Penelitian: Gipsum dan Bahan Organik Efektif Kurangi Garam yang Berlebihan di Tanah

Ilustrasi lahan pertanian. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 6 Januari 2022 | 14:00 WIB

Sariagri - Lahan pertanian yang banyak mengandung garam dapat dipulihkan secara hemat biaya dengan menaburkan gipsum dan pupuk organik, diikuti dengan penanaman varietas tanaman yang tahan garam.

Cara ini merupakan hasil penelitian pada lahan pertanian gandum dan padi di dataran Indo-Gangga, India. Negara ini memiliki 2,8 juta hektar lahan, sebagian besar di dataran aluvial Indo-Gangga, yang 'sodik'. Gipsum dan pupuk organik (misalnya limbah tebu) terbukti bisa digunakan untuk mengolah kelebihan natrium, demikian dikutip dari phys.org.

Tanah sodik membatasi pergerakan air dan udara di dalam tanah, sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Masalah lain termasuk zona pembasahan dangkal, genangan air sementara dan penyimpanan air yang berkurang di zona akar.

Tanah menjadi sodik atau asin karena penyebab alami, pertanian intensif, drainase yang buruk dan ketersediaan air irigasi yang terbatas. Mengutip balitkabi.litbang.pertanian.go.id, yang disebut tanah sodik adalah tanah salin dengan pH>8,5 dan kejenuhan Na tinggi (ESP)>15%.

Mengatasi biaya tinggi

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), secara global lebih dari 833 juta hektar lahan pertanian adalah tanah yang mengandung garam, terutama di lingkungan kering atau semi-kering di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Diantara lahan tersebut 20 dan 50 persen merupakan tanah beririgasi yang terlalu asin, menyebabkan lebih dari 1,5 miliar orang di seluruh dunia menghadapi tantangan yang disebabkan oleh degradasi tanah.

Saat ini, remediasi tanah tanah sodik di India mengandalkan penambahan 50 persen gipsum diikuti dengan penanaman varietas tradisional beras dan gandum di lahan tersebut. Namun, cara ini semakin tidak terjangkau oleh petani kecil yang bertani di dataran tinggi Indo-Gangga yang membentang lebih dari 150.000 kilometer persegi.

Setiap hektar tanah sodik membutuhkan 12 hingga 16 ton gipsum untuk remediasi yang harganya mencapai 60 dolar AS per ton, sehingga tak terjangkau petani kecil dan marginal, kata studi tersebut. Para peneliti memperkirakan bahwa 60 persen dari total biaya reklamasi digunakan untuk gipsum, mineral yang menjadi langka karena permintaan untuk penggunaan non-pertanian.

Hasil penelitian

Menurut penelitian yang dilakukan di distrik Hardoi di dataran Indo-Gangga negara bagian Uttar Pradesh, perlakuan menggunakan 25 persen gipsum, 10 persen magnesium dan pressmud (pupuk organik yang terbuat dari residu tebu), diikuti dengan menabur varietas gandum dan beras yang tahan garam, bisa menghasilkan produktivitas dua kali lipat.Baca Juga: Penelitian: Gipsum dan Bahan Organik Efektif Kurangi Garam yang Berlebihan di Tanah
Balitbangtan Gelar Online Soil Judging Contest Pertama di Dunia



Petani tebu India menghasilkan sekitar 12 juta ton lumpur limbah tebu setiap tahun. Lumpur limbah tebu ini mengandung nutrisi, bahan organik, dan kalsium sulfat dalam jumlah tinggi, yang memasok kalsium langsung ke tanah untuk menggantikan kelebihan natrium.

Adopsi teknik pertanian seperti ini dinilai sangat cocok bagi petani, terutama para petani marginal dengan lahan yang tak terlalu luas, kata Vinay Kumar Mishra, penulis studi dan Direktur Laboratorium Penelitian Pertanian India di Barapani. 

Video Terkait