Kopi Dara, Pupuk Organik Karya Warga Kramat Jati

Anggota Kelompok Tani Mustika di Kramat Jati Jakarta Timur, mengolah limbah kulit bawang menjadi pupuk organik. (Dok PLN Disjaya)

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 19 Januari 2022 | 19:15 WIB

Sariagri - Kopi Dara bukanlah jenis kopi yang bisa diminum. Kopi Dara adalah akronim dari Kompos Pilihan dari Bawang Merah. Kopi Dara merupakan buah karya Kelompok Tani Mustika di Kramat Jati Jakarta Timur.

Kopi Dara bermula dari keresahan warga akan tumpukan limbah bawang merah. Ini terjadi karena sebagian dari mereka bekerja menjadi pengupas bawang merah. Inisiatif muncul dari Kelompok Tani Mustika yang berdiri tahun 2017 untuk mengubah limbah menjadi sesuatu yang menghasilkan manfaat.

Terbukti, kini mereka emanfaatkan limbah daun dan kulit bawang merah menjadi pupuk kompos organik dengan nilai jual tinggi. Dari 3 kuintal bahan baku berupa limbah bawang merah bisa diolah menjadi 53 kilogram (kg) pupuk kompos organik.

Awalnya, pupuk hanya digunakan untuk kebutuhan anggota kelompok tani maupun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Namun, saat ini Kopi Dara sudah dijual untuk umum.

"Alhamdulillah ada dari CSR yang membantu untuk memperlancar tentang produksi tentang kulit bawang," ungkap Bakti, anggota Kelompok Tani Mustika, Rabu (19/1).

Dia menuturkan pupuk diproduksi tiap 2 hari sekali dan proses untuk menjadi pupuk siap pakai memakan waktu kurang lebih 21 hari. Pemasaran dilakukan secara langsung dengan display produk maupun secara online. Peminat Kopi Dara cukup banyak.

Pupuk dijual dalam kemasan 1 kg, 2 kg, 5 kg, 10 kg, dan 15 kg dengan harga sesuai beratnya. Untuk kemasan 1 kg dijual dengan harga Rp 8.000, sedangkan kemasan 2 kg dijual dengan harga Rp 15.000. Kelompok Tani Mustika bisa menjual rata-rata 50 kg setiap bulannya.

Kinerja Kelompok Tani Mustika kian bergairah setelah PLN Peduli hadir untuk berkolaborasi dengan memberikan mesin pencacah atau crusher. PLN juga memberikan pelatihan agar pupuk mempunyai nilai jual yang tinggi. Hadirnya mesin pencacah dengan energi listrik membuat pupuk yang diproduksi Kopi Dara menjadi lebih halus sehingga kualitas lebih meningkat.

"PLN Peduli sangat antusias untuk mendorong Kempok Tani Mustika ini supaya lebih maju lagi dengan Kopi Daranya karena selain membantu untuk lingkungan lebih bersih juga ada nilai ekonomisnya, jadi manfaatnya ganda," ujar Doddy B Pangaribuan, General Manager PLN UID Jakarta Raya.

Kini, Kelompok Tani Mustika berkeinginan menambah jumlah produksi seiring dengan banyaknya pesanan. Mereka akan bekerjasama dengan kelurahan lain yang sebagian masyarakatnya juga berprofesi sebagai pengupas bawang. Selain itu, kerjasama dengan Pasar Induk Kramat Jati juga akan dijajaki untuk mendapatkan bahan baku Kopi Dara.

Kopi Dara sudah melewati uji kelayakan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur. Hasilnya Kopi Dara memiliki unsur hara yang dibutuhkan sebagai syarat menjadi pupuk.

Doddy mengungkapkan PLN Peduli sudah banyak berkontribusi terhadap hal pengolahan limbah dan sampah di Jakarta. Beberapa bank sampah sudah menjadi binaan PLN Peduli di Jakarta dan sekitarnya diantaranya Bank Sampah Induk Jakarta Selatan, Bank Sampah Kemuning, Bank Sampah Anyelir Jakarta Timur, dan Bank Sampah Mandiri Sejahtera Kreo.

Baca Juga: Kopi Dara, Pupuk Organik Karya Warga Kramat Jati
Dongkrak Perekonomian 71 Desa Wisata, PLN Salurkan Bantuan Rp6 Miliar

"PLN berkomitmen untuk mendukung lingkungan yang berkelanjutan agar perusahaan dan masyarakat bisa maju bersama dalam pembangunan yang berwawasan lingkungan," tambah Doddy.

Selain pupuk kompos, Kelompok Tani Mustika juga memproduksi pupuk cair dari fermentasi urin Kelinci. Pupuk cair organik ini sudah melalui uji kelayakan dari Sudin KPKP Jakarta Timur dan hasilnya memenuhi unsur hara pembentuk pupuk.

Video Terkait