Studi Ungkap Ketahanan Pangan di Asia Terancam Perubahan Iklim

Ilustrasi - Dampak perubahan iklim.(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 8 Februari 2022 | 17:15 WIB

Sariagri - Perubahan iklim telah membawa dampak bagi pertanian di Cina dan kawasan Asia Timur. Hasil penelitian yang diterbitkan Nature Food, Desember 2021 menunjukkan perubahan iklim berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan substansial hama dan penyakit tanaman di Cina pada rentang 1970-2016.

Dengan menganalisis kumpulan data yang sebelumnya tidak dipublikasikan selama 46 tahun itu, tim peneliti menemukan peningkatan jumlah hama dan penyakit tanaman hingga empat kali lipat sejak 1970. Mereka juga menyimpulkan perubahan iklim berkontribusi secara langsung 22 persen terhadap peningkatan itu.

Para ilmuwan meramalkan perubahan iklim dapat menyebabkan lebih dari 240 persen peningkatan hama dan penyakit tanaman di Cina pada akhir abad ini.

“Memahami perubahan hama dan penyakit tanaman menjadi hal mendesak dalam mempertahankan ketahanan pangan,” tulis para ilmuwan dalam penelitian itu.

Dampak potensial dari peningkatan hama dan penyakit perlu diantsipasi karena Cina memproduksi 20 persen beras, biji-bijian dan jagung dunia. 

Faktor lain yang berkontribusi terhadap pertumbuhan hama tanaman, termasuk mengembalikan jerami ke ladang.

Meski membantu kesehatan tanah secara keseluruhan tetapi juga memungkinkan berkontribusi pada peningkatan jumlah hama dan penyakit. Studi ini mampu menganalisis data di setiap provinsi di Cina selama beberapa dekade.

“Studi kami menunjukkan perubahan iklim mempengaruhi terjadinya hama dan penyakit tanaman di Cina, yang mengancam produksi pangan dan ketahanan pangan global. Ini juga menantang sistem perlindungan tanaman yang ada dan produktivitas secara keseluruhan,” ujar Christoph Müller, seorang penulis studi dan ilmuwan di Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim di Jerman

Para ilmuwan menunjuk suhu malam yang lebih hangat sebagai salah satu dampak perubahan iklim. Mereka berkesimpulan, itu terjadi karena adanya korelasi antara kejadian hama dan penyakit tanaman dengan prevalensi embun beku. Saat suhu malam hari meningkat secara konsisten, jumlah hari-hari beku berkurang sehingga menciptakan lingkungan yang mengancam hasil panen

"Mengingat jangkauan global dari banyak hama yang dipertimbangkan, hasil (penelitian) kami dapat mewakili lingkungan subtropis dan beriklim sedang di seluruh dunia,” tulis tim peneliti.

Para peneliti meyakini, tren itu tidak akan berbalik dalam jangka pendek. NASA memperkirakan 2021 sebagai tahun terpanas keenam dalam catatan dan merupakan bagian dari tren terpanas dalam delapan tahun terakhir sejak pencatatan dimulai pada 1880.

“Ilmu pengetahuan tidak meninggalkan ruang untuk keraguan: Perubahan iklim adalah ancaman eksistensial di zaman kita,” kata Bill Nelson, administrator NASA, dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Studi Ungkap Ketahanan Pangan di Asia Terancam Perubahan Iklim
Tanggap Iklim Penting dalam Budidaya Hortikultura yang Adaptif



“Penelitian ilmiah NASA tentang bagaimana bumi berubah dan menjadi lebih hangat akan memandu masyarakat di seluruh dunia, membantu umat manusia menghadapi iklim dan mengurangi dampak buruknya,” katanya seperti dilansir Asia One, baru-baru ini.

Sebuah studi terpisah yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters pada 18 Januari tahun ini menunjukkan Asia Timur akan rentan terhadap “sungai-sungai di langit”, yang dapat menyebabkan lebih sering turun curah hujan ekstrem di wilayah itu, khususnya di timur laut Cina, pegunungan Alpen Jepang, Semenanjung Korea dan Taiwan. Studi itu memprediksi curah hujan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Temuan kami kemungkinan juga berlaku untuk wilayah lain dari garis lintang tengah di mana interaksi antara sungai dan pegunungan curam memainkan peran utama dalam curah hujan, seperti di Amerika Utara bagian barat dan Eropa. Wilayah-wilayah ini juga mungkin mengalami peristiwa curah hujan ekstrem yang lebih sering dan intens saat iklim menghangat,” Yoichi Kamae, penulis studi dan profesor di Universitas Tsubuka di Jepang. 

Video: