Empat Prioritas Kementan Perkuat Ketahanan Pangan di Era Normal Baru

Ilustrasi pertanian (Foto: Wikimedia)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 4 September 2020 | 13:30 WIB

SariAgri - Menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan empat prioritas dalam menjaga ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat di era normal baru. Empat prioritas tersebut yaitu peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan lokal, penguatan cadangan pangan dan sistem logistik serta pengembangan pertanian modern.

“Untuk menopang ketersediaan pangan bagi semua di era normal baru, kami telah mengembangkan seperangkat kebijakan yang disebut 4 Cara Bertindak,” ujar Mentan dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-35 Konferensi Regional Asia Pasifik (APRC) FAO yang dilaksanakan secara virtual.

Peningkatan kapasitas produksi melalui percepatan tanam padi, konversi rawa menjadi lahan pertanian dan perluasan areal kawasan budidaya baru untuk komoditas strategis. Diversifikasi pangan lokal dengan pemanfaatan pekarangan dan penggunaan lahan marginal untuk menghasilkan pangan lokal yang sehat melalui Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Penguatan cadangan pangan dan sistem logistik melalui pengembangan cadangan pangan di tingkat provinsi dan masyarakat serta meningkatkan sistem logistik nasional untuk stabilisasi pasokan dan harga. Pengembangan pertanian modern melalui mekanisasi pertanian, smart farming. screen house, pelaksanaan lumbung pangan (food estate) dan korporasi petani. 

Mentan mengatakan, meski terjadi perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19, sektor pertanian Indonesia pada kuartal II-2020 mengalami peningkatan pertumbuhan PDB sekitar 2,19 persen dibanding periode sama tahun 2019 (yoy).

Berdasarkan Indeks ketahanan pangan Global, peringkat ketahanan pangan Indonesia menunjukkan peningkatan dari 74 pada 2015 menjadi 62 pada 2019. Selain itu, prevalensi stunting Indonesia juga mengalami penurunan dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 27,67 persen pada 2019.

Konferensi Regional FAO yang digelar setiap dua tahun merupakan forum untuk membahas tren dan tantangan regional saat ini dan kedepan. Dalam konferensi tahun ini, inisiatif baru FAO "Hand in Hand" menjadi salah satu bahasan utama.

Inisiatif ini fokus pada peningkatan kerja sama dan dukungan terhadap potensi daerah tertinggal dan kelompok penduduk yang rentan sejalan dengan komitmen PBB untuk “tidak meninggalkan siapa pun”.

Target inisiatif ini adalah mereka yang paling rentan, dan terutama di kelompok populasi, wilayah, dan negara yang lebih miskin. Iniatif akan berbasis pada bukti di lapangan dan memanfaatkan analisis komprehensif menggunakan data dan informasi geo-spasial multidimensi.

Dampak pandemi COVID-19

Sementara itu Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu dalam pidatonya dari Roma, menyoroti dampak negatif pandemi COVID-19 terhadap sistem pangan. Tindakan untuk mengendalikan pandemi COVID-19 disebutnya telah mengganggu rantai pasokan pangan global.

Pembatasan pergerakan di perbatasan dan penguncian, lanjut dia, menghancurkan mata pencaharian dan menghambat transportasi pangan bagi penduduk.

"Kehilangan dan pemborosan pangan meningkat, karena petani harus membuang bahan pangan yang mudah rusak, dan banyak orang di pusat kota yang berjuang untuk mendapatkan makanan segar," katanya.

Baca Juga: Empat Prioritas Kementan Perkuat Ketahanan Pangan di Era Normal Baru
Kuku Punya Arti Penting dalam Kesehatan Sapi - Berita Peternakan

Dongyu menekankan petani kecil dan keluarganya, pekerja pangan di semua sektor dan semua orang yang yang bergantung pada komoditas dan pariwisata sangat rentan.

"Mereka sangat membutuhkan perhatian kita. Kita perlu mengkaji kembali sistem pangan dan rantai nilai pangan, Kita harus lebih memanfaatkan inovasi dan teknologi pertanian yang ada, dan mempertimbangkan teknologi terbaru," kata Dongyu.(Istihanah Soejoethi)

Video Terkait