Talas, Si Tanaman 'Bandel' yang Bisa Jadi Kunci Ketahanan Pangan Indonesia

Talas beneng merupakan andalan ekonomi petani Desa Juhut, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang. (Arsip)

Editor: M Kautsar - Senin, 23 November 2020 | 14:01 WIB

SariAgri - Talas bisa menjadi salah satu alternatif untuk pemenuhan karbohidrat bagi masyarakat. Untuk itu, ipb University mengembangkan koleksi talas agar bisa dikonsumsi masyarakat.

Guru Besar Fakultras pertanian IPB University Prof Edi Santosa menjelaskan dari sisi keunggulan, tanaman talas memiliki nutrisi yang sangat lengkap dibanding dengan umbi-umbi yang lain. 

Ada protein, mineral dan indek glikemiknya juga lebih rendah dibandingkan beberapa umbi-umbian yang lain.

Saat ini, Edi bersama dengan Malaysian Agriculture Research and Development Institute (MARDI), Filipina, Fiji dan didanai oleh Food and Agriculture Organization (FAO) melalui Centre of Agriculture and Bioscience (CAB) Internasional membangun konsorsium talas sebagai pangan masa depan antisipasi perubahan iklim.

“Yang kita kembangkan adalah talas-talas yang tidak gatal dan cocok dengan lidah Indonesia. Secara potensi, IPB University punya koleksi talas yang banyak. Kami kumpulkan dari berbagai daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sebagainya. Kita sudah punya aksesi yang bagus, lalu kita lakukan percobaan-percobaan di lapangan," kata Edi dalam keterangan resmi yang diterima Sariagri Senin (23/11).

Lanjutnya, produksi talas terbilang mudah karena hanya membutuhkan sedikit air dan cukup dengan pupuk kandang maka sudah dapat hidup dan bisa diandalkan. 

"Berdasarkan penelitian yang dilakukan, satu pohon talas menghasilkan satu kilogram lebih dengan produktivitas 40 ton per hektare dengan harga talas di petani sekitar Rp5.000 per kilonya,” jelasnya. 

Saat ini, Edi sedang mencari umur talas yang lebih genjah agar panen talasnya dapat lebih cepat dengan produktivitas yang terus bertambah.

"Talas ini termasuk tanaman yang bandel, karena daya adaptasi ekologinya lebih luas dan fleksibel dibandingkan tanaman pangan yang sudah ketat prosedur produksinya. Talas juga dapat ditanam tanpa pestisida dan pupuk pabrik. Sehingga biaya inputnya akan jauh lebih feasible bagi petani kecil dibandingkan dengan komoditas lain," ucapnya.

Oleh karena itu, Edi berharap pihak-pihak terkait dapat terpanggil untuk membangun diversifikasi pangan dari masyarakat yang paling membutuhkan. Untuk produksi yang lebih besar, butuh adanya dukungan hilirisasi dari sisi pemasaran dan industri pengolahannya.

Sekarang koleksi ragam jenis dan varietas talas sudah dikumpulkan di IPB University, Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen). 

"Kita usahakan agar keragaman genetik itu bisa kita kembalikan ke petani. Sehingga petani secara riil terlibat dalam perakitan varietas secara mandiri, yang biasanya kita sebut on farm conservation dan participatory breeding," pungkasnya. (SariAgri/Yudi Asmaraloka)

Video Terkait