Kisah Petani Indramayu, Sukses Budi Daya Padi Organik dengan Agens Pengendali Hayati

Ketua Kelompok Tani Sri Trusmi Satu Waklan. (Dok.Pribadi)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Reza P - Senin, 6 September 2021 | 15:40 WIB

Sariagri - Waklan (43) petani asal Desa Kedokanbunder Wetan, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat sukses mengembangkan budidaya padi secara organik dengan menggunakan agens pengendali hayati.

Pada tahun 2017, Waklan yang merupakan Ketua Kelompok Tani Sri Trusmi Satu dan anggotanya mengikuti sosialisasi tentang aplikasi agen hayati untuk budidaya padi sawah dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Jawa Barat . Setelah itu, Waklan mencoba menerapkan agens pengendali hayati secara bertahap pada lahan sawahnya hingga saat ini.

“Pertama kali dikenalin agens hayati dari POPT, awalnya saya coba pakai agens hayati untuk 700 meter persegi sawah, terus diamati hasilnya memuaskan, irit biaya produksi dan ternyata ramah lingkungan,” ujar Waklan kepada Sariagri.id, Senin (6/9/2021).

Waklan mengakui, awalnya banyak petani termasuk dirinya menganggap penerapan agens hayati untuk mengendalikan penyakit itu cukup ribet dan dianggap tidak praktis. Dalam penerapan agens hayati, petani dilatih untuk membuat sendiri dari bahan-bahan alami di sekitar lahannya. 

“Awal-awal ya ribet, karena petani tidak biasa, jadi malas awalnya,” kata Waklan.

Peningkatan hasil

Setelah menerapkan di sebagian lahan sawahnya, Waklan melihat adanya peningkatan hasil dan efisiensi biaya produksi yang cukup signifikan. Dia kemudian menambah luasan lahan padinya untuk diaplikasikan agens pengendali hayati.

“Biaya produksi bisa dikurangi hingga 40 persen kalau pakai agens pengendali hayati dibandingkan menggunakan pestisida kimia,” katanya.

Menurut Waklan, sebelum menggunakan agens hayati, lahan padi seluas 1400 meter persegi hanya bisa menghasilkan gabah sekitar 8 kuintal. Penggunaan agens pengendali hayati, lanjut dia, meningkatkan produksi setiap musim tanam setiap tahunnya. Hingga musim hujan tahun 2021, produksi gabah 1,3 ton untuk luas lahan 1400 meter persegi.

Waklan kemudian menyebarkan pengalamannya ke petani lainnya di desanya. Sedikit demi sedikit banyak petani ikut mencoba mengaplikasikan agens pengendali hayati saat musim tanam.

“Setiap musim tanam pasti ada pertemuan kelompok tani di saung, saya informasikan ke petani kalau penggunaan agens hayati bisa bikin biaya produksi makin irit dan hasilnya banyak, serta ramah lingkungan. Awalnya petani banyak yang ragu, mereka coba sedikit-sedikit di lahan yang nggak luas, tapi Alhamdulillah lama-lama makin banyak yang coba,” jelasnya.

Beras organik

Selain agens pengendali hayati, Waklan juga menggunakan pupuk organik bokashi dari campuran kotoran kambing, sekam gosok dan bekatul. Dia tidak menggunakan pestisida maupun pupuk kimia sehingga produk beras yang dihasilkan mempunyai harga lebih tinggi.

“Beras organik yang saya hasilkan itu saya pasarkan ke relasi-relasi saya dan ke perusahaan Pertamina. Tidak sulit buat jual beras organik, banyak yang sudah tahu di wilayah Indramayu timur kalau mau beli beras organik itu ke Pak Waklan,” katanya.

Beras organik hasil produksi Waklan dijual seharga Rp20 ribu per kilogram.

Pengembangan usaha kelompok tani

Agens pengendali hayati terdiri dari bakteri dan jamur yang dikembangkan sehingga bisa menjadi pengendalian serangan hama dan penyakit tanaman secara alami. Beberapa agens hayati yang digunakan seperti Trichoderma, Beauveria sp, dan PGPR. 

Awalnya Waklan melakukan perbanyakan agens pengendali hayati di kamar rumahnya. Namun, saat ini, Kelompok Tani Sri Trusmi Satu telah mendapat dukungan fasilitas dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan Pertamina berupa mini laboratorium untuk mengembangkan produk agens pengendali hayati.

Laboratorium pengembangan agen hayat. (Dok.Pribadi)
Laboratorium pengembangan agen hayat. (Dok.Pribadi)

Kemampuan produksi isolat agens hayati hingga perbanyakan produk larutan agens hayati didapat Waklan dan para petani dari bimbingan teknis POPT Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.

Kini, kelompok tani yang dipimpin Waklan telah mempunyai rumah produksi dan dua laboratorium mini untuk pengembangan isolat dan larutan agens hayati.

“Alhamdulillah udah ada rumah produksi, lab bakteri dan lab jamur juga sudah misah sendiri-sendiri,” katanya.

Dalam satu tahun, kelompok tani itu bisa memproduksi hingga 2000 liter agens hayati siap pakai maupun isolat agens hayati. Penjualannya mulai meluas hingga ke luar daerah dengan harga sekitar Rp 25 ribu per liter.

“Alhamdulillah ada pemasukan tambahan untuk pengembangan kelompok, sisa keuntungan kemudian untuk dibagikan ke anggota,” katanya.

Kini Waklan menjadi pelopor di daerahnya yang berhasil membuktikan penggunaan agens pengendali hayati untuk budidaya padi dapat meningkatkan perekonomian petani dan kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Kisah Petani Indramayu, Sukses Budi Daya Padi Organik dengan Agens Pengendali Hayati
Putus Kuliah, Pemuda Asal Tuban Ini Jadi Petani Jamur Tiram

Bahkan, pada tahun 2019, Waklan mendapat penghargaan dari Menteri Pertanian. Selain itu Kelompok Tani Sri Trusmi Satu terpilih menjadi kelompok tani pengembang terbaik.

“Harapannya agar petani bisa sadar untuk menerapkan prinsip pengendalian hama terpadu (PHT), karena PHT bisa menekan biaya produksi, ekonomi bisa maju, ramah lingkungan salah satunya dengan agens pengendali hayati. Rencana ke depan mau mengembangkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran produk agen hayati,” tandasnya.

Video Terkait