Kisah Angga Diandry Kembali Wujudkan Mimpi jadi Petani Atap di Jakarta

Petani Hidroponik Angga Diandry.(Dok.Pribadi)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Nazarudin - Kamis, 27 Januari 2022 | 12:10 WIB

Sariagri - Pandemi COVID-19 memberi waktu kepada Angga Diandry (31) untyk kembali mewujudkan mimpinya menjadi petani urban. Padahal, dia sudah mengubur mimpinya untuk memiki kebun hidroponik di rumahnya. 

"Pandemi memberikan saya waktu untuk banyak berpikir dan menata ulang apa yang harus saya lakukan," ujar Angga saat dihubungi Sariagri.id beberapa waktu lalu.

Angga mengaku mulai tertarik dan mempelajari sayuran organik sejak 2018, tepatnya setelah dirinya kehilangan pekerjaan. Melalui video di Youtube, dia mencoba eksplorasi hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. 

"Saya sempat belajar di Youtube tentang nutrisi dan sayuran organik dan di video selanjutnya ada video dimana ada orang nanam di atas gedung (tapi) dia nggak menggunakan tanah, tapi air. Dari situ baru tahu hidroponik," katanya.

Saat itu, Angga langsung membeli semua peralatan untuk menanam hidroponik di rumahnya. Awalnya, lanjut dia, tidak berjalan lancar karena semua tanamannya rusak dimakan tikus. 

"Dari situ, saya kubur mimpi saya buat nanam hidroponik karena saya pikir kayanya nggak cocok deh dan ini bukan saya," katanya. 

Selama dua tahun, Angga mengaku hanya menjalankan beberapa proyek hingga akhirnya diajak Pandji Pragiwaksono mengelola Comika.id, sebuah platform untuk pelaku dan pecinta Stand-Up Comedy. 

"Saya kubur, 2018 fokus olahraga dan kerjain beberapa project. 2019 saya ditawarin untuk jadi bisnis managernya Pandji Pragiwaksono dan saya ambil singkat cerita kita keliling indonesia ke luar negeri juga sempet ke Aussie, Turki kita keliling dunia dengan Stand Up dan 2020 pandemi datang," jelasnya.

Pandemi COVID-19 membuat semua pekerjaan yang dilakukan pria kelahiran 23 Juli 1990 ini berpindah menjadi online. Menurut dia, saat itu banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukannya, termasuk olahraga. 

"Setelah 2020 pandemi datang, semua pekerjaan saya pindah ke zoom banyak hal yang biasanya saya lakukan di luar. Saya bingung ngapa-ngapain. Jadi saya cuma kerja sama gym atau lari. Gym tutup, mau lari pakai masker ribet," katanya. 

Hingga pada suatu ketika, pamannya mengatakan jika memiliki atap yang tidak terpakai. Dia kembali mencoba kembali mewujudkan mimpinya bertani hidroponik yang sudah lama terkubur. 

"Waktu itu, dikasih tahu sama Om saya kalau di atas ada rooftop ternyata nggak kepakai mataharinya banyak. Dari situ saya coba deh hidroponik," katanya. 

"Mulai dari 100 lubang, panen saya senang. Terus saya bilang sama Om saya gimana kalau saya full-in dan ternyata dikasih izin di atas rumah Om saya. Jadi start-nya itu 2020 bulan Agustus," jelasnya.

Dalam menata kembali mimpinya menjadi petani urban, Angga mengaku memiliki tantangan terbesar dari dirinya sendiri yaitu rasa malas dan disiplin dalam memeriksa semua tanaman. 

"Karena plus minus dari hidroponik dari segi biaya emang lebih mahal ketimbang konvensional, tapi di sisi lain efisiensi dalam pekerjaan dan juga hidroponik lebih rentan dibanding tanah," katanya. 

"Karena kalau (tanah) misalnya tidak disiram tiga hari masih nggak apa-apa. Hidroponik kalau nggak dicek tiga hari bisa bahaya karena dia menggunakan air dan lebih sensitif," jelasnya. 

Selama satu tahun ini, Angga mengaku belum terlalu banyak mengembangkan komoditas pertanian di lahan seluas 64 m2 itu. Dia masih melakuakn research and development untuk semua komoditas kebun atapnya. 

"Sekarang ini ada sayur dan buah seperti kale, kailan, pokchoy, selada. Kalau untuk buah ada tomat, timun, melon, tomatnya tomat cherry," katanya. 

"Buah juga belum dibilang banyak, lebih pada eksperimen saya aja sih. Saya cobain kalau nanam ini gimana? Rasanya seperti apa? Kaya gitu aja sih," tambahnya. 

Karena sudah berkembang lebih banyak dan memerlukan investasi tidak sedikit. Angga akhirnya mencoba menjual sayuran dan buah yang dikembangkannya. 

"Awalnya konsumsi pribadi dan makin lama dan investasi yang saya lakukan bikin saya berpikir ini gimana jualnya gitu dan akhirnya 2020 Januari saya mulai aktif berjualan," ungkapnya. 

Baca Juga: Kisah Angga Diandry Kembali Wujudkan Mimpi jadi Petani Atap di Jakarta
Cerita Ismail Kembangkan Usaha Hidroponik di Kaki Gunung Salak, Raup Omzet Jutaan Rupiah per Bulan

"Berawal dari grup Whatsapp ternyata nggak efektif akhirnya saya coba menceritakan kegiatan saya sebagai petani urban di kebun atap dan ternyata dari situ orang banyak yang suka cerita saya, orang banyak senang dengan kegiatan saya dari situ mereka mulai membeli sayuran saya," jelas Angga.

Angga mengaku masih ingin terus melakukan riset dan pengembangan terhadap semua komoditas di kebunnya. 

"Rencana ke depan, kan saya sudah masuk satu tahun. Di tahun kedua ini saya mau lihat kalau saya disiplin gimana hasilnya. Saya pengin meneliti lagi pertumbuhan dari sayurnya gitu. Mencoba banyak nutrisi dan lainnya. Sama pengen lihat juga benihnya yang cocok mana kalau saya nanam kale dan lain-lain," pungkasnya. 

Video Terkait