Lawan Stigma Profesi Petani, Sarjana Teknik Ini Raup Omzet Ratusan Juta dari Bertani Kentang Dieng

Rizal Setiawan seraja teknik UGM yang memilih bertani. (Sariagri/Dwi Rachmawati)

Penulis: Tatang Adhiwidharta, Editor: Reza P - Selasa, 14 Desember 2021 | 11:00 WIB

Sariagri - Mencari pekerjaan sesuai latar belakang pendidikan bagi fresh graduate mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Jumlah angkatan kerja yang tinggi dan lapangan kerja terbatas membuat kompetisi semakin ketat di antara para sarjana muda.

Salah satunya seperti yang dialami oleh Rizal Setiawan, Sarjana Teknik jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini memutuskan menjadi petani kentang setelah berjibaku selama setahun mencari pekerjaan pada saat itu.

“Karena waktu lulus tahun 2016 itu rasanya cari kerja agak susah, akhirnya 2017 saya memutuskan balik ke desa dan melihat potensi pertanian kentang yang masih sangat besar. Dari sana saya memilih untuk meneruskan profesi orang tua sebagai petani saja,” kata Rizal kepada Sariagri.

Melawan stigma profesi petani

Kenyataannya tidak sedikit orang yang meremehkan keputusan Rizal menjadi petani setelah mengantongi gelar sarjana. Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa seorang sarjana dari pendidikan tinggi justru memilih balik ke desa dan bertani.

Rizal pun mengabaikan stigma atau pandangan dan penilaian orang terhadap keputusannya berprofesi sebagai petani. Karena menurutnya, menjadi petani merupakan tekad bulat.

“Kalau saya pribadi biasa saja kalau ada orang yang menyayangkan seorang sarjana seperti saya lebih pilih bertani, karena rezeki menurut saya sudah diatur. Kalau memang ada jalan yang benar dan punya potensi bagus kenapa harus dilewatkan? Mereka yang berfikir bertani itu tidak menjamin masa depan kebanyakan masih memandang rendah profesi seorang petani,” jelas Rizal.

Setelah 4 tahun bertani kentang, kini ia telah mengelola kebun kentang seluas 3 hektar di lokasi tersebut. Rizal mengungkapkan, kentang dieng dipilih sebagai komoditas budi daya karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan harga cenderung stabil. Selain itu, kentang juga memiliki daya simpan yang lebih lama sehingga risiko panen lebih kecil dari pada sayuran lainnya.

Pendapatan bertani kentang

Untuk pendapatan bertani kentang, Rizal mengatakan tidak bisa dianggap remeh dan dapat bersaing dengan pendapatan karyawan di kantoran.

Modal produksi untuk satu hektar kebun kentang dibutuhkan biaya sekitar Rp120 juta. Rizal menyebutkan, rata-rata produktivitas lahan yang digarap bisa mencapai 15 – 20 ton kentang per hektar. Harga kentang dieng di tingkat petani rata-rata berkisar Rp8 – 12 ribu per kilogram.

“Dari angka tersebut ambil saja tengahnya, produksi 18 ton per hektar dikalikan dengan harga tengah Rp10 ribu per kilogram,” ungkap Rizal.

Jadi, dalam satu kali musim tanam, Rizal dapat mengantongi pendapatan sekitar 60 juta per hektar lahan kentang. Sementara Ia menggarap 3 hektar lahan kentang dan selama setahun bisa menanam 3 kali, maka total pendapatan Rizal selama setahun dari bertani kentang bisa mencapai setengah miliar rupiah.

Setia pada pertanian

Baca Juga: Lawan Stigma Profesi Petani, Sarjana Teknik Ini Raup Omzet Ratusan Juta dari Bertani Kentang Dieng
20 Tahun Jadi Guru, Pria Ini Putuskan Pindah ke Desa dan Jadi Petani Kentang

Hidup dari kecil di lingkungan pertanian membuat Rizal yakin dengan pilihannya menjadi petani kentang. Dukungan pun mengalir dari orang tuanya untuk terus melanjutkan pertanian yang telah menjadi bagian dari hidup mereka.

“Kalau untuk pertanian saya pribadi tidak akan meninggalkannya, karena saya hidup dari kecil sampai sekarang dari pertanian kentang. Potensi yang besar ini harus tetap dilestarikan dan dikelola dengan baik. Ke depan saya berharap bisa mengembangkan usaha di pertanian ini dari mulai hulu hingga hilirnya,” pungkas Rizal.

Video Terkait