Ilmuwan Temukan Cara Produksi Hormon Pengendali Gulma dari Ragi dan Bakteri

Ilustrasi gulma tanaman pengganggu. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 20 September 2021 | 12:40 WIB

Sariagri - Strigolakton merupakan salah satu kelompok senyawa hormon tumbuhan yang membantu tanaman akar membentuk hubungan simbiosis dengan mikroorganisme tanah sehingga memudahkan  penyerapan nutrisi dan hara. 

Selain itu, strigolakton mempunyai fungsi lain, yaitu dapat mencegah tunas dan percabangan yang berlebihan pada tumbuhan serta dapat digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma dan akar gulma.

Sebuah studi terbaru yang dipimpin University of California di Riverside telah berhasil mensintesis senyawa strigolakton dari mikroba untuk mempermudah produksi hormon secara komersial seperti herbisida baru dan pupuk hayati.

Bersama dengan peneliti dari National University Singapore, kelompok peneliti ini membuat sebuah proyek untuk memproduksi strigolakton dengan memasukkan gen tanaman terkait ke dalam ragi roti biasa dan bakteri Escherichia coli non patogen.

“Pekerjaan kami menyediakan platform unik untuk menyelidiki biosintesis dan evolusi strigolakton, dan meletakkan dasar untuk mengembangkan proses bioproduksi mikroba strigolakton sebagai sumber alternatif,” kata Yanran Li.

Ragi dan bakteri E.coli dibiakkan bersama dalam media yang sama, E.coli dan ragi bekerja sebagai satu tim. Dijelaskan peneliti, E.coli berperan membuat enzim karlakton dan kemudian ragi mengubahnya menjadi berbagai produk akhir strigolakton. Metode ini diketahui juga menghasilkan strigolakton yang cukup untuk diekstraksi dan dipelajari.

Melalui cara itu, peneliti kemudian mengidentifikasi fungsi enzim biosintetik srtigolakton. Hasilnya menunjukkan jeruk manis dan anggur memiliki potensi untuk mensintesis strigolakton tipe orobanchol.

Baca Juga: Ilmuwan Temukan Cara Produksi Hormon Pengendali Gulma dari Ragi dan Bakteri
Sempat Dianggap Tak Menguntungkan, Program Makmur Tingkatkan Produktivitas Benih Kangkung

“Kultur gabungan antara ragi dan bakteri baru menyediakan cara yang nyaman bagi para ilmuwan untuk menyelesaikan pekerjaan seperti itu karena bakteri membuat karlakton. Dengan penemuan lebih banyak enzim dan optimalisasi konsorsium mikroba, kami dapat memproduksi strigolakton dalam jumlah banyak di masa depan,” kata Kang Zhou dikutip phys.org.

Namun, peneliti juga mengatakan, senyawa strigolakton juga berisiko merangsang perkecambahan gulma striga (witchweed) dan broomrapes yang kerap disebut gulma parasit atau rumput setan yang dapat menyebabkan seluruh tanaman biji-bijian (serealia) gagal tumbuh. Karena itu, para peneliti masih mempelajari tentang peran fisiologis yang dimainkan kelompok hormon pada tumbuhan.

Video terkait:

 

Video Terkait