Semakin Menggiurkan, Sumut Mulai Budidaya Porang dengan Sistem Wanatani

Umbi Porang (Foto:Kementan)

Editor: M Kautsar - Kamis, 11 Februari 2021 | 23:00 WIB

SariAgri - Porang (Amorphophallus oncophyllus) merupakan salah satu komoditas ekspor pertanian Sumatera Utara yang kini menjadi primadona. Tercatat, di tahun 2020, Sumatera Utara mengekspor porang sebanyak 1.832 ton dengan nilai Rp15,5 miliar.  

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Ali Jamil mengajak petani untuk membudidayakan porang dengan sistem wanatani atau agroforestri, pada saat melakukan kunjungan kerja monitoring Kostratani di Sumatera Utara.

Penanaman porang dengan sistem wanatani atau memanfaatkan lahan kosong pada kebun hutan secara maksimal agar memberikan manfaat kelestarian lingkungan dan produksi kebutuhan pangan ini baru pertama kalinya dilakukan di Medan.

"Saya senang dapat mengajak petani untuk menanam porang di hutan kayu mahoni. Semoga bisa memberi manfaat, terlebih porang kini menjadi salah satu komoditas yang laris di pasar ekspor," kata Jamil.

Penanaman dengan sistem wanatani, ujar Jamil, juga menyesuaikan habitat awal komoditas porang yang tumbuh di hutan. Kandungan glukomanan pada porang banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar obat dan kosmetika di luar negeri membuat porang makin dicari.

Penanaman perdana kali ini juga turut dihadiri oleh Kepala Karantina Pertanian Belawan, Andi Yusmanto, Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok, Hasrul, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Dahler Lubis, beserta tim Desa Gratieks Karantina Pertanian Belawan.

Jamil pada kesempatan yang sama juga memberikan bimbingan teknis terkait cara budidaya porang yang benar, guna menghasilkan umbi dan bulbil/katak porang. Dan menyampaikan bahwa budidaya pembibitan porang kedepannya akan dilakukan dengan kultur jaringan, ini sebagai bukti serius pemerintah terhadap budidaya porang.

Andi Yusmanto mengatakan, informasi dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST Karantina Pertanian Belawan bahwa kinerja ekspor porang asal Sumut selama tahun 2020 sebesar 1.832 ton dengan nilai Rp15,5 miliar.  

Harapannya dengan inisiasi penanaman porang dengan sistem wanatani dapat menambah produktivitasnya sekaligus meningkatkan kinerja ekspornya, baik jumlah tonase maupun jumlah negara tujuan.

"Data ini menunjukkan bahwa porang dapat menjadi ikon ekspor baru sekaligus dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi petani, khususnya di Sumut," tutup Andi.

Felix, pemilik lahan kebun hutan yang ditanami porang, mengatakan, awal menjadi eksportir binaan Karantina Pertanian Belawan. Dia kemudian mendapat informasi terkait porang yang laris di pasar ekspor. Dia menyambut baik ajakan tersebut terlebih dengan sistem wanatani.

"Tahap awal 2 hektare dan akan terus berlanjut pada tahap berikutnya, semoga bisa memberi manfaat nyata bagi warga desa," ujar Felix.

Video Terkait