Program Budi daya Minapadi di Purbalingga Menurun

Ilustrasi sistem mina padi. (downtoearth.org.in)

Penulis: M Kautsar, Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 10 Februari 2021 | 13:40 WIB

SariAgri - Budi daya mina padi di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dari tahun sebelumnya budi daya mina padi di Purbalingga pernah mencapai 17 hektare. 

"Program yang berlokasi di Desa Gembong Kecamatan Bojongsari, dengan ketersediaan airnya cukup terjaga sepanjang tahun. Karena itu desa ini dijadikan sebagai lokasi program pengembangan mina padi oleh Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI," ujar Kepala Dinas Pertanian (Dipertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Selasa (09/01).

Tetapi, pada tahun ini budi daya mina padi direncanakan hanya sekitar 11 hektare. Penurunan ini disebabkan volume program mengalami penurunan dan budi daya mina padi secara mandiri juga menurun.

Di samping itu tingkat kemampuan konsumsi masyarakat lokal setempat terhadap ikan disinyalir mengalami penurunan. 

"Sebetulnya secara ekonomi, budi daya mina padi ini cukup menguntungkan, tetapi membutuhkan tambahan modal awal yang cukup signifikan yaitu untuk pembelian benih ikan, pakan ikan dan jaring pengaman yang perlu dipasang melingkari areal sawah untuk mengantisipasi serangan predator ikan seperti lingsang, menyero (bahasa Jawa-red) dan sejenisnya,” ucap Mukodam.

Budi daya mina padi akan menghemat pupuk karena kotoran ikan merupakan sumber pupuk bagi tanaman padi. Di samping itu, menghemat biaya penyiangan gulma karena gulma yang tumbuh akan dimakan oleh ikan. 

Jenis ikan yang banyak dibudidayakan dalam mina padi adalah mujair atau nila yang relatif lebih mudah adaptif terhadap kondisi lingkungan dan tahan terhadap hama penyakit ikan. Di samping itu pula bisa dipelihara ikan melem ataupun wader.

Sedangkan varietas padi dipilih yang lebih tahan terhadap genangan  yaitu Inpara 3, 4, 5 atau 29 ataupun Pertiwi.

Menurut Mukodam, walaupun jumlah tanaman padi menjadi berkurang, tetapi hasil produksi padi tetap terjaga baik yaitu mencapai rata rata 6 ton per hektare, sedangkan produksi ikan sebanyak 650 kilogram per hektare.

"Jumlah tanaman padi menjadi berkurang, karena setiap bagian tepi bahkan bagian tengah petak sawah tidak ditanami dan dasar lahan dibuat lebih dalam untuk memberikan ruang gerak ikan untuk berlindung, tumbuh dan berkembangbiak secara lebih baik. Karena kedalaman air cukup, terukur, tidak terlalu dangkal sehingga suhu air tetap terjaga tidak terlalu panas saat terik matahari,” kata dia.

Dalam pengembangan mina padi ini perlu terus dibangun sinergi antara Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan. Karena budidaya padi menjadi tupoksinya Dinas Pertanian sedangkan budidaya ikan menjadi tupoksinya Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan.

Mukodam menjelaskan, sebenarnya anak-anak muda di Purbalingga, Jawa Tengah punya minat tinggi dalam budi daya minapadi. Terbukti, sejak tahun 2018 dari lima kelompok yang kini telah menerapkan sistem minapadi, sebagian anggotanya adalah anak muda.

"Anak muda bahkan sangat diandalkan dalam budidaya minapadi. Sebab, anak muda lebih responsif terhadap pengetahuan atau teknik baru yang hendak diterapkan," ujar dia.

Lima kelompok tersebut yakni, Kelompok Tani Krida Remaja, seluas 5 hektare, di Desa kedungwuluh, Kecamatan Kalimanah, Kelompok Tani Eko Waluyo, seluas tiga hektare, Desa Kelitingger Wetan Kecamatan Padamara. Kemudian, Kelompok Tani Layur Desa Limabasari Kecamatan Bobotsari seluas delapan hektare, kelompok Tani Blimbing Desa Limbasari Kecamatan Bobotsari, dan Kelompok Tani Sri Rahayu, Desa Gembong seluas 17 hektare.

Video Terkait