Suara Hati Petani Harapkan Harga Pembelian Bulog Dapat Bersaing

Ilustrasi petani padi. (Foto Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 29 Maret 2022 | 11:30 WIB

Sariagri - Petani di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan berharap harga pembelian Perum Bulog dapat bersaing dengan harga pasar, sehingga penyerapannya lebih besar untuk mendukung stok nasional.

"Kalau harga pembelian Bulog bisa bersaing dengan harga pasar, tentu petani lebih memilih menjual ke Bulog daripada pedagang pengumpul," kata Ketua Kelompok Tani Sama Turu H Basri di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulsel, Senin (29/3/2022).

Ia mengatakan, petani pada masa panen memiliki harapan besar agar harga produksinya tidak jatuh, sehingga semua biaya produksi tertutupi, apalagi di musim panen dalam kondisi yang diselingi hujan.

Menurutnya, rata-rata petani sudah menggunakan mobil pemanen padi yang kecepatan memanennya jauh lebih cepat dibandingkan menggunakan tenaga manusia.

"Biaya untuk penggunaan mobil pemanen itu, bisa dalam bentuk pembayaran tunai, juga dalam bentuk bagi hasil dari jumlah gabah yang dihasilkan. Semua itu tergantung kesepakatan kedua belah pihak," katanya.

Sebagai gambaran, bagi petani yang tidak memiliki uang untuk membayar, dapat melakukan bagi hasil dari gabahnya, misalnya untuk 10 karung gabah, maka satu atau dua karung diantaranya menjadi pembayaran jasa pada si pemilik mobil panen.

Suara Hati Petani Harapkan Harga Penyerapan Bulog Cukup Baik

Sementara itu, petani lainnya di Kabupaten Pangkep H Baharuddin di Kecamatan Minasa Te'ne mengatakan, produksi petani tidak perlu diantarpulaukan jika harga penyerapan dari Bulog cukup baik

Baca Juga: Suara Hati Petani Harapkan Harga Pembelian Bulog Dapat Bersaing
Lahan Pertanian Rusak Terdampak Limbah TPA, Petani Gelar Demo

Sekadar informasi, BPS mencatat selama Januari 2021, rata-rata harga GKP di tingkat petani sebesar Rp4.921 per kg atau naik 3,03 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.026 per kg atau naik 3,10 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya.

Harga tersebut jauh dibawa harga pembelian pihak swasta, sehingga petani lebih cenderung menjual ke pihak swasta yang notabene sebagian besar mengantarpulaukan beras.

Video Terkait