Skenario Kementan Antisipasi Badai La Nina pada Sektor Pertanian

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.(Dok.Kementan)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 4 November 2021 | 16:20 WIB

Sariagri - Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan skenario dalam mengantisipasi dampak La Nina pada sektor pertanian seperti yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menegaskan, dalam situasi dan kondisi apapun, sektor pertanian harus terus berjalan dan tidak boleh terganggu apapun.

"Pertanian ini tidak boleh terganggu oleh apapun, sebab pertanian merupakan sektor yang berkaitan dengan pemenuhan hajat hidup seluruh rakyat Indonesia. Jadi, apapun situasinya, pertanian harus tetap berjalan," ujar Mentan melalui keterangan tertulis, Kamis (4/11/2021).

Sementara Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil menjelaskan dari  aspek mitigasi ada dua skenario yang telah disiapkannya. Pertama, aspek forecasting, yaitu secara teoritis masalah banjir dapat diminimalkan risikonya jika kemampuan prakiraan musim dapat dilakukan lebih awal dan akurat.

"Kedua adalah aspek deliniasi wilayah rawan banjir perlu dilakukan untuk menyusun strategi antisipasi dan memfokuskan penanganan masalah banjir secara spasial dan temporal (antarwaktu)," kata Ali. 

Aspek deliniasi juga mengilustrasikan pergeseran dan atau peningkatan wilayah rawan banjir dan kekeringan.

Sementara untuk adaptasi, Ali menyebut ada empat langkah yang telah disiapkan. Pertama, ketersediaan informasi dan teknologi tentang banjir dan kekeringan. Kedua, kebijakan dan perencanaan pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim, termasuk terhadap iklim ekstrem yakni banjir dan kekeringan. 

"Berikutnya adalah sistem pendukung kelembagaaan pertanian yang responsif terhadap banjir dan kekeringan," katanya.

Keempat, membangun kepedulian masyarakat, mengilustrasikan pergeseran dan atau peningkatan wilayah rawan banjir dan kekeringan.

"Kami juga membangun sinkronisasi dan sinergitas dengan kementerian/lembaga terkait secara partisipatif dan berkelanjutan," katanya.

Kementan telah menetapkam tujuh langkah untuk mengantisipasi musim hujan yang mulai intens mengguyur wilayah Indonesia.

Pertama, sosialisasi dan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang rawan banjir. Kedua, secara intensif menginformasikan data iklim dari BMKG. Ketiga, percepatan tanam untuk daerah yang puncak genangan di bulan Desember 2021 dan Januari 2022. 

Baca Juga: Skenario Kementan Antisipasi Badai La Nina pada Sektor Pertanian
Antisipasi Perubahan Iklim, Pupuk Indonesia Persiapkan Stok Lebih Dini

Keempat, pada daerah rawan banjir, pompa-pompa air harus disiapkan. Begitu juga dengan normalisasi saluran, pengaturan air melalui embung, DAM parit, longstorage dan lainnya. Kelima, dalam melakukan percepatsn tanam, brigade tanam segera dikerahkan. Begitu juga dengan prasarana pendukung seperti traktor, pupuk, benih dan lainnya. 

"Berikutnya adalah menggunakan varietas tahan genangan. Terakhir adalah memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP)," pungkasnya 

Video terkait:

Video Terkait