FAO: Plastik di Tanah Pertanian Bisa Mengancam Ketahanan Pangan

Ilustrasi lahan pertanian. (pixabay)

Editor: Dera - Rabu, 8 Desember 2021 | 18:40 WIB

Sariagri - Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperingatkan bahaya polusi plastik yang telah menyebar di lahan pertanian di seluruh dunia.

Kondisi ini memberi ancaman serius tidak saja bagi lingkungan dan ketahanan pangan, tapi juga kesehatan masyarakat global. Penegasan itu disampaikan FAO dalam sebuah laporan yang dirilis Selasa (7/12).

Dalam laporannya, FAO menunjukkan bahwa tanah yang kita gunakan untuk menanam makanan terkontaminasi dengan polutan plastik dalam jumlah yang lebih besar.

"Tanah adalah salah satu reseptor utama plastik pertanian dan diketahui mengandung mikroplastik dalam jumlah yang lebih besar daripada lautan", kata Wakil Direktur Jenderal FAO Maria Helena Semedo dalam kata pengantar laporan tersebut.


Menurut data yang dikumpulkan oleh para ahli FAO, rantai nilai pertanian setiap tahun menggunakan 12,5 juta ton produk plastik, sementara 37,3 juta lainnya digunakan dalam kemasan makanan.

Produksi tanaman dan ternak menyumbang 10,2 juta ton per tahun secara kolektif, diikuti oleh perikanan dan budidaya dengan 2,1 juta, dan kehutanan dengan 0,2 juta ton.

Asia diperkirakan menjadi pengguna plastik terbesar dalam produksi pertanian, terhitung hampir setengah dari penggunaan global. Selain itu, tanpa alternatif yang layak, permintaan plastik di pertanian hanya akan meningkat. Karena permintaan plastik pertanian terus melonjak, Semedo menggarisbawahi perlunya memantau dengan lebih baik jumlah yang "bocor ke lingkungan dari pertanian".

Melansir Beijing News, sejak diperkenalkan secara luas pada 1950-an, plastik telah ada di mana-mana. Di bidang pertanian, produk plastik sangat membantu produktivitas, seperti dalam menutupi tanah untuk mengurangi gulma atau jaring untuk melindungi dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Plastik juga digunakan untuk melindungi bibit dan anakan dari binatang dan membantu menyediakan iklim mikro yang meningkatkan pertumbuhan.

Namun dari sekitar 6,3 miliar ton plastik yang diproduksi sebelum 2015, hampir 80 persennya tidak pernah dibuang dengan benar. Sementara efek barang-barang plastik besar pada fauna laut telah didokumentasikan dengan baik, dampak yang dilepaskan selama kehancurannya berpotensi mempengaruhi seluruh ekosistem.

Ancaman bahaya mikroplastik

Mikroplastik yang berukuran kurang dari 5 mm bahkan telah ditemukan di kotoran manusia dan plasenta, serta ditularkan ke janin melalui ibu hamil mereka. Sementara sebagian besar penelitian ilmiah tentang polusi plastik telah diarahkan pada ekosistem perairan, para ahli FAO mengatakan bahwa tanah pertanian diperkirakan menerima mikroplastik dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Karena 93 persen kegiatan pertanian global terjadi di darat, FAO menandaskan penyelidikan lebih lanjut di bidang ini diperlukan.

"Laporan ini berfungsi sebagai seruan keras untuk tindakan terkoordinasi dan tegas untuk memfasilitasi praktik manajemen yang baik dan mengekang penggunaan plastik yang membawa bencana di seluruh sektor pertanian", kata wakil kepala FAO.

Rekomendasi utama

Meski pelarangan plastik secara menyeluruh sulit dilakukan, laporan tersebut mengidentifikasi beberapa solusi berdasarkan model "Tolak, Desain Ulang, Kurangi, Gunakan Kembali, Daur Ulang, dan Pulihkan". Baca Juga: FAO: Plastik di Tanah Pertanian Bisa Mengancam Ketahanan Pangan
Tunda Swasembada Pangan, Begini Upaya Yordania untuk Tingkatkan Hasil Pertanian



Laporan tersebut juga merekomendasikan pengembangan kode etik sukarela yang komprehensif untuk semua aspek plastik di seluruh rantai pangan pertanian dan menyerukan penelitian lebih lanjut, terutama tentang dampak kesehatan mikro dan nanoplastik.

“FAO akan terus memainkan peran penting dalam menangani masalah plastik pertanian secara holistik dalam konteks ketahanan pangan, nutrisi, keamanan pangan, keanekaragaman hayati dan pertanian berkelanjutan”, ujar Semedo

Video Terkait