Budidaya Kacang Ratu BW, Panen 30 Hari Mampu Raup Rp24 Juta per Hektare

Bambang Suwignyo menunjukkan telur alfafa solusi masalah stunting.(Sariagri/Eko Putro)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 18 Januari 2022 | 18:20 WIB

Sariagri - Alfafa atau di Indonesia lebih dikenal sebagai kacang ratu makin popular belakangan setelah American Pregnancy Association menyebutkan bahwa tanaman ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang bisa membuat produksi ASI ibu lebih banyak.

Riset membuktikan bahwa alfalfa mengandung fitoestrogen atau estrogen sangat tinggi yang sangat penting bagi ibu menyusui maupun kekurangan gizi pada anak-anak stunting atau kerdil.

Di Indonesia, peneliti dari Fakultas Peternakan UGM, Bambang Suwignyo sukses mengabadikan namanya pada kacang ratu dengan mengembangkan kacang ratu varian tropis yang cocok untuk dikembangkan di pertanian Indonesia. Kementerian Pertanian secara resmi memberi nama kacang ratu inovasi Bambang Suwignyo dengan nama Kacang Ratu BW, dimana BW berasal dari inisial Bambang Wignyo.

Sejak 90-an, kacang ratu sebenarnya sudah banyak dikembangkan di Indonesia. Namun para petani pengembang kacang ratu masih menggunakan bibit yang diimpor dari negara asalanya yang kebanyakan dari mediterania dan negara-negara sub tropis lain. Hasilnya pun belum maksimal. Kini, petani bisa menanam dengan bibit kacang ratu BW yang tentu saja akan lebih produktif karena memang sudah merupakan tumbuhan tropis.

“Karena sudah sesuai dengan iklim kita maka pertumbuhannya jauh lebih cepat dan lebih banyak. Panen 30 hari sekali dengan produktifitas 20 ton per hektare,” kata Bambang Suwignyo kepada Sariagri awal pekan ini.

Kacang Ratu Rp60 Ribu per Renteng

Sebagai pakan ternak, tanaman ini punya nilai ekonomi yang tinggi. Dalam bentuk tanaman (batang dan daun), satu ikat (renteng) kacang ratu BW bisa mencapai Rp 60 ribu Bandingkan dengan tanaman kacang lainnya yang berada di harga sekitar Rp 10-15 ribu.

 “Area seluas satu hektar akan menghasilkan sekitar 20 ton alfalfa basah, kalau kering kira-kira 4 ton lah. Kalikan saja per kilo Rp 60 ribu sudah dapat panen Rp 24 juta,” kata Bambang Suwignyo.

Jika dibandingkan dengan padi, komoditas utama pertanian di Indonesia, setiap hektare hanya menghasilkan tak sampai 6 ton dengan harga gabah kering giling (GKG) Rp 5.060 per kg (harga November 2021) dan harga beras sekitar Rp 10 ribu per kg artinya hanya menghasilkan sekitar Rp 6 jutaan per hektare lahan.

Kacang Ratu BW juga bisa dipanen lebih cepat, 30 hari sekali, berbeda dengan jenis alfalfa lainnya yang rerata dipanen 45-60 hari sekali. Pertumbuhan kacang ratu BW terbilang cepat, rerata bertambah panjang 5 cm per hari dalam dua pekan pertama. Di pekan ketiga akan melambat seiring dengan munculnya bunga.

“Selain tanaman yang bisa dipanen, biji yang dihasilkan dari bunga alfalfa pun bisa dipanen,” kata Bambang.

Pakan Ayam Petelur

Kacang ratu selama ini banyak dijual sebagai asupan ibu menyusui dalam bentuk mentah. Hal itu memiliki keterbatasan karena tidak semua orang akan menyukainya. Maka kacang ratu bisa dikembangkan sebagai pakan ternak yang menghasilkan ternak dengan kualitas yang berbeda dengan jika diberi pakan biasanya. Sehingga hasil ternaknya pun bisa dijual dengan harga lebih mahal.

Ayam bertelur 25 jam sekali, kandungan nutrisi yang terdapat dalam pakan sangat berpengaruh pada kualitas telur yang dihasilkan. Bambang Suwignyo melakukan inovasi untuk menambahkan kacang ratu BW pada pakan ayam. Hasilnya, kandungan nutrisi yang dihasilkan oleh ayam memiliki kandungan Fe dan Zn yang tinggi.

Seperti telur organik lainnya, harga telur Alfalfa lebih mahal daripada telur ayam biasa. Di saat harga telur normal, telur alfalfa dipatok di harga Rp 32-36 ribu per kg. satu kilogram biasanya berisi 16-17 butir telur. Bandingkan dengan harga telur biasa di saat normal yang hanya berkisar di Rp 20 ribu per kg.

“Kami menyebutnya telur karib atau telur kacang ratu BW. Telurnya lebih kuning karena memiliki betacarotin yang tinggi, sehingga memiliki vitamin A yang tinggi. Untuk membuatnya, seperti pakan ternak lainnya, kacang ratu BW yang sudah dipanen akan dikeringkan. Setelah kering akan digiling dan dicampur dengan pakan,” jelas Bambang.

Alfafa untuk Sapi dan Kambing Perah

Sapi dan kambing perah yang diberikan pakan dari alfalfa akan memproduksi susu yang lebih banyak dan baik. Produksi susu yang dihasilkan dari sapi yang mengonsumsi alfalfa bisa sampai 60% daripada yang tidak.

Bambang menerangkan, Sapi membutuhkan pakan yang berprotein tinggi, namun tidak boleh mendapatkannya dari konsentrat atau biji-bijian lebih dari 40%. Jika mendapatkan protein dari konsentrat, kualitas susunya akan turun.

“Nah solusi dari kacang ratu BW adalah ini berupa tanaman, hijauan dengan daun dan batang namun mengandung protein yang sangat tinggi,” terang Bambang.

Kacang ratu di Amerika sering dianggap sebagai pakan utama sapi. Sebagian besar susu, yogurt, keju, krim, susu kering, dan es krim yang beredar di pasaran hari ini terhubung dengan alfalfa atau kacang ratuSecara global, alfalfa kini telah menjadi pakan hijauan yang paling besar produksinya.

Baca Juga: Budidaya Kacang Ratu BW, Panen 30 Hari Mampu Raup Rp24 Juta per Hektare
Tingkatkan Pendapatan Petani, Model Rantai Pasokan Ini Cocok di Negara Ini

Alfafa untuk Bebek

Bambang juga melakukan penelitian pada kualitas daging bebek yang sudah diberi asupan kacang ratu. Kandungan dalam kacang ratu ternyata mampu menghajar lemak yang ada dalam hati, daging dan darah bebek. Kolesterol yang semula 170 miligram per 100 gram turun menjadi 130 miligram per 100 gram. Lemak jahatnya (LDL) turun dan lemak baiknya (HDL) naik.

Senyawa bioaktif saponin yang terdapat dalam tanaman alfalfa mampu mengurangi penyerapan kolesterol pada usus. Hal ini kemudian dapat menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat dalam tubuh.

Video Terkait