Gagal Tanam Akibat Banjir, Petani Cirebon Merugi

Persawahan petani di Cirebon, Jawa Barat, terendam banjir. (Foto: Sariagri/Nurohman)

Editor: M Kautsar - Rabu, 3 Maret 2021 | 20:00 WIB

SariAgri - Para petani di Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, merugi karena mengalami gagal tanam akibat banjir yang terjadi selama periode bulan Januari sampai Februari 2021.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Jaya Makmur, Amrin menilai kerugian yang dialami petani khususnya di Desa Panguragan Kulon cukup besar. Sebab, mereka harus mengeluarkan biaya sebesar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta per hektare untuk menanam padi.

Jumlah ini, kata dia, belum termasuk biaya operasional lainnya seperti pupuk dan juga benih.

Amrin mengaku, ada dua kelompok tani di Desa Panguragan Kulon yang bahkan sudah empat kali menanam padi pada musim rendengan (penghujan). Menurutnya, sampai sekarang tingkat keberhasilan pengolahan padi di kedua kelompok tani tersebut, hanya 60 persen. Sedangkan sisanya gagal tanam.

"Tambah biaya, tambah pupuk. Kita itu khususnya di Kelompok Siglugu sama Silumbu. Dua kelompok itu yang terdampak. Sampai empat kali tanam padi. Seharusnya satu kali," kata Amrin kepada Sariagri, Rabu (3/3)

Saat ini, lanjutnya, pihaknya sudah mengajukan penambahan pupuk kepada Dinas Pertanian (Distan) Cirebon untuk petani di Desa Panguragan. Namun, hingga sekarang belum ada jawaban.

"Pengajuan sudah 20 hari. Sampai hari ini belum. Pengajuan ke PPL lalu ke Dinas," ujarnya.

Sementara itu, menanggapi informasi rencana pemberian benih padi gratis dari Distan Cirebon, Amrin mengatakan hal itu akan membantu. Namun, tidak bisa menutupi kerugian petani.

Selain itu, dia menambahkan masalah yang dialami petani di Desa Panguragan sangatlah kompleks. Sebab, selain merugi karena gagal tanam, mereka juga tidak bisa menutupi biaya yang dikeluarkan untuk menyewa lahan.

"Petani di sini rata-rata petani penggarap. Pemberian benih gratis atau klaim asuransi akan membantu. Tapi tidak bisa menutupi kerugian petani. Contohnya begini, petani penggarap menyewa lahan biasa itu bisa Rp15 juta, kalau yang rawan banjir Rp10 juta. Bila gagal tanam, jelas rugi besar," paparnya.

"Karena cuaca ekstrem, kita merugi. Kita musim hujan kebanjiran, kalau musim kemarau kekeringan. Memang hampir 80 sampai 90 persen ikut asuransi. Tapi klaim asuransi ini cuman sekali dalam satu musim,” ucap dia.

Sementara itu terpisah, Plt Kepala Distan Cirebon, Wasman menyampaikan, selama periode Januari sampai Februari 2021, tercatat ada sekitar 3.074 hektare tanaman padi mengalami gagal tanam, akibat terendam banjir.

Untuk membantu petani, pihaknya tengah berupaya mengajukan pengadaan benih padi gratis kepada Kementrian Pertanian. Menurutnya, proses pengadaan benih gratis ini akan memakan waktu cukup lama.

"Tapi dapat benih lagi, paling untuk musim rendengan. Kita sih inginnya di musim gaduh satu ini. Misalkan untuk nanam Maret, April. Per hektare itu 25 kilogram," ujar Wasman.

Guna mengantisipasi dampak yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrem belakangan ini, kata dia, pihaknya menyarankan supaya petani di Cirebon mengikuti program asuransi usaha tani padi atau AUTP.

"Kalau sawahnya terkena banjir lagi dan mengalami kerusakan, petani bisa mengajukan klaim asuransi itu," ucap dia.

Video Terkait