Irigasi Sawah Rusak Akibat Penambangan, Ratusan Petani 4 Desa di Probolinggo Turun Unjuk Rasa

Ratusan petani dari empat desa di Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menggelar aksi unjuk rasa akibat penambangan yang merusak irigasi. (Foto Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Jumat, 28 Januari 2022 | 18:10 WIB

Sariagri - Ratusan petani dari empat desa di Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menggelar aksi unjuk rasa ke areal penambangan pasir batu (Sirtu) atau galian C di tepi Sungai Pancar Glagas. Para petani ini memprotes kegiatan tambang sirtu yang berpotensi mengancam kerusakan lingkungan dan berdampak negatif bagi pertanian.

Sambil melakukan longmarch sejauh satu kilometer menuju areal tambang, massa membentangkan sejumlah poster bernada kecaman. Seperti dampak tambang petani menjerit, 4 desa korban tambang, 295 hektar lahan gagal panen dan tutup tambang ini.

Kordinator aksi petani, Suhartono mengatakan dampak penambangan di debit air di Sungai Pancar Glagas menurun drastis sehingga petani mengalami krisis air. Padahal seharusnya di musim hujan air melimpah, namun petani justru kesulitan mendapatkan aliran air dari sungai. 

“Ada sekitar 295 hektare lahan pertanian tanaman padi di empat desa yang terdampak atau terancam gagal panen akibat tidak mendapatkan suplai air dikarenakan kegiatan penambangan. Padahal musim hujan ini harusnya air melimpah, namun justru surut dan debit kecil seperti musim kemarau,” kata Suhartono kepada Sariagri, Rabu (26/1).

Selain itu, imbuhnya, akibat ulah para penambangan tersebut tanggul sungai rusak sehingga mengancam kelestarian lingkungan.

Lahan pertanian yang terkena imbas aktivitas tambang berada di empat desa meliputi Desa Pakuniran, Glagah, Sogaan, dan Sumberkembar. 

Karena aksi massa tak ditemui perwakilan penambang, massa yang geram kemudian ramai-ramai menutup akses masuk areal tambang menggunakan  bambu dan kayu disertai banner tanda kegiatan tambang ditutup. Selain itu, sejumlah kendaraan bak terbuka pengangkut hasil tambang sirtu dipaksa keluar dari areal tambang agar tidak melanjutkan aktivitas penambangan.

Guna menghindari kericuhan, kedua belah pihak kemudian diarahkan ke kantor kecamatan guna dilakukan mediasi.

Camat Pakuniran Imron Rosyadi menyebutkan jika keberadaan tambang pasir batu di wilayahnya sudah mengantongi izin pemerintah provinsi jatim maupun dari Pemkab Probolinggo. Dalam pertemuan itu, disepakati pihak penambang diharuskan segera memperbaiki tanggul sungai yang rusak sehingga aliran air yang debitnya sudah turun kembali naik dan bisa kembali mengaliri areal persawahan warga.

"Penambang juga dilarang beraktivitas di jarak 100 meter dari hilir ke hulu. Lalu jalan yang sudah diperbaiki dilarang dilintasi truk tambang, serta areal tambang baru bisa dibuka perbaikan tanggul segera dilakukan," tutur Rosyadi. 

Rosyadi menyampaikan untuk luas areal lahan tambang di Sungai Pancar Glagas ada sekitar 16 hektare dimana jumlah pengusaha penambang resmi satu orang dan lainnya merupakan penambang lokal. 

Baca Juga: Irigasi Sawah Rusak Akibat Penambangan, Ratusan Petani 4 Desa di Probolinggo Turun Unjuk Rasa
Agar Tak Tergantung ke Pemerintah, Petani Jayawijaya Dilatih Penyiapan Benih Padi

Sementara itu, perwakilan penambang, M Joyo, mengaku bakal memenuhi tuntutan petani berkaitan perbaikan tanggul sungai. Hanya saja, ia meminta areal tambang bisa segera dibuka agar pekerja bisa beraktivitas kembali. 

Menurutnya, aksi protes warga terjadi lantaran kurangnya komunikasi antara mereka. 

"Selama ini tidak perwakilan petani yang mau menemui pihak penambang sehingga kami mengikuti saja apa yang menjadi tuntutannya. Dalam waktu dekat kami akan penuhi tuntutan perbaikan tanggul sungai," ucapnya.

Video terkini:

Video Terkait