Mengenal Terasering yang Berfungsi Selamatkan Lahan Dataran Tinggi

Ilustrasi terasering (Pixabay)

Penulis: Gloria, Editor: M Kautsar - Kamis, 20 Januari 2022 | 16:55 WIB

Sariagri - Terasering atau sengkedan biasa kita dengar untuk mencegah terjadinya longsor di dataran tinggi.

Namun, apakah terasering itu? Melansir situs Kementerian Pertanian, terasering merupakan bangunan konservasi tanah dan air yang dibuat untuk memperkecil kemiringan lereng dengan menggali dan mengurug tanah melintang lereng.

Atau, terasering juga dapat diartikan sebagai suatu pola atau teknik bercocok tanam dengan sistem bertingkat (berteras-teras) sebagai upaya pencegahan erosi tanah. Bentuk sengkedan ini biasanya terlihat di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Terasering bermanfaat untuk meningkatkan peresapan air ke dalam tanah dan mengurangi jumlah aliran permukaan untuk memperkecil risiko pengikisan oleh air.

Fungsi terasering diantaranya menjaga dan meningkatkan kestabilan lereng, memperbanyak resapan air hujan ke dalam tanah, mengurangi run off atau kecepatan aliran air di permukaan tanah, mempermudah perawatan atau konservasi lereng, mengurangi panjang lereng atau memperkecil tingkat kemiringan lereng.

Selain itu untuk mengendalikan arah aliran air menuju daerah yang lebih rendah, menampung dan menahan air pada lahan miring.

Menurut laman Dinas Perkebunan Jawa Barat, kesalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya lahan di daerah pegunungan dapat menimbulkan kerusakan berupa degradasi kesuburan tanah dan ketersediaan air. Dampaknya akan dialami oleh masyarakat sekitar hingga di dataran rendah.

Maka itu perlu dilakukan pembuatan terasering. Sehingga petani di dataran tinggi dapat bercocok tanam tanpa perlu takut terjadinya longsor dan semacamnya.

Penanaman dengan membuat teras-teras akan memperkecil aliran permukaan agar air dapat meresap ke dalam tanah.

Adapun sejumlah terasering seperti teras datar yang dibuat pada tanah kemiringan kurang dari tiga persen. Tujuannya untuk memperbaiki pengaliran air dan pembasahan tanah.

Teras datar dibuat dengan menggali tanah menurut garis tinggi dan tanah galiannya ditimbunkan ke tepi luar. Nantinya, air dapat tertahan dan terkumpul. Pematang pun dapat ditanami dengan rumput.

Berikutnya adaah teras kridit. Teras ini dibuat pada tanah yang landai dengan kemiringan 3-10 persen. Tujuannya untuk mempertahankan kesuburan tanah.

Pembuatan teras ini dimulai dengan membuat jalur penguat teras sejajar garis tinggi dan ditanami dengan tanaman seperti caliandra.

Selain itu terdapat teras gulud yang dibuat pada tanah dengan kemiringan 10-50 persen. Tujuannya untuk mencegah hilangnya lapisan tanah.

Kemudian teras bangku yang dibuat pada lahan dengan kelerengan 10-30 persen. Tujuannya untuk mencegah erosi pada lereng yang ditanami palawija.

Selain itu terdapat teras individu yang dibuat pada lahan dengan kemiringan 30-50 persen. Biasanya untuk kawasan tanaman perkebunan di daerah bercurah hujan terbatas dan penutupan tanahnya cukup baik sehingga memungkinkan pembuatan teras individu.

Teras kebun dibuat pada lahan kemiringan 30-50 persen. Pembuatan teras hanya dilakukan pada jalur tanaman sehingga area tersebut terdapat lahan yang tidak diteras dan biasanya ditutup oeh vegetasi penutup tanah.

Ukuran lebar jalur teras dan jarak antar jalur teras disesuaikan dengan jenis komoditas. Pembuatan teras kebun, lahan yang terletak di antara dua teras yang berdampingan dibiarkan tidak diolah.

Baca Juga: Mengenal Terasering yang Berfungsi Selamatkan Lahan Dataran Tinggi
Ini Jawaban Kenapa Tanah Vulkanik Sangat Subur Cocok untuk Pertanian dan Perkebunan

Teras saluran dikenal dengan rorak atau parit buntu. Teras ini dibuat dengan teknik konservasi tanah dan air berupa pembuatan lubang-lubang buntu yang dibuat untuk meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimen dari bidang olah.

Selain itu teras batu. Teras ini menggunakan batu untuk membuat dinding dengan jarak yang sesuai di sepanjang garis kontur pada lahan miring.

Video Terkait