Laporan PBB Serukan Perubahan Skema Bantuan Sektor Pertanian, Insentif Harga Perlu Dihapus

Aktivitas jual beli di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/9/2021). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Editor: M Kautsar - Kamis, 16 September 2021 | 12:00 WIB

Sariagri - Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa selama ini dukungan pendanaan global kepada produsen sektor pertanian mencapai 540 miliar dolar AS (setara Rp7.682 triliun) per tahun dan pada 2030 diproyeksikan melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi 1,759 triliun dolar AS (setara Rp25.023 triliun).

Tetapi, 87 persen dari dana dukungan tersebut sekitar 470 miliar dolar AS digunakan untuk distorsi harga dan berbahaya bagi lingkungan dan sosial. 

Tiga organisasi PBB yaitu FAO, UNDP, dan UNEP meluncurkan laporan yang menyerukan penggunaan kembali dukungan pertanian untuk mengubah sistem pangan. Tiga organisasi tersebut menemukan bahwa dukungan saat ini untuk produsen pertanian sebagian besar terdiri dari insentif harga seperti tarif impor dan subsidi ekspor serta subsidi fiskal yang terkait dengan produksi komoditas atau input pertanian tertentu.

Menurut PBB, alokasi bantuan seperti itu tidak efisien, mendistorsi harga pangan, merugikan kesehatan masyarakat, merusak lingkungan dan seringkali menjadi tidak adil, menempatkan agribisnis besar di atas petani kecil yang sebagian besar adalah perempuan.

Laporan PBB menyebutkan tahun 2020, ada 811 juta orang di dunia menghadapi kelaparan kronis dan hampir satu pertiga orang di dunia (2,37 miliar) tidak memiliki akses  sepanjang tahun ke makanan yang memadai. Pada tahun 2019, ada sekitar 3 miliar orang di setiap wilayah di dunia tidak mampu membeli makanan yang sehat.

Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu mengatakan laporan tersebut yang dirilis dalam KTT Sistem Pangan PBB merupakan peringatan bagi pemerintah di seluruh dunia untuk memikirkan kembali skema dukungan pertanian agar sesuai dengan tujuan untuk mengubah sistem pertanian pangan dan berkontribusi pada empat perbaikan yang meliputi nutrisi yang lebih baik, produksi yang lebih baik, lingkungan lebih baik, dan kehidupan lebih baik.

Sementara itu, Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen menyebutkan saat ini pemerintah memiliki kesempatan untuk mengubah pertanian menjadi pendorong utama kesejahteraan manusia dan menjadi solusi untuk ancaman perubahan iklim, hilangnya alam dan polusi.

“Dengan beralih ke dukungan pertanian yang lebih positif, adil dan efisien, kita dapat meningkatkan mata pencaharian, dan pada saat yang sama mengurangi emisi, melindungi dan memulihkan ekosistem, dan mengurangi penggunaan bahan kimia pertanian,” kata Andersen.

Laporan tersebut menyoroti kasus-kasus proses perubahan bantuan pertanian semacam itu sudah dimulai seperti di negara bagian Andhra Pradesh di India yang mengadopsi kebijakan Pertanian Alami Tanpa Anggaran, reformasi kebijakan pertanian di Cina tahun 2006 yang mendukung penurunan penggunaan pupuk mineral dan pestisida kimia.

Selain itu, Skema Pembayaran Tunggal di Inggris yang menghapus subsidi sesuai kesepakatan dengan Serikat Petani Nasional. Sementara di Uni Eropa, di mana diversifikasi tanaman telah diberi insentif melalui reformasi Kebijakan Pertanian Bersama (CAP) dan program Senegal PRACAS untuk memberi insentif kepada petani agar menanam tanaman yang lebih beragam.

Baca Juga: Laporan PBB Serukan Perubahan Skema Bantuan Sektor Pertanian, Insentif Harga Perlu Dihapus
Kepala Daerah Dukung Inisiasi Kementan untuk Pacu Semangat Kerja di Sektor Pertanian

Adapun dalam laporan tersebut merekomendasikan pendekatan enam langkah yang luas untuk pemerintah di seluruh dunia, antara lain yaitu mengukur dukungan yang diberikan; memahami dampak positif dan negatifnya; mengidentifikasi opsi penggunaan kembali; memprediksi dampaknya; menyempurnakan strategi yang diusulkan dan merinci rencana implementasinya; terakhir, memantau strategi yang diterapkan.

“Menggunakan kembali dukungan pertanian untuk mengubah sistem pertanian pangan kita ke arah yang lebih hijau dan berkelanjutan. Termasuk dengan menghargai praktik baik seperti pertanian berkelanjutan dan pendekatan cerdas iklim yang dapat meningkatkan produktivitas dan hasil lingkungan. Ini juga akan meningkatkan mata pencaharian 500 juta petani kecil di seluruh dunia di mana banyak dari mereka perempuan dengan memastikan lapangan bermain yang lebih seimbang,” kata Administrator UNDP, Achim Steiner dikutip dari FAO.org.

Video Terkait