tidak akan hilang," jelas Aaron Hager, peneliti lainnya.

Hasil penelitian juga menemukan efek gabungan pengendalian gulma tidak sempurna. Cuaca panas dan kekeringan memberatkan proses pengisian biji polong kedelai.

"Tahap pengisian polong kedelai yang sensitif beresiko besar pada kondisi kering. Ditambah lagi, gulma tertentu yang justru tumbuh subur dalam kondisi tersebut," kata Williams.

Karena itu, para peneliti menyimpulkan petani kedelai perlu mencapai tingkat pengendalian gulma tertinggi sepanjang musim tanam kedelai. Tapi, tidak hanya menggunakan herbisida.

"Kita perlu memikirkan teknologi lain, opsi non-herbisida, yang dapat membantu kita mencoba mempertahankan tingkat pengendalian yang tinggi dengan gulma yang resisten," kata Hager.

Baca Juga: Gulma Menjadi Faktor Terbesar Atas Kehilangan Hasil Panen Kedelai
Miliki Ide Gila! Petani Ini Gunakan Tikus Belanda untuk Kendalikan Gulma



Williams mencatat petani hampir tidak mampu menanggung kehilangan hasil, terutama saat ini karena petani menghadapi biaya input yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kami perlu mendiversifikasi cara kami mengelola gulma, terutama dengan melonjaknya harga herbisida dan fakta bahwa herbisida tidak lagi efektif pada beberapa spesies. Kami akan beradaptasi atau teradaptasi," katanya dikutip phys.org.

 

Video Terkait