Ogah Gengsi, Pemuda Ini Mengaku Bangga Jadi Petani Sayuran di Desa

Ahmad Rifai, petani milenial asal Cianjur, Jawa Barat. (Sariagri/Dwi Rahmawati)

Editor: Dera - Rabu, 16 Februari 2022 | 17:05 WIB

Sariagri - Saat generasi muda di desa mulai gengsi meneruskan profesi orang tuanya sebagai seorang petani, Ahmad Rifai (28) justru bangga menjadi petani muda di kampungnya.

Pemuda asal Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mengaku sangat senang mencari nafkah dengan bertani sayuran. Menurut Rifai, sejak kecil dia sudah dilatih bertani oleh orang tuanya yang juga merupakan petani, hingga pada usia 23 tahun Rifai memutuskan untuk bertani secara mandiri.

"Dari kecil saya sudah diajak bertani sama orang tua, tapi baru lima tahun belakangan ini saya menggarap lahan sendiri," kata Rifai kepada Sariagri.

Rifai bercerita, di kampungnya banyak anak muda usia produktif yang menganggur. Alih-alih bertani untuk mencari pemasukan, kata Rifai, kebanyakan dari mereka justru hanya menghabiskan waktu untuk bermain.

"Di kampung sebenarnya banyak anak muda yang nganggur, tapi mereka gengsi katanya kalo bertani," ungkap Rifai.

Hal yang membuat Rifai lebih pilih bertani daripada bekerja sebagai karyawan atau buruh pabrik adalah rasa merdeka dalam mencari nafkah.

"Dengan bertani, kita punya rasa kebebasan dalam bekerja, selain itu rasanya sejuk di kebun dan pikiran tenang dibandingkan kerja di pabrik di bawah perintah orang menurut saya itu penuh tekanan," jelasnya.

Tidak peduli dengan omongan miring anak muda di desanya tentang menjadi petani, Rifai tetap optimistis jika bertani adalah sumber kebahagian dalam bekerja dan menjadi produktif. Saat ini, Rifai tengah menggarap 1.000 meter persegi lahan pakcoy. Selain itu, Rifai juga menanam tomat dan cabai di lahan garapannya yang lain seluas 2.000 meter.

"Jadi pakcoy ini untuk jangka pendek, bisa menghasilkan cepat. Kalau dari cabai dan tomat itu untuk pendapatan jangka panjang," sebutnya.

Satu kilogram pakcoy rata-rata dihargai sekitar Rp2.000 per kilogram, dan saat ini Rifai masih pasarkan sebagian besar hasil panennya ke tengkulak.

Baca Juga: Ogah Gengsi, Pemuda Ini Mengaku Bangga Jadi Petani Sayuran di Desa
Pemuda Sukabumi Ini Rela Keluar dari Perusahaan BUMN Demi Fokus Jadi Petani

"Sekarang sih masih dipasarkan ke tengkulak dan pasar, beberapa yang bagus dipasarkan ke supermarket," ungkap Rifai.

Rifai menambahkan, saat ini dirinya juga tengah bergabung dengan kelompok tani milenial. Program petani milenial dari Pemerintah, kata Rifai sangat membantunya untuk meningkatkan kapasitas dia memproduksi tanaman yang bernilai lebih tinggi dan mengajarinya agar produk petani bisa masuk ke pasar ekspor.

"Dengan bergabung ke kelompok dan mengikuti program petani milenial di sini, saya dapat banyak pelatihan tentang budidaya yang baik untuk menghasilkan produk dengan kualitas baik. Sekarang juga sedang belajar supaya bisa ekspor ke luar negeri," pungkas Rifai.

Video Terkait