Begini Cara Membuat Pupuk Alami Tabulampot dari Air Limbah Lele

Ilustrasi tabulampot (tanaman buah dalam pot)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 23 Maret 2022 | 18:00 WIB

Sariagri - Tanaman buah dalam pot atau tabulampot makin jadi tren sejak pandemi. Banyak orang dipaksa di rumah sehingga menyalurkan waktunya untuk budidaya tanaman buah di lahan terbatas, yakni di dalam pot.

Nyatanya, budidaya tambulampot memiliki banyak benefit secara bisnis yaitu keuntungan lebih besar, tingkat keberhasilan tinggi, dapat berbuah di luar musim, mudah dipindah, dan dapat dikembangkan di berbagai lahan.

Dengan pasar tabulampot yang makin besar, empat mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan pupuk yang terbuat dari bahan alami limbah air budidaya ikan lele sistem bioflok dan kotoran ayam sehingga ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek negatif jangka panjang bagi tanaman.

Pupuk organik ini berbentuk cair dan berfungsi untuk memacu pertumbuhan tanaman khususnya tabulampot. Penelitian ini didukung penuh oleh dana Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan.

Kelompok mahasiswa UNY ini adalah Irfan Aldi Fitrian, Annisa Kusumawati, Ahmad Sauki Al Zamani dan Shibghotulloh Umar Rosyadi. Menurut Irfan Aldi Fitrian budidaya ikan lele sistem bioflok merupakan usaha budidaya ikan lele dengan padat tebar tinggi, penggunaan jumlah pakan yang tinggi, penambahan aerase dan penggantian air secara berkala dalam jumlah besar sehingga menghasilkan air limbah yang besar pula.

Air limbah budidaya lele sistem bioflok di dalamnya berupa akumulasi residu organik yang berasal dari sisa pakan, kotoran lele, partikel-partikel pakan serta bakteri dan alga.

“Air limbah budidaya lele sistem intensif dapat diolah menjadi pupuk organik khususnya pupuk organik cair” kata Irfan Aldi Fitrian, di Yogyakarta, Rabu (23/3/2022).  

Sayangnya potensi air limbah budidaya lele tersebut belum dimanfaatkan secara optimal bahkan sering dijumpai pembudidaya lele masih membuang begitu saja air limbah tersebut di sekitar pemukiman. Padahal, air hasil budidaya sistem bioflok mengandung banyak bahan organik khususnya kandungan nitrogen yang tinggi.

“Kandungan nitrogen yang terdapat pada air budidaya ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pada tanaman. Inilah yang kita ingin manfaatkan, barang sisa menjadi barang bernilai tinggi,” katanya.  

Sama seperti limbah biofolk Lele, Annisa Kusumawati menambahkan kotoran ayam juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman karena mengandung unsur nitrogen yang cukup tinggi, diikuti dengan kalium serta fosfor.

“Jika dibandingkan dengan pupuk kandang lainnya, pupuk kompos dari kotoran ayam mempunyai kandungan hara yang tertinggi” kata Annisa.

Hal tersebut dikarenakan bagian cair dan bagian padat dari feses ayam tercampur jadi satu dimana unsur nitrogennya tiga kali lipat lebih banyak dari jenis pupuk lain.

Ahmad Sauki Al Zamani menjelaskan, langkah awal pembuatan pupuk dimulai dengan menebar bibit lele ke dalam kolam bioflok yang sudah disiapkan. Tidak lupa perawatannya mulai dari pemberian pakan, kualitas air dan pencegahan penyakit pada bibit lele.

Baca Juga: Begini Cara Membuat Pupuk Alami Tabulampot dari Air Limbah Lele
Keren, Warga di Desa Ini Kompak Buat Pupuk Kompos dari Limbah Rumah Tangga

Pada saat air lele mulai memasuki 2 minggu, perlu adanya pergantian air, tetapi air tersebut tidak dibuang, tapi ditampung ke dalam drigen yang sudah disiapkan, kemudian masukan kotoran ayam kering lalu ditambahkan EM4 pertanian dan tetes tebu secukupnya dan difermentasi selama 2-3 minggu. Pembuatan produk dilakukan dua kali, yakni pada minggu kedua dan keempat setelah penyebaran bibit lele.

Pupuk ditempatkan dalam botol dan siap dipasarkan. Kadar hara yang terkandung di dalam pupuk organik cair dari air limbah budidaya lele sistem intensif berkisar 0,06-0,62 % (Corganik), 0,49-1,32 % (Nitrogen), 06- 0,35% (Phosfat), 0,22-4,97 % (kalium) dengan pH 5,67-8,00.

Video Terkait