Ini Penyebab Tanaman Padi Dapat Bertahan Dalam Kekeringan

Berita Pertanian - ilustrasi padi (pixabay)

Editor: M Kautsar - Senin, 20 September 2021 | 07:00 WIB

Sariagri - Seorang ilmuwan Filipina di Institut Penelitian Padi Filipina (Philippine Rice Research Institute/PhilRice), bersama dengan tim peneliti dari Universitas Nagoya di Jepang, telah menemukan gen dalam beras mutan yang dapat membantu tanaman bertahan dari kekeringan.

Dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilaporkan Inquirer, PhilRice mengumumkan bahwa Nonawin Lucob-Agustin dan tim Nagoya mengidentifikasi gen yang disebut pertumbuhan pemanjangan akar bergelombang 1 atau weg1.

Gen tersebut diketahui dapat membantu padi yang ditanam di dataran rendah dan mengandalkan curah hujan untuk irigasinyaMenurut Agustin, weg1 ditemukan pada mutan varietas padi Taichung 65 yang memiliki akar tetua bergelombang.

Akar bergelombang ditemukan sangat bercabang dibandingkan dengan akar lurus, katanya.

Dia menambahkan bahwa sistem akar yang sangat bercabang memungkinkan tanaman untuk mengeksplorasi lingkungan bawah tanah untuk mencari air dan nutrisi. Kondisi itu dapat berarti tanaman dapat mempertahankan kelangsungan hidup dan produktivitasnya dalam kondisi kekeringan.

Adanya perubahan iklim telah berdampak besar secara ekonomi pada sektor pertanian. Dalam studi terbaru yang diterbitkan di Nature Climate Change menyebutkan bahwa perubahan iklim telah mengurangi produktivitas pertanian global hingga 21 persen.

Tim peneliti yang dipimpin ekonom Ariel Ortiz-Bobea dari Cornell University, Amerika Serikat (AS) mengembangkan model efek cuaca terhadap produktivitas, baik dengan maupun tanpa kondisi perubahan iklim.

Baca Juga: Ini Penyebab Tanaman Padi Dapat Bertahan Dalam Kekeringan
Ini Daerah yang Dapat Penghargaan Abdi Bakti Tani 2021

Dilansir dari Cosmos Magazine, mereka menemukan bahwa potensi produktivitas pertanian telah mengalami penurunan sebesar 21 persen sejak tahun 1961. Angka penurunan lebih tinggi terjadi di negara hangat seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Karibia, yang mencapai 26 hingga 34 persen.

Agustin meraih gelar sarjana pertanian dari University of the Philippines. Setelah lulus pada tahun 2011, dia bekerja sebagai spesialis penelitian sains dengan PhilRice sebelum pergi ke Nagoya pada tahun 2014 untuk studi penelitian lebih lanjut.

Video Terkait