Pernah Bercita-cita Jadi Polisi, Sarjana Muda Asal Ternate Ini Justru Sukses Jadi Petani Cabai dan Tomat

Muhammad Rahmadani, petani muda asal Ternate. (Foto Istimewa)

Editor: M Kautsar - Minggu, 23 Januari 2022 | 19:00 WIB

Sariagri - Muhammad Rahmadani (25 tahun), sarjana muda jurusan Teknologi Hasil Pertanian dari Universitas Khairun di Ternate kini sukses menjadi petani milenial.

Belajar bertani dengan orang tua sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) tidak membuatnya meninggalkan profesi petani setelah lulus kuliah. Dani, panggilan akrabnya, mengaku justru karena kuliah pertanian, motivasi dia untuk menjadi petani semakin besar.

"Sebenarnya saya bertani sejak dari SMP, orang tua juga petani, waktu itu saya coba belajar tanam kemangi. Awalnya punya cita-cita mau jadi Polisi atau kerja kantoran, tapi setelah saya kuliah di bidang pertanian di sana saya belajar dan ketemu banyak orang, dan itu memotivasi saya untuk mulai mengembangkan usaha tani," kata Dani kepada Sariagri.

Menurut Dani, bekerja sebagai petani jauh lebih nyaman dibandingkan dengan bekerja sebagai karyawan sebab waktu bekerja seorang petani lebih fleksibel dan leluasa untuk mengembangkan ide serta kreativitas dalam usaha pertanian.

"Kalau jadi petani kita bisa atur waktu kerjanya sendiri," ucap Dani.

Bertani tomat dan cabai

Di lahan garapannya seluas 3.000 meter persegi di Desa Rua, Kecamatan Pulau Ternate, Dani menanam tomat, cabai merah keriting dan cabai rawit merah atau biasa disebut warga lokal "rica nona".

Dani menyebutkan, dalam waktu sekitar 4 bulan kebun yang Ia garap dapat menghasilkan 4 ton tomat dan cabai merah keriting. Sementara rica nona, kata Dani saat ini baru ditanam dan belum menghasilkan.

"Untuk tomat saya tanah 1.500 pohon di lahan itu, dalam waktu 4 bulan, buah tomat yang dihasilkan mencapai 4 ton," jelas Dani.

Tomat dan cabai kemudian Ia jual ke pengepul di pasar Ternate dengan harga rata-rata Rp10.000 per kilogram saat kondisi stabil. Dani menyebutkan, dari bertani cabai dan tomat, omzet minimal yang Ia hasilkan selama 4 bulan sekitar Rp50 juta.

Menurut Dani, potensi pasar untuk komoditas pertanian di Ternate masih sangat besar. Tomat dan cabai hasil panen kebunnya pun masih belum bisa memenuhi permintaan yang datang dari dalam pulau.

Selain itu, kata Dani, seiring semakin banyaknya perusahaan tambang yang bermunculan di wilayah Maluku Utara bisa menambah potensi pasar komoditas pertanian bagi petani di kepulauan wilayah Maluku Utara.

"Apalagi sekarang kan sudah banyak perusahaan tambang baru yang buka di Maluku Utara, itu bisa jadi peluang pasar untuk petani suplai bahan pangan ke mereka," ungkap Dani.

Tantangan tidak menyurutkan rencana dan harapan masa depan

Dani mengatakan, bertani di Pulau Ternate tidak lepas dari tantangan yang disebabkan oleh faktor cuaca, seperti masalah pengairan dan hama penyakit tanaman.

Pengalaman terburuk seperti gagal panen pun pernah Dani rasakan. Tapi, berkat dukungan orang tua dan kerabat dekatnya, membuat Dani tidak berhenti begitu saja menjadi petani. Ia tetap bangkit dan menanam kembali.

Selain faktor cuaca, tantangan dalam hal sosial pun kata Dani kerap menerpanya. Pandangan kebanyakan orang yang meremehkan profesi petani, diakui Dani pernah membuatnya kehilangan semangat.

"Banyak masyarakat memandang seorang sarjana seharusnya kerja kantoran bukan jadi petani. Pandangan merendahkan itu kadang membuat drop, tapi untungnya berkat dukungan orang di sekitar saya termasuk orang tua, jadi saya semangat lagi, tidak peduli kata kebanyakan orang tentang profesi petani," tegas Dani.

Dalam waktu dekat, rencana Dani adalah ingin memproses hasil panennya dan dipasarkan sendiri secara online. Selain itu, dia bersama rekan petani lainnya ingin mengembangkan kawasan pertaniannya menjadi destinasi agrowisata di Ternate.

"Rencana ke depan adalah membangun kebun agrowisata. Selain itu memproses pasca panen dan pemasaran produk secara online. Hasil panen nanti kami kemas dan labeling sendiri, dan dipasarkan sendiri secara online. Kami juga sudah dapat bantuan rumah pasca panen dari pemerintah," ungkap Dani.

Lebih lanjut, Dani menyampaikan harapannya agar penyuluh pertanian di daerah bisa lebih kompeten terhadap teknologi pertanian yang baru. Upgrade skill, kata Dani, hal yang dibutuhkan bagi penyuluh pertanian di daerah.

"Kalau bisa penyuluh pertanian dari pemerintah bisa diupgrade, mulai tinggalkan cara-cara konvensional dan ikuti perkembangan zaman terutama dalam hal penanganan hama penyakit tanaman di tengah kondisi perubahan iklim seperti sekarang ini," tuturnya.Baca Juga: Pernah Bercita-cita Jadi Polisi, Sarjana Muda Asal Ternate Ini Justru Sukses Jadi Petani Cabai dan Tomat
Kisah Richard Geluti Pertanian Hidroponik, Hasil Panen Capai 1 Ton per Bulan



Dani berharap akan semakin banyak anak muda di daerah yang terjun menjadi petani milenial dan mengembangkan potensi pertanian di Maluku Utara. Menurut Dani, prospek usaha pertanian masih sangat menjanjikan, karena itu Dani yakin dengan kolaborasi petani muda bisa memajukan sektor pertanian daerah.

"Saya harap semakin banyak petani muda di Maluku Utara bisa berkolaborasi, pemerintah bisa menggenjot program-program lebih menarik dengan kegiatan yang inovatif dan berkelanjutan untuk bisa terus mencetak dan mendampingi petani muda di daerah," pungkas Dani. 

Video terkini:

Video Terkait