Petani Bawang Curhat ke Ketua DPR dari Soal Pupuk hingga Kerugian Panen

Puan Maharani bersama Petani Bawang Nganjuk. (Instagram Puan Maharani)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 22 Desember 2021 | 17:30 WIB

Sariagri - Ketua DPR RI Puan Maharani turut menanam bawang merah bersama petani di Nganjuk, Jawa Timur pada 21 Desember 2021. Ia pun banyak mendapat keluhan dari petani, mulai dari harga pupuk mahal hingga harga hasil panen yang jatuh.

Diketahui, jenis bawang merah yang ditanam kelompok petani di Nganjuk adalah bawang merah bibit yang harganya jauh lebih murah dibanding bawang merah sayur. Saat menaman bawang merah, Puan didampingi oleh tiga petani perempuan yaitu Damirah, Sriyani, dan Jiyem.

Mengenakan pakaian serba hitam dan sepatu boots, Puan beberapa kali hampir terperosok karena terjebak lumpur.Ia justru tersenyum dan tetap membantu petani menanam bibit bawang merah. Sambil menanam, sesekali Puan mengobrol bersama ibu-ibu petani.

Lahan pertanian di lokasi ini ditanami empat tanaman secara bergantian sepanjang tahun. Petani bergantian menanam padi, kedelai lokal, dan dua kali bawang merah. Usai menanam bawang merah, ia juga berdialog dengan petani di gubug di pematang sawah. Rata-rata petani mengeluhkan kurangnya stok pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk non-subsidi.

“Masalah pupuk, pada waktu tanam langka. Pengalokasian kurang, tidak mencukupi kebutuhan petani. Pengurangan pupuk subsidi membut harga pupuk non-subsidi naik tinggi, harganya mahal sekali bu,” kata seorang petani bernama Wakidi.

Kemudian harga hasil panen bawang merah yang rendah disebut membuat petani kewalahan. Bahkan harganya bisa anjlok sampai Rp 7.000 per kilogramnya. Dia berharap pemerintah memberikan solusi.“Pemerintah diam saja, tidak memberikan solusi yang baik. Petani tidak ada hasilnya apapun, malah rugi. Mohon untuk pemerintah, dibantu DPR, masalah harga dan pupuk untuk segera diselesaikan,” ujarnya.

Petani lainnya bernama Wiji bercerita banyak petani yang menggadaikan sertifikat tanahnya untuk modal saat musim tanam. Belum lagi nasib petani sewa yang juga kesulitan karena harga panen rendah sementara mereka hanya mendapat 1/4 dari hasil panen.

“Keadaan petani sangat memprihatinkan. Sertifikat (tanah) digadai semua sama petani di BRI. Petani tidak dikasih bantuan tidak apa-apa, yang penting harganya bisa stabil. Pemerintah harusnya ikut mengawasi,” tuturnya

“Kalau harga bawang merah tinggi, pasar dioperasi. Kalau harga murah, pemerintah nggak mengoperasi. Petani nggak ada digaji, kalau nggak gadai sertifikat petani nggak bisa tanam bawang merah bu,” ujarnya.

Regulasi impor baru yang mengakibatkan tingginya suplai bawang merah dari luar pun disebut makin merusak harga bawang lokal. Petani di Nganjuk juga berharap agar ada investor yang membangun pabrik pengolahan bawang merah, supaya akses petani ke pabrik lebih dekat sehingga harganya lebih stabil.

Kepada petani, Puan mengungkapkan siap membawa persoalan-persoalan tersebut untuk dicarikan solusi bersama pemerintah. Ia memperhatikan betul persoalan rendahnya harga hasil tanam saat musim panen, yang masih saja terus terjadi.

“Soal Pupuk subsidi nanti saya akan koordinasi dengan pemerintah pusat bagaimana caranya supaya alokasinya di Nganjuk bisa ditambah,” kata Puan.

Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI ini pun berharap agar perjuangannya nanti melalui sisi pengawasan regulasi dapat membuat harga panen bawang merah ke depan menjadi lebih baik.

“Ini bulan 2 tahun depan kan panennya ya? Nanti saya akan cek kembali. Hasilnya seperti apa. Mudah-mudahan harga bawang sudah bisa agak tinggi,” tuturnya.

Baca Juga: Petani Bawang Curhat ke Ketua DPR dari Soal Pupuk hingga Kerugian Panen
Hasil Panen Menurun, Ratusan Petani Bawang Keluhkan Kemunculan Ulat Grayak

Puan menjelaskan, persoalan harga hasil panen yang jatuh membutuhkan solusi yang terintegrasi. Mulai dari menanam bibit, panen, penyimpanan, distribusi, dan penjualan.

“Lalu saya juga dapat info tentang di banyak daerah tidak terdapat tempat penyimpanan yang baik sehingga begitu panen ya harus langsung dipasarkan. Ini juga membutuhkan solusi,” ujar Puan.

Video Terkait