Perkenalkan Pulu’ Mandoti, Beras Ketan Termahal di Indonesia

Beras ketan Pulu' Mandoti, hasil produksi pertanian di pegunungan Enrekang, Sulawesi Selatan (SariAgri/Usman Muin)

Penulis: Arya Pandora, Editor: Redaksi Sariagri - Selasa, 25 Agustus 2020 | 13:30 WIB

SariAgri -  Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Beragam varietas tanaman pangan, khususnya padi tumbuh subur di berbagai daerah nusantara.

Salah satu bahan pangan yang dikenal enak di Indonesia adalah beras ketan Pulu' Mandoti. Saking enaknya beras ketan ini, harga Pulu' Mandoti sangat mahal. Harganya mencapai Rp50.000 per kilogram (kg), bahkan momen tertentu seperti lebaran harga mecapai Rp70.000 per kg. 

Ternyata beras ketan Pulu' Mandoti diproduksi dari lahan pertanian yang sangat jauh dan terpencil di provinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya berada di wilayah pegununganDesa Salukanan dan Desa Kendenan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan.

Uniknya Tanaman padi ini hanya dapat tumbuh di pegunungan desa ini yang memiliki ketinggian sekitar 1000 mdpl dengan kemiringan 60 derajat.  

Menurut Herawati (33) salah satu pengusaha kuliner di Enrekang mengaku, walaupun banyak beras ketan yang sejenis dari berbegai daerah, tapi beras ketan Pulu'Mandoti memiliki cita rasa yang lebi pulen dan nikmat. 

“Meski banyak di tanam didaerah lain, tapi tidak akan tidak wangi dan pulen dibandingkan beras ketan Pulu' Mandoti. Cuma warnanya yang putih kemerahan. Kemungkinan jenis tanah dan pengaruh unsur hara yang terkandung di dalamnya, sehingga mempengaruhi kualitas berasnya,” ujar Herwati kepada Sariagri.id.

Aroma wangi beras Pulu' Mandoti yang khas saat dikukus seperti wangi pandan. bahkan, wanginya dapat tercium hingga jarak puluhan meter. Bahkan kabarnya, ada penjual yang mencoba menambahkan pewangi khusus di beras ketan biasa, namun, menurut pembeli, wangi dan rasa tetap di bawah dari beras Pulu' Mandoti. 

"Saya pernah beli beras ketan di kota Enrekang, saya cium wanginya hampir sama dengan beras Pulu'Mandoti. Tapi setelah dikukus, rasanya tetap beda," papar Sri, salah satu konsumen beras Pulu' Mandoti.

Lawah <a target='_BLANK' href='//sariagri.id/article/topic/37339/Sawah.html'>sawah</a> padi Pulu Mandoti di dataran tinggi Enrekang, Sulawesi Selatan (SariAgri/Usman Muin)

Proses tanam dan pemeliharaan tanaman padi ini membutuhkan perhatian khusus. Masa panen hanya sekali setahun dengan usia tanam enam bulan. petani Desa Salukanan masih memakai cara tradisional dan bergantung pada musim hujan.

Penanaman pulu’ mandoti awalnya dilakukan secara organik oleh masyarakat di Desa Salukan. Barulah setelah tahun 80-an, Dinas Pertanian merekomendasikan penggunaan pupuk untuk penyuburan tanaman, sehingga para petani juga ikut menggunakan untuk pemupukan padi pulu' mandoti.

Baca Juga: Perkenalkan Pulu’ Mandoti, Beras Ketan Termahal di Indonesia
Melihat Potensi Pasar Pupuk Organik di Indonesia yang Masih Terbuka Lebar

Untuk memperkenalkan panganan Pulu' Mandoti, Pemerintah Kabupaten Enrekang memasarkan beras ketan tersebut dalam bentuk kemasan khusus.

Pulu’ Mandoti paling banyak dicari oleh orang-orang pendatang ataupun perantau untuk dijadikan oleh-oleh. Beras ketan ini biasanya dijadikan olahan pangan Sokko Mandoti, kuliner khas Enrekang, seperti nasi tumpeng. (Usman Muin/SariAgri Sulawesi Selatan)

Berita Pertanian - Baca Juga: Perkenalkan Sorgum, Tanaman Pangan yang Tahan Terhadap Musim Kemarau
Pakar: Benih dengan Postur Tinggi Cocok untuk Lahan Rawa

Video Terkait