Berdampak pada Pertanian, RI dan FAO Ingatkan Hati-hati Gunakan Antimikroba

Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal.(Antara/Naufal Fikri Yusuf)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 24 November 2021 | 20:10 WIB

Sariagri - Pemerintah Indonesia bersama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO) mengajak masyarakat agar berhati-hati dalam menggunakan antimikroba untuk mencegah resistensi antimikroba (AMR) yang disebabkan penggunaan tidak tepat.

Antimikroba meliputi antibakteri atau antibiotik, antivirus, antijamur yang merupakan obat untuk mencegah dan mengobati infeksi mikroorganisme patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan.

"Sekitar 700.000 kematian manusia setiap tahun memiliki keterkaitan dengan AMR. AMR disebut sebagai 'pandemi tersembunyi' yang berdampak pada kesehatan hewan dan manusia," ujar Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal saat acara puncak Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia 2021 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (24/11/2021).

Menurut dia, AMR tengah meningkat pada level yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia dan mengancam kemampuan manusia untuk dapat mengobati penyakit menular umum seperti pneumonia dan tuberculosis.

Demikian pula dengan penyakit infeksi pada hewan, khususnya ternak yang menjadi semakin sulit atau bahkan tidak mungkin untuk diobati, ketika antibiotik menjadi kurang efektif.

"Pada sektor pertanian, ini tentu menyebabkan kerugian dalam proses produksi, berdampak pada mata pencaharian dan mengancam ketahanan pangan. Selain itu AMR dapat menyebar di antara inang dan lingkungan yang berbeda dan mikroorganisme yang resisten terhadap antimikroba dapat mencemari rantai makanan," jelasnya.

Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia, mengajak seluruh masyarakat global termasuk pemangku kepentingan untuk dapat meningkatkan kepedulian tentang bahaya AMR serta pentingnya penggunaan antimikroba dengan bijak.

"Kami ingin mengajak semua pemangku kepentingan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dan masyarakat untuk menjadi pejuang kesadaran resistensi antimikroba dalam keluarga komunitas dan lingkungan kerja," kata Rajendra Aryal.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam sambutan yang disampaikan secara virtual mengatakan, untuk sektor pertanian, peternakan, dan kesehatan hewan, AMR menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ketahanan pangan.

Baca Juga: Berdampak pada Pertanian, RI dan FAO Ingatkan Hati-hati Gunakan Antimikroba
Presiden: Mekanisasi Pertanian Perlu Dikenalkan kepada Seluruh Petani

"Selain tentunya ini juga mengancam pengembangan kesehatan hewan yang berkelanjutan," ungkapnya.

Menurut dia, sektor pertanian akan sulit untuk menahan ancaman sebesar itu sehingga pihaknya berkomitmen menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas sektor pertanian dalam mengelola risiko AMR dan membangun ketahanan terhadap dampak AMR," kata Mentan.(Ant)

Video terkait:

Video Terkait