Panen Raya Padi Dibalik Bayang Bayang Impor Beras

Petani Lombok memotong padinya (Sariagri/Yongki )

Editor: Andry - Selasa, 23 Maret 2021 | 11:30 WIB

SariAgri - Berbagai wilayah pertanian di Indonesia  saat ini mulai memasuki masa panen raya. Hasil padi yang meningkat,  justru dibayangi  kecemasan turunnya harga jual gabah dan bayang-bayang rencana impor beras dari luar negeri.  

Para petani di Kabupaten Lombok utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya mengeluhkan harga jual gabah yang merosot, sekalipun hasil produksi mereka meningkat.

Harga jual gabah yang sebelumnya berkisar dari Rp 4,5 Ribu hingga Rp 5 Ribu perkilogramnya kini merosot menjadi Rp 3,5 Ribu perkilogramnya atau Rp 350 Ribu perkwintalnya.

Marto, salah seorang petani di Lombok utara mengaku hasil panen padi tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Kendati demikian, pihaknya merasa terbebani akibat harga jual gabah yang tidak sebanding dengan biaya produksi.

Diungkapkan Marto, bahwa selama ini gabah petani tidak terserap oleh Bulog, sehingga petani mau tidak mau menjual gabah mereka ke para pengepul dengan harga yang ditentukan. "Ya mereka tentukan harga semaunya, kalau kita tidak jual ke mereka lalu hasil panen ini kita mau jual kemana?," ungkapnya.

Tidak hanya itu, para petani juga menyesalkan rencana pemerintah pusat yang akan membuka keran impor beras sebanyak 1,5 Juta Ton di tengah turunnya harga jual gabah mereka.

Terkait persoalan tersebut, PLT Kepala dinas ketahanan pangan dan pertanian Kabupaten Lombok Utara Evi Winarni mengatakan pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak jika beras impor masuk ke kabupaten Lombok Utara. Namun, jika dilihat dari stok beras di kabupaten Lombok Utara menurutnya masih sangat melimpah untuk kebutuhan daerah.



Melimpahnya beras juga terjadi di  Kabupaten Cirebon, Jawa Barat,  yang produksi padi setiap tahunnya rata-rata surplus hingga 100 ribu ton. Angka ini bahkan melebihi jumlah produksi beras yang telah ditargetkan.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Wasman menjelaskan, Kabupaten Cirebon memiliki luas areal pertanian sekitar 90.778 hektare. Pada tahun 2020,  dari lahan tersebut beras yang dihasilkan  mencapai 372 ribu ton.

"Setiap tahun produksi beras kita dipastikan surplus," kata Wasman kepada Sariagri, Senin (22/3).

Meski ada sebagian wilayah yang sempat terendam banjir, pihaknya memprediksi  pada tahun 2021 ini , produksi beras di Kabupaten Cirebon ini juga akan mengalami surplus.

Menteri Pertanian janji akan serap panen padi petani (Sariagri/Usman Muin)
Menteri Pertanian janji akan serap panen padi petani (Sariagri/Usman Muin)

Sementara itu , di akhir pekan lalu  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  yang menghadiri Panen Raya Padi di Kab Barru dan Maros  yang merupakan sentra pangan di Sulawesi Selatan, sedikit memberi harapan untuk petani menghadapi panen raya.

Kementan menurut Syahrul Yasin Limpo,  melalui Komando Strategi Penggilingan (Kostraling) bersama mitra yakni Bulog, Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), TNI, Polri akan melakukan Program Serap Gabah yang juga melibatkan perbankan dalam menyediakan dana KUR.

" Yang paling penting ditekankan dalam upaya pemerintah ini adalah meningkatkan produktivitas dan mengamankan stok beras. Karena itu, panen sekaligus serap gabah ini merupakan bentuk komitmen bersama dengan Bulog, penggilingan, TNI, Polri dan disupport KUR perbankan untuk meminimalisir dinamika harga saat panen raya. Kita harapkan harga panen petani minimal sesuai standar HPP (Harga Pembelian Pemerintah,). Kementan bersama Bulog dan penggilingan sudah bikin kesepakatan kesanggupan serap gabah,"  ditegaskan SYL.

 

Video Terkait