Eropa Timur Memanas, Harga Gandum Dekati Tingkat Tertinggi Dua Bulan

Ilustrasi panen gandum (Pixabay)

Editor: Yoyok - Rabu, 26 Januari 2022 | 09:15 WIB

Sariagri - Harga gandum berjangka di Bursa Komoditas Chicago atau Chicago Board of Trade (CBOT), Amerika Serikat (AS), mendekati level tertinggi dua bulan pada Selasa (25/1) atau Rabu (26/1) pagi, karena kekhawatiran aksi militer Rusia di Ukraina. Saat ini, pedagang atau trader khawatir tentang potensi gangguan pasokan dari eksportir Laut Hitam tersebut.

Ketegangan tetap tinggi setelah NATO mengatakan akan menempatkan pasukan dalam keadaan siaga dan memperkuat Eropa timur dengan lebih banyak kapal dan jet tempur sebagai tanggapan atas penambahan pasukan Rusia di dekat perbatasannya dengan Ukraina.

Menurut Reuters, gangguan aliran komoditas biji-bijian dari wilayah Laut Hitam dapat membuat importir berebut untuk mencari alternatif seperti gandum Uni Eropa dan Amerika Serikat, serta menambah bahan bakar lebih lanjut untuk inflasi pangan.

International Grains Council menyebutkan Ukraina diproyeksikan menjadi eksportir jagung terbesar ketiga di dunia pada musim 2021/22 dan pengekspor gandum terbesar keempat. Sedangkan Rusia adalah eksportir gandum terbesar di dunia.

"Tidak ada cara untuk mengetahui bagaimana konflik antara Rusia dan Ukraina akan mempengaruhi aliran gandum keluar dari wilayah Laut Hitam, tetapi perdagangan meningkatkan premi risiko ke pasar gandum untuk berjaga-jaga," kata Tomm Pfitzenmaier, analis Summit Commodity Brokerage di Iowa. "Sebagian dari penguatan itu tumpah ke pasar jagung."

Kontrak gandum yang paling aktif di CBOT ditutup menguat 17,50 dolar AS menjadi 818 dolar AS per bushel atau gantang dan mencapai harga tertinggi sejak 29 November di 831,50 dolar AS.

Sedangkan jagung CBOT ditutup turun 1 dolar AS menjadi 620 dolar AS per bushel setelah sebelumnya menyentuh harga tertingginya sejak Juni di 631 dolar AS.

Baca Juga: Eropa Timur Memanas, Harga Gandum Dekati Tingkat Tertinggi Dua Bulan
Ketegangan Rusia-Ukraina Meningkat, Harga Gandum Berjangka Melonjak Tiga Persen

Di pasar kedelai, kontrak paling aktif ditutup naik 4,25 dolar AS menjadi 1.407,25 dolar AS per bushel. Harga menguat karena trader mempertimbangkan prospek tanaman yang variatif di Amerika Selatan dan tanda-tanda permintaan yang sehat bagi pasokan Amerika.

Hujan dalam beberapa pekan terakhir membawa "bom air" ke daerah pertanian utama di provinsi barat laut Argentina, setelah dihantam kekeringan.

Video Terkait