Sejumlah Kalangan Sudah Ingatkan: Petani Bakal Terbebani Kenaikan Harga Pupuk

Ilustrasi - Petani menebar pupuk di areal sawah. (Antara Foto/Dedhez Anggara/foc)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Senin, 17 Januari 2022 | 14:10 WIB

Sariagri - Kenaikan harga pupuk nonsubsidi bakal tidak terhindarkan. Selain faktor internasional, kenaikan harga pupuk juga dipengaruhi oleh permintaan tinggi di tingkat petani. Sebab, pasokan pupuk bersubsidi terbatas sehingga petani beralih ke pupuk nonsubsidi.

Serikat Petani Indonesia (SPI) melaporkan harga pupuk nonsubsidi naik hingga 100 persen pada pekan pertama Januari 2022. Tren kenaikan harga pupuk nonsubsidi itu sudah berlangsung sejak Oktober 2021.

Ketua Pusat Perbenihan Nasional (P2N) SPI, Kusnan, mengatakan kenaikan harga pupuk nonsubsidi itu turut mengoreksi pendapatan petani secara nasional. Konsekuensinya, nilai tukar petani atau NTP untuk tahun 2021 masih berada di bawah standar impas.

“Harga pupuk nonsubsidi sekarang naiknya tidak wajar sampai 100 persen yang awalnya pada 2020 akhir harganya hanya Rp280 ribu per sak atau 50 kilogram pupuk Urea, tapi sekarang sampai Rp500 ribu per sak bahkan di luar Jawa tembus Rp 600 ribu,” kata Kusnan seperti dikutip sejumlah media, Senin (17/1).

SPI mencatat hingga pekan pertama Januari 2022, harga pupuk Urea sudah mencapai Rp560 ribu per sak. Saat situasi normal harga pupuk itu berada di posisi Rp265 ribu hingga Rp285 ribu per sak. Hanya saja sejak Oktober hingga November 2021, harga pupuk itu mengalami kenaikan menjadi Rp380 ribu.

Kenaikan harga itu berlanjut pada Desember 2021 mencapai Rp480 ribu hingga Rp500 ribu.

Selain itu, harga pupuk NPK juga mengalami kenaikan yang signifikan. Misalkan, NPK Mutiara mengalami kenaikan harga mencapai Rp600 ribu per sak dari harga sebelumnya di posisi Rp400 ribu per 50 kilogram. Sementara itu, NPK Phonska mengalami kenaikan menjadi Rp260 ribu per sak atau 25 kilogram dari harga awal Rp170 ribu per sak.

Terpisah, Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santoso, mengungkapkan petani yang tidak mendapat pupuk subsidi pasti akan membeli yang nonsubsidi

Menurut Andreas, krisis akibat lonjakan harga pupuk terutama urea sudah terjadi sejak tahun lalu. Akibat pergerakan harga gas yang terus naik.

Mengutip indexmundi.com, harga urea di bulan Juni 2021 adalah 393,25 dolar AS per metrik ton, lalu melonjak jadi 900,50 dolar AS per metrik ton. Pada saat bersamaan, harga LNG Indonesia adalah 9,62 dolar AS per MMBTU di Juni 2021, melonjak jadi 12,77 dolar AS per MMBTU.

Puncaknya, saat harga LNG Indonesia naik 8,22 persen di bulan Oktober 2021, harga Urea melonjak 65,97 persen di pasar internasional.

Tidak hanya di Indonesia, lonjakan harga ini sempat memicu krisis urea di Korea Selatan pada tahun 2021.

"Tadinya harga urea yang Rp6.000 per kg, naik ke Rp7.500, lalu ke Rp12.000 per kg. Pasokan ada karena BUMN harus penuhi kebutuhan dalam negeri. Tapi, karena kita juga ekspor, tentu produsen nggak akan mau rugi-rugi amat," kata Andreas.

Akibat lonjakan harga urea, pupuk lainnya yang berbasis nitrogen pun ikut-ikutan naik. Seperti pupuk DAP, kalau harga urea naik 3 kali, DAP naik 2,4 kali. "Untuk petani dengan lahan di bawah 2 hektare memang ada pupuk subsidi. Jadi, hampir semua petani padi sawah pakai pupuk subsidi. Tapi, dengan alokasi hanya 9 juta ton, sementara kebutuhan sekitar 2 kali itu, tentu petani akan beli pupuk non-subsidi," kata Andreas.

Hanya saja, dengan harga pupuk nonsubsidi yang tinggi, akan memberatkan petani. "Ini juga menyangkut kualitas hasil panen. Padahal, dari segi jenis pupuk subsidi dan non-subsidi saja sudah menyebabkan perbedaan kualitas. Karena sumber pupuk majemuk itu beda-beda, tentu dampaknya beda terhadap kualitas panen," kata Andreas.

Sementara itu, t Ketua Umum Ikatan Ahli Gula (Ikagi) Aris Toharisman, menyatakan akibat lonjakan harga pupuk, petani tebu kemungkinan akan mengurangi pemberian pupuk. Yang akan berdampak pada kualitas tebu, sehingga mempengaruhi rendemen dan produksi gula.

Baca Juga: Sejumlah Kalangan Sudah Ingatkan: Petani Bakal Terbebani Kenaikan Harga Pupuk
Harga Pupuk Nonsubsidi Melonjak, Wakil Ketua DPR Muhaimin Minta Pemerintah Jamin Stok

"Input produksi tinggi, petani mengurangi pupuk, produktivitas jadi tidak maksimal. Belum lagi biaya tenaga kerja naik. Ini akan mengeskalasi biaya di petani naik 40-60 persen. Karena biaya pupuk itu bisa mencapai Rp5 juta per ha, atau sekitar 30 persen dari biaya tanaman," kata Aris.

Menurut dia, petani tebu di Jawa kebanyakan menggunakan pupuk ZA, sedangkan luar Jawa memakai pupuk Urea.

"Total konsumsi pupuk per hektare bisa mencapai 800 kuintal hingga 1,2 ton dalam bentuk ZA, NPK, dan KCl. Harga ZA naik dari Rp3.000 per kg jadi Rp5.100 per kg," ujar dia.

Video Terkait