Sekolah Pesantren Ini Mampu Sejahterakan Para Guru dari Hasil Pertanian Porang

Guru di Pesantren Minhajul Muna sejahtera lewat Porang. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 28 Januari 2022 | 10:15 WIB

Sariagri - Lahan tidur non produktif, di tangan para santri Pondok Pesantren Minhajul Muna di Dusun Sambi, Desa Ngrayun, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mampu dikelola baik dengan menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Belasan hektar lahan di lereng perbukitan yang semula banyak ditumbuhi semak belukar, kini telah beralih fungsi menjadi ladang tanaman porang. Setelah 4 tahun bekerjakeras, para santri dan petani sekitar pondok pesantren kini bisa menikmati hasil dari pengembangan tanaman porang.

“Sejak empat tahun lalu pengurus pesantren sudah mulai membudidayakan tanaman porang bersama petani sekitar dengan sistem bagi hasil,” beber Pimpinan Ponpes Minhajul Muna, Aminuddin kepada Sariagri, Kamis (27/1/22).

Hingga saat ini jumlah tanaman porang yang dimiliki pesantren mencapai 10.000 batang. Selain dikerjakan oleh para guru pesantren, para santri juga turut dilibatkan dalam kegiatan budidaya porang ini.

“Santri kami yang kelas 6, pelajarannya tidak hanya diajarkan ilmu agama di kelas, namun juga dibekali pengetahuan serta ketrampilan di ladang menanam serta merawat tanaman porang,” imbuhnya.

Aminuddin menjelaskan selain membekali santri kemampuan bertani porang, juga diajarkan menjadi pedagang hasil pertanian porang.

“Salah satu contoh, setelah panen yang melakukan pemilahan dan penimbangan porang adalah para santri” kata dia.

Menurutnya kegiatan berladang menjadi salah satu pelajaran yang harus diberikan kepada para santri. Hal tersebut bertujuan untuk membekali mereka dengan ilmu pertanian agar kelak siap menjadi individu yang mandiri saat kembali kepada masyarakat.

Aminuddin mengaku senang dari usaha pertanian porang yang dikelola para santri, kini telah berkembang menjadi pensuplai benih porang ke sejumlah petani di wilayah setempat.

Ke depan diharapkan para santri bisa menjadi katalisator bagi para petani di lingkungan ponpes dalam mengembangkan lahan tidur menjadi ladang porang. Sehingga produksi umbi porang bisa terus meningkat, sebab kebutuhan porang hingga 5 tahun ke depan masih sangat tinggi.

“umbi porang ini sangat prospek sekali. Insya Allah para santri dan petani disini tidak ragu untuk mengembangkan tanaman porang lebih luas lagi dengan memanfaatkan lahan tidur. Sebab permintaan pasar hingga tahun depan atau 5 tahun lagi masih sangat tinggi dan laku,”

Bahkan dari hasil pengembangan pertanian porang, banyak petani di sekitar yang ekonominya terangkat. Hal ini ditandai dengan jumlah kendaraan yang dibeli petani dari hasil menjual umbi porang.

“Alhamdulillah dari hasil pertanian porang ini, sudah banyak petani sekitar yang beli mobil dan motor baru. Demikian pula dengan pondok pesantren dari tanaman porang bisa menambahi pendanaan operasional termasuk memberi gaji dan meningkatkan kesejahteraan bagi para guru,” ujarnya.

Baca Juga: Sekolah Pesantren Ini Mampu Sejahterakan Para Guru dari Hasil Pertanian Porang
Melihat Fenomena Petani Jual Sawah untuk Proyek Jalan Tol, Setahun Kemudian Jatuh Miskin

Aminuddin menyebutkan dalam sekali panen, rata-rata porang yang dihasilkan dari ladang pesantren mencapai 9 hingga 10 ton. Sementara para santri terlihat bersemangat dalam merawat tanaman porang. Mereka secara bergilir, tiap hari terjun ke ladang untuk belajar pertanian porang.

 “senang sekali mendapat wawasan pertanian porang. Mulai dari penanaman, perawatan hingga proses panen dan penjualan. Sebelumnya belum pernah tahu tentang porang, ya baru kali ini di pondok diajari menanam dan merawat tanaman porang,” ungkap salah seorang santri, Imam Syaifuddin.

Video Terkait