BRIN dan IPB Teliti Perubahan Karakteristik Hewan dan Tumbuhan di Kebun Raya Bogor 

Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.(Istimewa)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 25 November 2021 | 10:00 WIB

Sariagri - Sejak September 2021, periset BRIN melakukan penelitian di area Kebun Raya Bogor, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Plt Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor BRIN Sukma Surya Kusumah mengatakan, ada tiga riset yang dilakukan untuk melihat perubahan karakteristik hewan dan tumbuhan. 
  
Sukma menjelaskan, desain penelitian pertama mengenai topik Permodelan Spasial Dampak Cahaya Malam Buatan terhadap Kesehatan Tumbuhan Menggunakan Unmanned Aerial Vehicle dan Pembelajaran Mesin (Studi Kasus Kebun Raya Bogor).

Penelitian itu akan mengidentifikasi area dan tumbuhan yang terpapar cahaya malam buatan baik dari dalam maupun luar kawasan Kebun Raya Bogor, menganalisis dampak cahaya malam buatan terhadap kandungan klorofil dan nitrogen pada daun tumbuhan yang terpapar dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi dampak cahaya malam buatan terhadap tumbuhan membangun model spasial kerentanan tumbuhan terhadap cahaya malam buatan. 
  
“Penelitian yang akan dilakukan selama setahun dari bulan Januari hingga Desember 2022 tersebut akan meneliti sekitar 300 pohon untuk sampel penelitian,” ujarnya.

OR BRIN yang terlibat dalam penelitian antara lain OR Ilmu Pengetahuan Hayati dan OR Penerbangan dan Antariksa. Dalam prosesnya, penelitian ini akan melibatkan para peneliti dari LPPM IPB. 

Penelitian kedua, mengenai Analisis Pengaruh Cahaya Malam Buatan/Artificial Light at Night (ALAN) pada Fungsi-fungsi Ekofisiologi Beberapa Jenis Tumbuhan Tropis Kebun Raya Bogor. Penelitian yang telah dimulai sejak November 2021 dan direncanakan hingga Desember 2022 itu dilakukan tim peneliti Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (OR Ilmu Pengetahuan Hayati), Pusat Riset Fisika (OR Ilmu Pengetahuan Teknik) dan OR Tenaga Nuklir, serta IPB. 
  
Dikatakan Sukma, para peneliti akan mengkaji pengaruh ALAN pada fungsi-fungsi ekofisiologi beberapa jenis tumbuhan tropis. Selain itu, penelitian itu untuk mengetahui spektrum (panjang gelombang) ALAN yang memiliki pengaruh minimal terhadap fungsi-fungsi ekofisiologi tumbuhan tropis dan ingin mengetahui intensitas radiasi ALAN yang memiliki pengaruh minimal terhadap fungsi-fungsi ekofisiologi tumbuhan tropis. 
  
Parameter yang akan diamati dalam penelitian itu antara lain panjang daun, luas daun, ketebalan daun, warna daun, kerapatan stomata, konduktansi stomata, klorofil total, laju fotosintesis, laju rerspirasi, senyawa metabolit sekunder, dan ekspresi gen.

“Kami akan melakukan dengan tiga perlakuan yaitu tipe cahaya, intensitas, dan durasi,” tambahnya. 
  
Dia mengatakan, studi lapangan dan studi eksperimental botani yang dilakukan dalam penelitian ini akan berlangsung selama enam bulan. Studi lapangan akan menggunakan kurang lebih 24 sampel per jenis sedangkan studi eksperimental menggunakan 162 sampel per jenis. 
  
Plt. Deputi bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi Yan Rianto mengatakan, Kebun Raya Bogor sebagai platform riset memberikan tantangan dan peluang bagi peneliti lintas disiplin ilmu.

“Salah satu area yang menjadi lokasi penelitian tersebut adalah pelaksanaan night botanical garden di area Glow yang dibuka terbatas secara jumlah pengunjung, lokasi, dan waktu, menyesuaikan kebutuhan riset. Dalam prosesnya, para peneliti akan melakukan riset komparatif di beberapa titik Kebun Raya Bogor dan memungkinkan juga melakukannya di beberapa kebun raya lainnya,” tandasnya. 
  
Untuk diketahui, Glow merupakan sebuah platform riset dan inovasi program edukasi yang dilakukan BRIN. Tujuannya untuk menyampaikan pengetahuan bidang hayati kepada publik dalam bentuk visual yang komunikatif. Aktivitas Glow berlangsung pada malam hari dengan memanfaatkan teknologi cahaya yang dinamis. 
  
Peneliti Pusat Riset Biologi BRIN Encilia mengungkapkan sebelumnya studi pendahuluan mengenai dampak teknologi cahaya Glow terhadap serangga telah dilakukan pada September 2021 dengan kondisi bulan penuh dan bulan mati. Serangga yang mencolok terlihat tertarik dengan cahaya Glow adalah koloni lebah madu raksasa Apis dorsata. Dari hasil pengamatan, terlihat jelas kelimpahan lebah Apis dorsata lebih tinggi saat fase bulan mati dibandingkan fase bulan penuh.

Baca Juga: BRIN dan IPB Teliti Perubahan Karakteristik Hewan dan Tumbuhan di Kebun Raya Bogor 
Terungkap, Kinerja Terbang Lebah Ternyata Dipengaruhi Suhu Lingkungan

"Dan juga, pengamatan dari sejumlah titik lampu, diperoleh bahwa terdapat beberapa titik lampu bercahaya biru yang dikerubungi oleh lebah Apis dorsata dalam jumlah lebih banyak dibandingkan misalnya titik lampu berwarna merah. Namun fenomena tersebut tidak ditemukan di semua lokasi GLOW. Hal ini diduga dipengaruhi oleh letak sarang mereka dan pencahayaan dari luar KRB,” jelasnya.  
  
Untuk riset selanjutnya, dia bersama Profesor Hari Sutrisno dan tim peneliti Pusat Riset Biologi BRIN lainnya akan melakukan komparasi keanekaragaman serangga antara zona gelap dan terang, komparasi pengaplikasian cahaya Glow di Kebun Raya Bogor di beberapa titik lokasi, serta penelitian tentang salah satu jenis polinator yang bermigrasi dan menjadikan KRB sebagai tempat bersarang.

“Kami ingin mengetahui seberapa jauh pegaruh keberadaan cahaya GLOW terhadap populasi polinator dan seberapa besar pengaruhnya pada proses penyerbukan. Selain itu, kami juga akan meneliti serangga hama terutama yang tertarik pada cahaya,” pungkasnya. 

Video terkait:


  

Video Terkait