Mengenal Jewawut, Tanaman Pangan Kaya Nutrisi yang Kerap Terabaikan

Ilustrasi tanaman jewawut (Sulbar litbang pertanian)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 4 November 2021 | 19:20 WIB

Sariagri - Jewawut merupakan salah satu tanaman pangan atau sejenis tanaman serealia berbiji kecil. komoditas ini pernah menjadi makanan pokok di berbagai negara di dunia, termasuk beberapa daerah di Indonesia sebelum budidaya padi dikenal.

Komoditas satu ini telah dibudidayakan sejak 5000 SM di Cina dan 3000 SM di wilayah Eropa. Selain Asia dan Eropa, tanaman ini juga pernah menjadi makanan pokok penting di Afrika Utara.

Jewawut pertama kali diperkenalkan ke Indonesia melalui Cina yang bermigrasi sekitar 3000 tahun lalu. Sejak itu, tanaman pangan ini mulai dikenal luas di Indonesia dan dijadikan makanan pokok di beberapa daerah.

Sayangnya, Jawawut atau Jewawut mulai dilupakan dan terabaikan. Padahal tanaman pangan ini memiliki kandungan nutrisi seperti, protein dan kalsium yang lebih baik ketimbang beras.

Di Sulawesi Barat tanaman pangan ini dikenal masyarakat dengan nama Tarreang atau Bailo, khususnya di Majene dan Polewali Mandar.

Sedangkan beberapa daerah lain di Indonesia dikenal dengan berbagai nama lokal yang berbeda-beda seperti ba'tan (Toraja), jawa (Palembang), jaba ikur (Batak), jaba ure (Toba), jelui (Riau), sekui (Melayu), sekuai, sakui, sakuih (Minangkabau), randau (Lampung), dan jawae (Dayak).

Mengutip dari laman sulbar litbang pertanian, tanaman jewawut memiliki adaptasi yang baik pada daerah yang curah hujannya rendah sampai daerah kering. Kandungan karbohidrat mendekati beras 75 persen, namun kandungan proteinnya lebih tinggi 11 persen dari beras 7 persen, terutama protein gluten.

Tanaman pangan ini mengandung berbagai komponen penting yang berpotensi meningkatkan kesehatan tubuh, antara lain senyawa antioksidan, senyawa bioaktif, dan serat, sehingga sangat potensial sebagai salah satu bahan diversifikasi pangan.

Pada dasarnya, jewawut termasuk tanaman yang cukup mudah ditanam. Hanya saja, tanaman ini dianggap kurang berkelas dibandingkan beras. Itulah sebabnya jewawut kalah populer dan budidaya tanaman ini semakin hari semakin berkurang.

Jika kamu berminat untuk menanam kembali tanaman pangan ini, begini cara budidaya Jewawut dikutip dari laman cybex pertanian.

Pemilihan Lahan

Berbeda dengan padi, tanaman ini kurang begitu tahan terhadap air yang menggenang. Namun, tanaman ini juga tidak bisa bertahan lama ketika kekeringan melanda. Dengan kata lain, tanaman pangan ini bisa tumbuh dengan subur di daerah semi kering.

Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis, baik didataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut. Baik di tanah berpasir, tanah gembur, tanah liat, tanah gersang ataupun tanah pinggiran, semua adalah media yang bisa ditumbuhi oleh tanaman pangan ini.

Pemilihan Benih

Tanaman ini bisa tumbuh dari bijinya, oleh karenanya kamu bisa secara langsung menebar benihnya ke tanah yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Terdapat dua ukuran benih tanaman ini, ada yang berukuran kecil dan ada yang besar.

Penanaman

Cara menanam benih bisa dilakukan secara langsung tanpa proses persiapan terlebih dahulu. Kamu membutuhkan satu jumput benih untuk dimasukkan ke dalam lubang dengan jarak 70×25 cm. Untuk satu hektar tanah, setidaknya kamu akan membutuhkan 8 sampai 10 kg benih.

Baca Juga: Mengenal Jewawut, Tanaman Pangan Kaya Nutrisi yang Kerap Terabaikan
Cegah Gangguan Ketahanan Pangan, Cina Siapkan Langkah Tegas

Pemupukan

Pemupukan dilakukan secara berkala sejak benih mulai ditanam. Kamu bisa menggunakan pupuk urea, TSP ataupun KCL.

Pengairan

Pengairan sebaiknya dilakukan secukupnya saja mengingat tanaman ini tidak tahan terhadap air yang menggenang. Cukup lakukan sebanyak dua kali sehari supaya terjaga dari kekeringan.

Panen

Tanaman ini sudah bisa dipanen ketika berusia 3 hingga 4 bulan. Tandanya adalah biji dari tanaman ini sudah mulai mengeras, pucuknya berubah menjadi kuning dan mengering.

Video Terkait