Peneliti Temukan Tanaman yang Jadi Awal Mula Aktivitas Pertanian Manusia

Millet merupakan tanaman sereal dengan biji kecil yang dapat dimakan. (Pixabay)

Penulis: Tanti Malasari, Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 14 Januari 2022 | 19:55 WIB

Sariagri - Berdasarkan hasil penelitian yang diungkapkan oleh peneliti dari Rutgers University, disebutkan bahwa pada zaman Mesopotamia kuno, tersimpan banyak temuan yang berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan manusia. Diantara temuan tersebut, salah satunya adalah sektor pertanian.

Para peneliti menemukan bukti definitif paling awal dari broomcorn millet (Panium miliaceum) atau tanaman jawawut, yaitu serealia berbiji kecil. Di dalam jurnal Scientific Reports yang diterbitkan mengatakan peneliti menemukan temuan bahwa millet pernah ditanam di Irak kuno selama periode awal.

"Secara keseluruhan, kehadiran millet di Irak kuno selama periode waktu awal ini menantang narasi yang diterima dari pembangunan pertanian di wilayah tersebut," kata Elise Laugier, seorang arkeolog lingkungan dan postdoctoral National Science Foundation, rekan di School of Arts and Sciences di Rutgers University-New Brunswick, dilansir dari laman Rutgers University, Kamis (13/1/2022).

Laugier menjelaskan, broomcorn millet adalah tanaman musim panas yang luar biasa kuat, cepat tumbuh, dan memiliki banyak manfaat. Tanaman tersebut pertama kali dibudidayakan di Asia Timur.

Para peneliti kemudian menganalisis sisa-sisa tanaman mikroskopis (phytoliths) dari Khani Masi, pada situs pertengahan akhir milenium kedua SM (1500-1100 SM Tahun C atau Tahun Liturgi Gereja) di wilayah Kurdistan Irak.

Dengan hadirnya tanaman Asia Timur di Irak kuno ini, menyoroti sifat Eurasia yang saling berhubungan selama ini. Penemuan tanaman tersebut mengejutkan karena alasan lingkungan dan sejarah. Hingga saat ini, para peneliti berpikir bahwa millet tidak ditanam di Irak sampai pembangunan sistem irigasi kekaisaran milenium pertama SM.

Tanaman millet pada dasarnya membutuhkan curah hujan musim panas untuk dapat tumbuh, sedangkan Asia Barat Daya memiliki iklim musim dingin basah dan musim panas kering. Selain itu, produksi pertanian yang ada disana sebagian besar didasarkan pada tanaman yang ditanam selama musim dingin, seperti gandum dan jelai.

Baca Juga: Peneliti Temukan Tanaman yang Jadi Awal Mula Aktivitas Pertanian Manusia
Aviro D16 Spray Gimbal, Teknologi Pertama yang Diluncurkan Demi Tunjang Sistem Pertanian

Menurut para peneliti, pada kenyataannya tanaman dan makanan ditanam di bulan-bulan musim panas. Tentu ini menjadi temuan baru dari sistem pangan pertanian kuno. Kemungkinan besar, penelitian sebelumnya sangat kurang menghargai kapasitas dan ketahanan masyarakat di ekosistem semi-kering.

Penelitian baru ini juga menjadi bagian dari penelitian arkeologi yang berkembang dan memberi petunjuk di masa lalu, inovasi pertanian adalah inisiatif lokal. Inovasi tersebut kemudian diadopsi sebagai bagian dari strategi diversifikasi lokal jauh sebelum digunakan dalam rezim intensifikasi pertanian kekaisaran hingga kemajuan pertanian saat ini.

Video Terkait