Pak Tomo, Pensiunan yang Mengubah Lahan Terbengkalai di Sudut Bangunan Megah Jadi Kebun Organik

Sutomo pensiunan yang menghabiskan waktunya untuk berkebun organik. (Sariagri/Dwi Rachmawati)

Penulis: Tatang Adhiwidharta, Editor: Reza P - Jumat, 18 Februari 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Sutomo (69 tahun), usianya mungkin sudah menginjak 3/4 abad, tapi semangatnya untuk berkreasi justru semakin membara. Sudah setahun belakangan, Tomo panggilan akrabnya berhasil menyulap lahan terbengkalai di sudut bangunan mewah, kawasan Rumah Susun Samawa, Pondok Kelapa menjadi kebun organik.

Beragam komoditas pertanian mulai dari jagung, terong ungu, terong putih, kangkung, singkong, caisim, pakcoy, gambas, labu kemangi, dan pepaya tumbuh subur di lahan yang tak lebih dari 200 meter persegi itu. Tak ketinggalan, tanaman rempah dan herbal pun juga ia tanam di sudut kebun seperti jahe merah, kunyit, kencur, kunci, kunyit putih, kumis kucing, telang, lengkuas hingga temulawak.

Tomo bercerita, awal mula dia berkebun karena melihat sepetak lahan yang tidak terurus. Selain itu karena pandemi Covid-19 membuatnya jenuh berada di ruang apartemen mendorongnya untuk bercocok tanam di petak lahan tersebut.

"Saya lihat lahan kosong itu jadi tertarik, karena jiwa petani saya muncul," ungkap Tomo kepada Sariagri.

Lahir di Tuban, Jawa Timur, Tomo semasa muda sudah merantau ke Ibu Kota memang bukan bekerja sebagai petani. Tapi, kata dia, ingatan masa kecilnya akan kegiatan bertani di desanya telah mendorong dia untuk bercocok tanam di sepetak lahan dekat rumah susun tempat Ia tinggal bersama anak dan cucu-cucunya.

"Tujuan awal saya berkebun itu adalah untuk dikonsumsi saja bukan dikomersilkan. Saya juga punya cucu, waktu Covid-19 mereka butuh ruang terbuka hijau untuk bermain dan menyegarkan pikiran. Makanya saya bersihkan lahan ini yang dulu terbengkalai, saya tanami hingga jadi kebun dan mereka senang bermain di sini," kata Tomo.

Pak Tomo berkebun di usia senja. (Sariagri/Dwi Rachmawati)
Pak Tomo berkebun di usia senja. (Sariagri/Dwi Rachmawati)

Menjadi seorang pensiunan, Tomo mengaku tidak bisa diam tanpa aktivitas sehari-hari. "Saya ini orangnya aktif, kalau diam saya malah stres. Tapi kalau saya bergerak justru muncul inovasi dan ide untuk berkreasi," jelasnya.

Selain itu, Tomo mengaku sangat senang jika kebun organiknya itu bisa menyenangkan orang lain saat mengunjunginya.

"Saya tidak digaji di sini, menjual pun tidak, mereka datang ke sini senang melihat tempatnya adem saja saya juga sudah ikut senang," ungkapnya.

Untuk pemupukan, meski sulit mendapat pupuk kandang, Tomo mengakalinya dengan pupuk kompos dari sisa-sisa tanaman di kebun dan memanfaatkan limbah ikan di kolam yang dikelola Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Samawa Fish. Tomo mengaku, bersama anggota Samawa Fish, dia sering kali dibantu untuk merawat kebun organik tersebut.

Baca Juga: Pak Tomo, Pensiunan yang Mengubah Lahan Terbengkalai di Sudut Bangunan Megah Jadi Kebun Organik
92 Persen Warga Sudah Bertani, Ini Perjalanan Urban Farming di Jakarta



Tapi, Tomo pun mengaku kesulitan untuk mendapatkan bibit dan benih tanaman pangan dan hortikultura. Selain itu, Tomo juga khawatir jika suatu saat lahan yang selama ini jadi tempat ia mengkreasikan ide lewat bertani akan tergusur oleh pembangunan.

"Harapan saya, kalau memang dikasih umur panjang inginnya tetap kreatif dan berkebun di sini. Saya senang melakukan beragam ide bertani dan budidaya ikan bersama anggota Samawa Fish. Berharap lahan ini bisa tetap dipertahankan menjadi ruang hijau bagi warga di sini," tuntas Tomo. 

Video Terkait