Mahasiswa UB Malang Kembangkan Bakteri Pengendali Layu Fusarium pada Bawang

Ilustrasi tanaman bawang merah layu akibat fusarium (Foto: Istimewa)

Penulis: M Kautsar, Editor: Redaksi Sariagri - Minggu, 1 November 2020 | 17:02 WIB

SariAgri - Tiga mahasiswa Jurusan hama dan penyakit Tumbuhan Fakultas pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) Malang, Jawa Timur menemukan solusi mengatasi permasalahan petani dalam menangani penyakit layu fusarium atau yang disebut dengan moler pada bawang merah.

Menurut Claudya Santa Clara Simanjuntak, ketua tim peneliti, produksi bawang merah saat ini, mengalami naik turun karena disebabkan beberapa faktor. Salah satunya adalah serangan penyakit pada bawang merah oleh patogen Fusarium oxysporum yang menyebabkan timbulnya penyakit layu Fusarium.

“Serangan penyakit ini menyebabkan kehilangan hasil produksi hingga 50 persen. Gejala yang timbul dari penyakit ini adalah busuk akar, daun meliuk dan warna kuning berubah menjadi nekrosis pada umbi, dan mengakibatkan gagal panen,” kata Claudya.

Namun demikian, imbuhnya, petani tidak perlu resah sebab dari penelitiannya ditemukan adanya beberapa bakteri yang berpotensi untuk mengendalikan layu fusarium, yaitu Bacillus sp, Pseudomonas flourescens, dan Serratia marcescens.

Selain itu, bakteri ini juga dapat meningkatkan produksi bawang merah melalui senyawa antibiotik 2,4, diacetylfloroglusinol (Phl) dan menghasilkan enzim IAA, siderofor, pelarut P, lipase dan protease.

Berita Pertanian - Baca Juga: Perkenalkan Sorgum, Tanaman Pangan yang Tahan Terhadap Musim Kemarau
Pakar: Benih dengan Postur Tinggi Cocok untuk Lahan Rawa

Claudya menyebut pendekatan pengendalian ramah lingkungan untuk menekan penyakit layu Fusarium pada bawang merah, salah satunya dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

“Sistem pertanian dengan prinsip PHT merupakan konsep pengendalian Organisme Pengganggu tanaman (PPO) dengan memadukan beberapa metode pengendalian yang mengutamakan peran agroekosistem untuk mewujudkan Pertanian Berkelanjutan,” terangnya.

Cara ini, kata dia, sesuai dengan Misi Kementerian Pertanian Nomor 22 Tahun 2019 berdasarkan RENSTRA (2015) yaitu Mewujudkan Sistem budidaya Pertanian Berkelanjutan. Salah satu prinsip PHT adalah memanfaatkan musuh alami untuk pengendalian hama. Musuh alami dapat dimanfaatkan dari pemilihan bakteri menguntungkan untuk mengendalikan patogen tanaman.

Sementara Meila Millatie Fithri, anggota tim peneliti, memaparkan mikroba banyak ditemukan di lahan pertanian organik, karena bahan organik yang terdapat di dalam tanah menyediakan sejumlah unsur hara tanaman dan memberikan kondisi yang optimal bagi berbagai mikroba termasuk yang bersifat antagonis.

“Untuk itu perlu dilakukan eksplorasi bakteri antagonis di daerah perakaran (rhizosfer) dan pada jaringan tanaman (endofit) bawang merah organik untuk menemukan bakteri antagonis yang berpotensi mengendalikan penyakit layu Fusarium,” urai Meila.

Tak mau ketinggalan, Theresia Rani Kartika, anggota tim lainnya juga turut menjelaskan, umumnya petani melakukan pengendalian penyakit layu Fusarium dengan pestisida.

“Tindakan pengendalian dengan cara penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dan intensif dapat menimbulkan dampak negatif dan merugikan, termasuk pencemaran lingkungan, pembunuhan musuh alami dan organisme bukan sasaran, resistensi dan kebangkitan kembali hama dan berbahaya bagi kesehatan manusia, “ pungkas Theresia. (Sariagri/Arief L)

Berita Pertanian - Kenapa Petani Indonesia Miskin?

Video Terkait