Para Petani di Lombok Barat Kewalahan Hadapi Serbuan Burung ke Lahan Pertanian

Muzakir, petani di Lombok sedang mengusir hama burung menggunakan alat tradisional. (Foto: Sariagri/Yongki)

Editor: M Kautsar - Jumat, 14 Januari 2022 | 12:00 WIB

Sariagri - Kedatangan kawanan burung memasuki masa panen padi tahun ini membuat para petani di Desa Sembung, Kecamatan Narmada, Lombok Barat jengkel dan kebingungan dalam mengatasinya.

Pasalnya, kawanan burung ini menjadi hama bagi para petani karena tanaman padi milik mereka kerap digerogoti. Salah satu jenis burung yang dianggap cukup merusak yakni jenis burung pipit atau biasa disebut dengan burung emprit.

"Sudah sebulan ini kami kualahan karena kedatangan burung pipit, mereka memakan tanaman padi kami," kata Muzakir seorang petani milenial di kawasan itu, Kamis (13/1).

Burung dengan nama latin Lonchura leucogastra ini menyerang tanaman padi milik Muzakir dengan cara bergerombolan. Muzakir khawatir, jika ini terjadi terus menerus tanaman padi yang siap panen akan rusak dalam waktu singkat.

Serangan hama burung dianggap Muzakir cukup menimbulkan kerusakan pada tanaman padi miliknya, pasalnya tanaman padi yang sudah masuk pada fase kematangan itu secara perlahan terkikis habis dimakan burung pipit.

"Kalau kita tidak menjaganya habis tanaman padi kita, dong apa yang kita mau panen nanti," lanjutnya.

Pengendalian hama burung ini sudah dilakukan Muzakir dan para petani lain dengan berbagai cara. Sebagian petani memilih menggunakan cara tradisional, menggunakan orang-orangan sawah, jiwal dan ada juga yang menggunakan jaring.

Namun, upaya itu dirasa kurang efektif karena nyaris tidak membuahkan hasil untuk mengusir para kawanan burung pipit. Para petani kebingungan dan sudah kehabisan ide untuk menghalau hama burung tersebut.

"Sudah kita pakai tali, orang sawah sama kita tembak dia, tapi tetep saja dimakan padi ini," keluhnya.

Kerusakan akibat serangan burung dikatakan Muzakir sudah mencapai 10 persen dari luas areal pertaniannya, hal itu terjadi karena minimnya tenaga kerja yang ia miliki, maklum, Muzakir menggarap sawahnya itu hanya ditemani sang ayah. Belum lagi, alat tradisional untuk menghalau burung relatif mahal.

"Seperti jaring misalnya, kan harganya relatif mahal dan tidak sebanding dengan hasil yang petani dapatkan," ujarnya.



Muzakir berharap, para pakar pertanian dan pemerintah terkait bisa mencarikan solusi untuk mengusir burung, mengendalikan kedatangan mereka dan meminimalisir populasi burung agar petani tidak lagi terganggu jika kedatangan musim panen.

Perlu adanya sharing teknologi pertanian yang harus di berikan pemerintah melalui pendamping pertaniannya atau penyuluh pertanian, karena petani masih menggunakan cara-cara konvensional dalam menghalau serangan burung pipit.

Baca Juga: Para Petani di Lombok Barat Kewalahan Hadapi Serbuan Burung ke Lahan Pertanian
Patut Dicontoh, Begini Konsep Pertanian Berkelanjutan Ala Petani AS



Adapun dikatakan Muzakir bahwa petani juga berharap jangan hanya wacana saja pemerintah dalam hal ini dinas pertanian untuk transformasi terkonlogi pertanian menghadapi hama tersebut.

"Kita berharap juga agar ada alat atau tekhnologi baru untuk menghalau hama ini diberikan ke para petani," pungkasnya.

Video terkini:

Video Terkait