Gawat! Produksi Pertanian Akan Tinggal Sepertiga Akibat Perubahan Iklim

Ilustrasi lahan pertanian. (Pixabay/Sasin Tipchai)  

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 12 Oktober 2021 | 22:30 WIB

Sariagri - Para ilmuwan memperkirakan, pemanasan global akan menyebabkan turunnya produksi pertanian hingga sepertiganya dari produksi pertanian saat ini. Hal ini akan mengarah pada potensi kelangkaan pangan yang meluas.

Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan ingin mengembalikan budidaya tanaman purba yang disesuaikan dengan perubahan iklim. Menurut para ilmuwan perubahan iklim akan membawa dampak serius pada produksi pertanian. Bahkan makanan yang dianggap remeh bisa menjadi jauh lebih langka jika kita tidak bisa menciptakan tanaman pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim.

Pusat Kentang Internasional memperkirakan penurunan 32 persen dalam panen kentang dan ubi jalar pada tahun 2060 karena perubahan iklim, sementara beberapa perkiraan lain mengatakan, petani kopi akan kehilangan setengah dari lahannya sebelum tahun 2050.

Padi, tanaman pangan pokok terpenting di dunia, berkontribusi besar terhadap pemanasan global dengan melepaskan metana saat dibudidayakan. Akibatnya, perubahan iklim terjadi dan air laut terus naik memasukkan terlalu banyak garam ke dalam air yang membanjiri sawah dan akhirnya mengancam kehidupan padi itu sendiri.

Selama lebih dari 10.000 tahun manusia telah menggunakan pembiakan selektif untuk mengadaptasi buah dan sayuran dengan kondisi pertumbuhan tertentu, yang saat ini berubah pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Cara pembiakan itu di satu sisi menguntungkan karena meningkatnya hasil panen, tapi di sisi lain telah membuat tanaman rentan terhadap kenaikan suhu, kekeringan, hujan lebat, penyakit baru atau wabah serangga.

"Ketika Anda memilih sifat 'terbaik' (seperti hasil yang lebih tinggi), Anda juga akan kehilangan jenis gen tertentu," kata Benjamin Kilian, pimpinan proyek Crop Wild Relatives Project di Crop Trust, kepada AFP, seperti dikutip forbesindia.com.

"Kami kehilangan keragaman genetik selama sejarah domestikasi... oleh karena itu potensi tanaman elit untuk lebih beradaptasi di masa depan, termasuk terhadap perubahan iklim dan tantangan lainnya, menjadi terbatas," imbuhnya.

Sebagai jawabannya, ia ingin memperkenalkan kembali keragaman genetik tanaman itu dengan kembali ke nenek moyang liar tanaman pertanian.

Bank Gen

Dari contoh kasus padi, para ilmuwan percaya bahwa nenek moyang tanaman padi sebelumnya, mungkin memiliki ketahanan terhadap air asin atau suhu tinggi yang dikodekan ke dalam gen mereka. Namun untuk mendapatkannya kembali, para ahli harus mencari nenek moyang tanaman padi di alam liar.

"Kita perlu menggunakan keanekaragaman hayati sebanyak yang kita bisa... karena mengurangi risiko, memberikan pilihan," kata pakar pertanian Marleni Ramirez dari Biodiversity International.

Salah satu sumber daya potensial adalah bank gen, seperti Bank Benih Milenium Kew yang memiliki hampir 40.000 spesies tanaman liar, meski tidak semua kerabat liar ada di bank gen.



Berpacu dengan waktu

Para ilmuwan seolah berlomba dengan waktu untuk mencari kerabat liar tanaman sumber bahan makanan, sebelum tanaman-tanaman itu punah ditelan perubahan iklim. Dalam kurun waktu 2013 - 2018, sebuah perusahaan Global Crop Diversity Trust, telah mengumpulkan lebih dari 4.600 sampel dari 371 kerabat liar dari 28 tanaman prioritas termasuk gandum, beras, ubi jalar, pisang, dan apel.

Sementara ahli botani Aaron Davis yang bekerja di Kew Royal Botanic Gardens yang bermitra dengan Crop Trust, telah menemukan spesies kopi liar di Sierra Leone yang lebih tahan terhadap perubahan iklim daripada arabika yang dipanen secara luas.

"Jika kita pergi ke Sierra Leone dalam 10 tahun, (tanaman kopi) itu mungkin sudah punah," kata Davis. "Dari 124 spesies kopi, 60 persen terancam punah, termasuk yang mungkin kita gunakan untuk membiakkan kopi baru yang tangguh," imbuhnya.

Dalam survei di empat negara Amerika Tengah, satu dari empat tanaman yang dianalisis terancam punah, termasuk 70 spesies liar yang terkait dengan tanaman budidaya utama seperti jagung dan labu.

Bahan makanan pengganti

Tanaman liar seperti yang diusulkan para ilmuwan mungkin tidak dapat beradaptasi dengan pertanian skala besar untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk dunia. Sementara, menciptakan varietas baru dapat memakan waktu bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Karenanya para ilmuwan juga menyarakankan perlunya menemukan alternatif bahan pangan baru, agar manusia tidak bergantung pada bahan pokok tertentu.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), meskipun planet ini adalah rumah bagi sekitar 50.000 tanaman yang dapat dimakan, hanya tiga di antaranya yakni beras, jagung, dan gandum yang telah diolah dan menyediakan 60 persen asupan energi makanan dunia.

Baca Juga: Gawat! Produksi Pertanian Akan Tinggal Sepertiga Akibat Perubahan Iklim
Soal Benih Masih Jadi Permasalahan Petani, Pakar IPB sebut Metode Ini Bisa Jadi Solusi



Jika ketiga tanaman pokok ini hilang, maka miliaran orang akan bertanya-tanya apa yang harus dimakan, dan jutaan petani harus mencari cara baru untuk bertahan hidup.

Video Terkait