Berkat Ide Kreatif Kepala Desa Ini, Petani di Nagari Andiang Kembangkan Agrowisata Petik Jeruk

Kepala Desa Andiang Gusfialdi.(Tangkapan Zoom Intani)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 21 Januari 2022 | 06:00 WIB

Sariagri - Berawal dari ide membangun desa, Gusfialdi mendirikan agrowisata komoditas buah jeruk. Agrowisata itu terletak di Nagari Andiang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. 

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Andiang itu mengatakan dulu lahan di wilayahnya itu merupakan lahan tidur. Dengan sentuhan tangan kreatifnya, kini hampir 80 persen sudah menjadi lahan produktif yang ditanami buah jeruk.

“Jadi terpikir jeruk, jeruk kan tidak terlalu susah pengembangannya tanahnya cocok sekitar 600-700 mdpl. Disitu saya coba lah untuk menghadirkan jeruk, terus kita bekerjasama dengan Dinas Pertanian untuk konsep agrowisata,” ujarnya dalam webinar Intani, Rabu (19/1/2022).

Gusfialdi mengungkapkan dirinya mulai berkebun jeruk pada tahun 2015. Satu tahun kemudian hasil dari tanaman jeruk sudah mulai terlihat. Keberhasilannya itu meningkatkan antusiasme warga untuk mengikuti jejaknya.

“Masyarakat melihat kita berhasil mulai ikut, sarana prasaranan kita sudah jadi baru lah masyarakat ikut untuk kebersamaannya,” katanya.

Gusfialdi menjelaskan mayoritas warganya adalah petani padi. Namun kini mereka bisa memanfaatkan waktu setelah mengurus sawah untuk berkebun jeruk.

“Saya sangat bangga dengan Dinas Pertanian, apapun yang ingin saya tuju ingin merubahmasyarakat saya, (Dinas Pertanian) tidak pernah berhenti mencari peluang. Pas pengolahan awal saya minta 2000 bibit jeruk sampai tahap duanya saya minta 10 ribu tetap dikasih,” jelasnya.

Gusfialdi mengungkapkan desa yang dipimpinnya merupakan lumbung pangan, namun masyarakatnya kesulitan secara ekonomi. Kehadiran agrowisata jeruk itu telah mengubah ekonomi masyarakat bahkan dapat menguliahkan anak ke Pulau Jawa.

“Saya sangat bersyukur dengan perubahan yang seperti ini, jadi sekarang sudah banyak yang kuliah sampai ke Jawa, itu dampaknya masyarakat lebih sejahtera,” katanya.

Wisata petik jeruk

Untuk dapat menikmati wisata petik jeruk di Nagari Andiang cukup dengan uang Rp10 ribu pada saat bulan promosi dan dapat makan jeruk sepuasnya.

“Jadi kalau nggak bulan promosi kita masuknya Rp25 ribu dari distribusi tersebut tidak ada potongan dari Walinagari (Kepala desa), saya punya konsep dari awal masyarakat itu yang membangun, masyarakat itu sendiri yang menikmati,” katanya.

Buah jeruk yang dikembangkan di Agrowisata Nagari Andiang yaitu jeruk Jerman. Menurut Gusfialdi, tanaman jeruk itu dipilih karena selalu berbuah tidak mengenal musim, tergantung cara pengelolaannya.

“Kenapa saya pilih (nama) Jerman, karena negara di dunia ini Jerman itu unggul, antusias orang dengan saya beri nama Jerman itu besar, apakah ini bibitnya dari Jerma atau gimana pasti pertanyaannya banyak, Jerman ini artinya jeruk manis,” jelasnya.

Baca Juga: Berkat Ide Kreatif Kepala Desa Ini, Petani di Nagari Andiang Kembangkan Agrowisata Petik Jeruk
Bermodal Kemauan Kuat, Milenial Ini Mantap jadi Petani Sayuran

Dia menambahkan selain disuguhkan wisata petik jeruk, wisatawan juga ditawarkan fasilitas home stay bagi pengunjung yang ingin menginap. Fasilitas itu tengah disiapkan sejak delapan bulan lalu dengan pemandangan yang indah.

“Masyarakat kita setelah dapat hasil dari jeruk, mereka bikin juga home stay sedikit, kalau sudah siap bisa (menginap) ini baru-baru mulai sekitar delapan bulan yang lalu,” tandasnya.

Video:

Video Terkait