Rencana Impor Beras Thailand, Buat Petani Magetan dan Ngawi Resah

Petani di Ngawi, Jawa Timur sedang memanen beras. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Selasa, 23 Maret 2021 | 14:10 WIB

SariAgri - Memasuki panen raya, ratusan petani yang ada di Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, resah menyusul anjlok harga jual gabah. Padahal hasil panen kali ini, diklaim petani terbaik dibandingkan musim sebelumnya.

Keresahan ini salah satunya seperti yang dirasakan para petani di Desa Klagen Gambiran, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan. Pasalnya di saat panen raya dengan mutu baik dan hasil melimpah, mereka tidak bisa menikmati untung.

Petani mengaku saat ini harga gabah hanya dibeli tengkulak Rp3.500 per kilogram. Padahal harga gabah di musim panen sebelumnya mencapai Rp4.200 per kilogram. Petani menduga anjloknya harga gabah ini terjadi akibat adanya rencana pemerintah mengimport beras dari Thailand.

“Harga gabah sekarang anjlok, perkilo Rp3.500 sebelumnya Rp4.200. anjloknya harga gabah ini, sebagai dampak dari rencana pemerintah mendatangkan beras asal Thailand. Akibatnya kami ini, tekor karena untuk pupuk non subisidinya saja sudah mahal, sebab nyari pupuk subsidi sulit didapatkan,“ kata salah seorang petani, Samidin Hadijoyo kepada SariAgri, Selasa (23/3).

Samidin menyebut harga gabah ideal bagi petani agar tidak rugi dikisaran Rp4.400 per kilogram. Dia dan petani lain berharap kepada pemerintah setempat, untuk segera menstabilkan harga gabah agar petani tidak terus merugi di setiap panen raya.

“Idealnya harga gabah petani dihargai Rp4.400 per kilo agar bisa menikmati untung. Bagaimana petani bisa sejahtera jika harganya selalu jauh dibawah HPP yang ditetapkan pemerintah,” ucap dia.

Sementara itu di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, untuk meredam keresahan para petani akibat anjloknya harga gabah, pihak pemkab setempat mengadakan komunikasi dengan sejumlah gabungan kelompok tani (gapoktan).

Salah satunya seperti yang dilakukan Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, saat melakukan dialog dengan gapoktan Ngudi Barokah di Desa Babadan, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi. Dwi Rianto menyebutkan pihaknya akan melakukan beberapa langkah terkait keluhan petani terkait turunnya harga gabah.

“Sengaja saya mengadakan pertemuan dengan para petani yang tergabung dalam tujuh gapoktan di desa babatan untuk menyerap aspirasi. Dari hasil tinjauan gabah petani kondisi baik, tidak ada serangan hama wereng, karena itu diharapkan harga jual baik sesuai harapan mendekati HPP, “ tutur Dwi Rianto.

Dwi Rianto menambahkan sesuai dengan usulan para petani agar tidak ada ketergantungan pada musim, Pemkab Ngawi, kata dia, berencana untuk membangun beberapa infrastruktur pertanian seperti gudang, mesin pengering hingga lantai jemur. Langkah ini ditempuh agar harga gabah kering hasil panen tidak anjlok saat musim penghujan dan bagus saat musim kemarau.
 
Selain itu, dalam skala besar pemkab berencana untuk menghadirkan investor dalam bidang industri pertanian untuk membeli sekaligus pengelola hasil padi pasca panen.Baca Juga: Rencana Impor Beras Thailand, Buat Petani Magetan dan Ngawi Resah
Patut Dicontoh, Begini Konsep Pertanian Berkelanjutan Ala Petani AS



“Dengan mendatangkan investor di bidang industri pangan, tentunya akan bermanfaat bagi Ngawi yang merupakan lumbung padi nasional nomor enam dan urutan kedua se-Jawa Timur. Sehingga dalam panen ke depan bisa memiliki nilai jual yang cukup sesuai dengan harga dasar gabah kering panen,” kata dia.

Seperti diketahui, harga gabah kering di tingkat petani di Kabupaten Ngawi saat ini anjlok menjadi Rp3.400 per kilogram. Padahal saat musim panen sebelumnya, petani bisa menjual gabah Rp4.100 per kilogram.

Anjloknya harga jual gabah ini tentu membuat petani setempat mengalami kerugian. Terlebih dengan hasil panen padi musim ini dinilai tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan untuk pemupukan dan perawatan.

Video Terkait