Produktivitas Pertanian Malandai, Saatnya Didorong Kebijakan Intensifikasi

Lahan pertanian mengering saat musim kemarau di Kabupaten Kupang, NTT. (ANTARA)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Rabu, 15 September 2021 | 17:00 WIB

Sariagri - Pusat Studi Kebijakan Indonesia atau Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengusulkan kepada pemerintah untuk mendorong penerapan kebijakan intensifikasi dengan mengoptimalkan lahan yang ada demi peningkatan produktivitas pertanian.

“Alih-alih menambah areal tanam baru atau ekstensifikasi, arah kebijakan yang lebih mendesak untuk dilakukan adalah mengoptimalkan lahan yang ada atau intensifikasi,” ujar Peneliti CIPS Aditya Alta di Jakarta, Rabu (15/9). 

Penelitian CIPS memperlihatkan bahwa mendesaknya upaya peningkatan produktivitas dapat dilihat dari melandainya produktivitas per hektar beberapa komoditas seperti padi, kedelai dan bawang dalam beberapa tahun terakhir ini.

“Permasalahan ketimpangan produktivitas antar daerah saja belum dapat diatasi,” imbuhnya.

Penelitian CIPS juga menunjukkan, produktivitas pertanian padi di Jawa misalnya, mencapai 5,64 ton per hektar atau 23 persen lebih tinggi daripada produktivitas padi di luar Jawa yang 4,58 ton per hektar. Walaupun luas panen padi di luar Jawa mencakup sekitar 50 persen dari luas panen padi nasional, kontribusinya pada produksi padi nasional hanya sebesar 44 persen.

Penelitian yang sama juga merinci faktor-faktor penentu produktivitas padi di luar Jawa sebagai akses pada irigasi, penggunaan pupuk, dan penerapan pola tanam jajar legowo yang mengatur jarak antar benih.

Potensi hasil pertanian di luar Jawa masih bisa meningkat signifikan jika faktor-faktor ini lebih ditingkatkan dan perluasan lahan bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Selain terbatasnya lahan yang masih memungkinkan untuk dibuka untuk pertanian, pembukaan lahan-lahan pertanian baru juga merupakan solusi yang tidak berkelanjutan karena meningkatkan deforestasi dan mengurangi daya dukung lingkungan. 

Pemerintah seharusnya fokus pada peningkatan efisiensi lahan yang sudah ada, peningkatan kapasitas petani dan revitalisasi alat pertanian serta pabrik-pabrik yang sudah tua.

“UU Cipta Kerja memperbolehkan pengalihfungsian lahan pertanian dengan jaringan pengairan demi kepentingan umum atau proyek strategis nasional. Hal ini dilakukan dengan syarat mempertahankan jaringan pengairan. Namun ini berpotensi memperparah konversi lahan pertanian. Demi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, kepastian kepemilikan lahan perlu ditingkatkan melalui program registrasi dan formalisasi,” jelas Aditya.

UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan mengecualikan lahan yang memiliki jaringan pengairan lengkap dari lahan pertanian yang boleh dialih fungsikan.

Baca Juga: Produktivitas Pertanian Malandai, Saatnya Didorong Kebijakan Intensifikasi
Kisah Petani Asal Indonesia Magang Jadi Petani di Jepang, Kantongi Puluhan Juta per Bulan

“Laju pertumbuhan penduduk Indonesia terjadi sangat cepat. Jumlah penduduk yang bertambah harus diikuti dengan kemampuan lahan pertanian untuk menyediakan pangan untuk mereka Selain itu pemerintah juga seharusnya meningkatkan kapasitas petani dengan mengadakan pelatihan, memberikan penyuluhan dan bimbingan soal penggunaan alat-alat pertanian yang lebih efisien dan pembaharuan metode tanam,” tambahnya.

Aditya menegaskan peningkatan kapasitas petani juga sangat erat kaitannya dengan tingkat efisiensi panen maupun proses pascapanen dengan menambahkan bahwa petani juga menemui beberapa kesulitan mulai dari bibit, pupuk, akses ke modal, lahan kecil yang berimbas pada proses bercocok tanam yang tidak efisien dan juga kapasitas petani yang juga sebagian besar masih belum produktif.

Video Terkait